Stigmatisasi “Gangguan Mental” VS  Terapi

/
/


Neswa.id-Beberapa waktu ini dunia hiburan diramaikan dengan pemberitaan berikut.

Fujianti Utami Putri divonis mengidap penyakit mental Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD sejak 2022 oleh psikolog.

Sumber : okezone.com

Fuji Utami mengatakan, meski tahu mengalami ganguan mental itu, ia tak mau menganggap itu sebagai kekurangan. Sebaliknya, ia menganggap hal itu sebagai berkat dari Tuhan.

Sumber : kompas.com

Headline media maupun paragraf utama sebuah artikel memang disengaja. Mengetuk rasa ingin tahu. Atau dibuat menguras emosi, menarik simpati de el el. Click bait istilahnya, menguntungkan media, membuat murung subyek berita.

Sayangnya, pemilihan diksi di mana gangguan mental diasumsikan sama dengan gangguan jiwa, seolah-olah hal itu sebagai substitusi, dengan perkataan yang lebih halus saja, dibanding ‘gila’?

Penggunaan diksi kesehatan mental yang dianggap kekinian, seperti mentalnya terganggu, cegil dan cogil, kena mental, inner child, menjadi gaya dan cara berbahasa yang saat ini seolah paling ‘gaul’.

Faktanya, semua istilah yang dikatakan itu bisa saja merupakan kenyataan. Dengan kondisi yang mungkin sudah terkategori berat.

Situasi makin pelik. Ketika ada kasus publik di mana penangguhan keputusan hukum tersangka kriminal diajukan. Dikemukakan, adanya pemeriksaan psikologis dengan hasil gangguan jiwa. Kenyataan itu mengkondisikan, (seolah-olah) mengakulah atau  palsukanlah pemeriksaan psikologis yang menyatakan mental terganggu, kita memiliki peluang lebih besar untuk dibebaskan dari jeratan hukum.

Kondisi ini telah menyebabkan bias pemahaman orang akan mental yang sehat. Ketika saya geregetan dengan hal tersebut, apalagi sebagai orang tua individu autistik yang juga ‘terbiasa’ dibilang anaknya ‘terganggu’, konten Dr Ema Surya Pertiwi di laman Instagram sungguh menyejukkan. Kontennya mengkritisi orang dengan gangguan jiwa yang selalu dicap negatif oleh masyarakat.

Menurut pemilik akun @emasuper ini, “Padahal gangguan jiwa sama saja dengan penyakit kronis lainnya, butuh terapi seumur hidup dan butuh support untuk pulih.”

Ema tak sekadar saja membuat konten itu. Dalam laman akunnya, dia berkisah tentang diri sendiri yang berprofesi sebagai dokter dan juga ODGJ, di mana 5 tahun berjuang menghadapi kondisi bipolar tipe 2 dengan halusinasi auditorik. Kondisi Ema memang spesifik. Punya gangguan mental, tetapi tetap mampu berkarya.

Bandingkan dengan konten Fuji yang sedang mengaku ADHD sebagai gangguan mental, tanpa ada follow up dengan penjelasan ahli di konten tersebut. Salah seorang pemilik akun yang merupakan orang tua dari anak yang didiagnosa ADHD menjadi bingung, apakah anaknya berarti terganggu mentalnya, meski untuk ADHD itu, anaknya dalam proses terapi, dan ada kemajuan untuk menjadi lebih baik

ADHD dalam DSM-5

Ingatlah, meski konten bertaburan tentang ciri, gejala, sebab gangguan mental tertentu di dunia maya; self diagnosis tak pernah dibenarkan. Diagnosis hanya dapat dibuat oleh ahli kesehatan mental, seperti psikolog atau psikiater, atau oleh penyedia layanan kesehatan primer, seperti dokter anak, untuk pasien anak-anak.

Jadi, apa itu ADHD? Beda atau samakah dengan autis? Apa ADHD itu kategori anak nakal? Apa mereka bisa hidup normal ketika dewasa?

ADHD memang sebuah istilah. Awam lebih menyebutnya sebagai anak hiperaktif. Istilah ini saja pernah menangguhkan anak teman saya untuk diterima di sebuah sekolah percontohan, dengan stigma hiperaktif sama dengan nakal.

Berdasar pemahaman DSM V, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) sesungguhnya merupakan gangguan perkembangan syaraf yang umum pada anak-anak. DSM sendiri adalah Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM); salah satu sistem yang paling banyak digunakan untuk mengklasifikasikan gangguan mental dan memberikan kriteria diagnostik standar.

Pada DSM-5 yang baru dirilis Mei 2013, ADHD, seperti juga autis masuk ke dalam golongan neurodevelopment disorders. Gangguan perkembangan syaraf pada masa tumbuh kembang anak, yang mungkin bertambah baik atau konstan, atau makin memburuk, tergantung seberapa dini, seberapa banyak intervensi yang dilakukan.

Anak-anak biasanya akan dianggap kategori ADHD bila sulit berkonsentrasi, bertindak impulsif, dan ekstra aktif, baik bergerak maupun berpikir. Beberapa malah mungkin overlapped dalam diri individu autis, menghasilkan individu autis yang juga hiperaktif.

Sebagai pengetahuan saja, digunakan 18 pertanyaan dalam checklist DSM-5 untuk menguji kemungkinan seseorang terdiagnosa ADHD. Terbagi dalam tiga penggolongan perilaku. Yaitu perilaku yang minim fokus, perilaku hiperaktif, dan perilaku impulsif.

Saya tidak akan memaparkan detailnya dalam tulisan ini, karena, tentu kita tetap perlu konsultasi ke psikolog untuk memahami ADHD. Tulisan ini juga bukan referensi lengkap penjelasan keilmuannya plus, agar pembaca tidak self diagnosis.

Hanya saja, beberapa poin yang sempat saya tengok di DSM-5 seperti ketidaktuntasan mengerjakan tugas, menghindari tugas atau aktivitas yang perlu banyak usaha atau beretos kerja, menggoyangkan tangan dan kaki saat duduk maupun berdiri, bicara tak henti-henti (paham maupun tidak konteksnya) tanpa bisa disetop, sering ‘menghilangkan’ benda-benda miliknya, kesulitan terlibat dalam sebuah permainan atau game, mudah lupa atas kegiatan sehari-hari; adalah perilaku-perilaku yang sangat umum bisa kita amati di sekitar, beserta embel-embel pemberian label kepada mereka.

Kenyataannya, apakah mereka yang menunjukkan perilaku itu terlihat terganggu mentalnya? Tentu, tak semua orang akan lugas mengatakan ya, dengan alasan bisa membuat orang tersebut tersinggung. Paling hanya bilang, ‘ya dia agak lain aja orangnya.’

Belakangan malah muncul istilah baru. Sahabat saya, Susi Fitri, yang juga dosen Bimbingan Konseling di Universitas Negeri Jakarta,  sempat mencetuskan bahwa teman-teman individu ADHD termasuk autis dikategorikan orang-orang neurodivergen.

Istilah nonmedis yang menggambarkan orang-orang yang otaknya berkembang atau bekerja secara berbeda karena alasan tertentu, dibanding yang normal. Dari definisi tersebut penjelasan gangguan mental yang dimaksud ‘disederhanakan’ menjadi cara kerja otak individunya yang berbeda.

Tentu lebih halus dibanding, ‘otaknya emang ga beres!’ untuk menunjukkan keputusasaan dalam menyikapi individu tersebut. Atau dengan cara paling mudah, berilah saja label malas, orang yang tidak bisa dipegang, semaunya sendiri, tak bertanggung jawab, dll.

Dengan kenyataan ada saja di sekitar kita dengan ciri di atas, lalu, bagaimana ‘hidup’ dan berinteraksi dengan individu ADHD?

Bila sudah dekat dengan ybs, saran untuk orang tersebut mengikuti terapi, akan baik adanya. Bila hanya mengenal keluarganya, bertukar pikiran tentang bagaimana menghadapi perilaku ADHD bisa menjadi pilihan.

Bila individu ADHD adalah siswa kita, carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang ADHD tersebut. Selain referensi psikologi, berdiskusi dengan keluarga, guru lain menjadi pilihan terbaik, termasuk petinggi sekolah bila diperlukan.

Bila individu ADHD adalah rekan kerja atau satu tim proyek, bagilah kerja sebijak mungkin. Beri tugas-tugas ringan yang cepat bisa diselesaikan, atau tetapkan pengingat akan apa yang dikerjakan. Sebelumnya diskusikanlah dulu mengapa dia tak diberi tanggung jawab yang lebih besar, dengan mengurai segala kelebihan dan kekurangannya

Sebagai anggota masyarakat maupun netizen, sebaiknya juga tidak sekadar sensasional berujar atau memberi komen terkait kesehatan mental. Istilah atau label itu punya kemungkinan juga mengurungkan niat seseorang untuk mengikuti terapi.

Bila satu persatu dari kita berusaha menciptakan kondisi yang kondusif untuk mendorong setiap individu memiliki kesadaran akan kesehatan mentanya, tentu keinginan teman-teman yang terindikasi gangguan mental untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dengan didukung terapi dan berbagai tindakan lainnya; akan lebih mulus untuk terwujud. (IM)


Ivy Sudjana Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *