Sayyidah Zainab : Perempuan Pemberani dalam Tragedi Kerbala (bagian 2)

/
/

Sayyidah Zainab : Perempuan Pemberani dalam Tragedi Kerbala (bagian 2)

Keputusan Husain untuk melakukan perjalanan ke Irak salah satunya karena ia menerima surat dari warga Irak secara berulang-ulang, yang berisi dukungan dan keinginan penduduk Irak untuk membaiatnya. Mereka juga menyatakan penduduk Irak bahkan enggan untuk hadir dalam salat Jum’at bersama gubernur Irak yang dipilih oleh pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah. Sebelum rombongan ahlul bait ini berangkat, Husain telah mengutus putra pamannya Muslim ibn ‘Uqail ibn Abu Thalib untuk memastikan bagaimana kondisi masyarakat Irak sebenarnya.

Muslim-pun berangkat dari Madinah bersama dua penunjuk jalan, namun di tengah perjalanan mereka tersesat dan kedua penunjuk jalan tersebut meninggal karena kekurangan air. Sementara Muslim sendiri akhirnya bisa menemukan air di sebuah perkampungan. Meskipun demikian, Muslim tetap melanjutkan perjalanan hingga Irak dan menginap di rumah warga pengikut Husain dari golongan syi’ah. 

Kedatangan Muslim membuat para pengikut Husain mendatanginya secara bergantian. Setiap kali kedatangan rombongan, Muslim membacakan surat dari Husain yang membuat mereka menangis mendengarkan surat tersebut. Sehingga mereka menjanjikan untuk memberikan dukungan dan membantu Husain dalam berperang serta akan menobatkan Husain sebagai khalifah yang sah. Jumlah mereka kurang lebih 12.000 orang. Kenyataan ini membuat Muslim mengirimkan utusan kepada Husain untuk mengabarkan kabar gembira ini.

Kabar ini sampai kepada Husain sehingga memantapkan dirinya untuk datang ke Irak bersama keluarga besarnya. Sementara itu, di sisi lain Yazid bin Mu’awiyah mulai menyadari jika apa yang terjadi pada masyarakat Irak akan mengancam kekuasaannya, sehingga Yazid segera memecat gubernur Irak saat itu Nu’man Ibn Basyir dan menggantinya dengan  Ubaidullah Ibn Ziyad. Yazid juga memerintahkan Ubaidullah untuk mencari Muslim Ibn Uqail dan membunuhnya. Ubaidullah pun berhasil membunuh Muslim dengan memenggal lehernya dan melemparkan kepalanya di hadapan khayalak ramai. Selain itu dia juga berhasil menguasai Irak dan pendukung Husain melalui ancamannya, sehingga mereka mencabut dukungan mereka kepada Husain bin Ali.

Perjalanan menuju Irak tidaklah dilalui dengan mudah. Rombongan Husain dan keluarga besarnya berjalan berhari-hari memasuki pedalaman padang pasir, memecah kegelapan malam sebelum melakukan perjalanan ke Irak, para sahabat dan keluarga seperti Ibnu Abbas dan Umar bin Abdurrahman sudah memperingatkan Husin untuk tidak meninggalkan Makkah. Bahkan Abdullah bin Ja’far suami Zainab binti Ali juga mencegah Husain supaya tidak pergi. Dia menulis surat kepada Gubernur Makkah untuk menenangkan hati Husain. Namun demikian Husain tetap teguh pendirian dan tetap berniat untuk melakukan perjalanan menuju Irak. 

Di tengah perjalanan Husain dan para rombongan bertemu dengan Abdullah ibn Muthi yang kemudian menyarankan Husain untuk tidak meneruskan perjalanan Irak dan tidak bertemu secara langsung dengan Bani Umayah.  Tetapi Husain tetap pada pendiriannya. Selain itu rombongan ini juga bertemu dengan dua orang Arab dan Bani Asad, dari merekalah diketahui berita bahwa Muslim telah dibunuh. Suasana menjadi haru dan menyedihkan, semua anggota rombongan-pun menangis. Setelah itu, Husain berniat untuk membawa rombongan kembali ke Mekkah, tetapi para saudara dari Muslim meminta untuk meneruskan perjalanan dan tidak mau pulang sebelum menuntut atas kematian Muslim.

Rombongan inipun terus berjalan, hingga kemudian mereka dihadang oleh utusan Ubaidullah bin Ziyad bersama seribu tentaranya. Perjalanan mereka terhambat, bahkan mereka berada dalam kondisi kehausan karena dihalangi untuk mengambil air di sungai Euphrat. Kemudian datang kembali 4000 tentara di bawah pimpinan Umar ibn Sa’ad in Abi Waqqassh yang juga utusan Ubaidullah untuk memaksa Husain berbaiat kepada Yazid. Berikut perintah Ubaidullah kepada Umar: 

“Jika Husain dan rombongannya mau mengakui Yazid sebagai khalifah yang sah, maka bawalah mereka kepadaku secara damai. Tetapi jika mereka menolak, maka seranglah mereka, bunuh dan cincang mayat mereka. Jika Husain terbunuh kerahkan kuda untuk menginjak-injak dadanya dan belakangnya…”. Umar yang juga berada di bawah ancaman gubernur tidak bisa menolak perintahnya, meskipun sebenarnya  dia juga mengharapkan perdamaian.

Akhirnya Umar memerintahkan bala tentaranya untuk menyerang sebelum matahari terbenam. Pada saat itu Husain sedang duduk di dalam kemahnya dan sempat tertidur karena merasa sangat letih. Sementara itu, sang adik Zainab binti Ali selalu waspada berada di dekatnya, tidak tidur dan terus berjaga. Zainab-lah yang mendengar suara gemuruh para tentara yang akan menyerang, sehingga dia segera membangunkan Husain yang sedang tertidur. Husain terbangun dan bercerita bahwa dia telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw. Dalam mimpinya Husain melihat sang kakek berkata bahwa hari ini dia akan menyusul beliau. Mendengar hal itu, Zainab pun berteriak dan merasa cemas, tetapi kemudian Husain berkata : “diam dan tenanglah, semoga Allah merahmatimu.”

Dalam suasana seperti ini, Husain memerintahkan kepada adiknya Abbas bin Ali untuk bertemu dengan para penyerang dan meminta untuk menangguhkan pertempuran hingga keesokan hari. Mereka melakukan ibadah di malam harinya, berdoa, membaca istighfar dan jika hari sudah siang mereka akan bertemu di medan pertempuran. Pemintaan ini-pun dikabulkan dan Umar ibn Sa’ad dan menangguhkan pertempuran sampai keesokan harinya.

Malam hari sebelum terjadinya pertempuran, Husain mendatangi para pengikut dan sahabatnya dan menawarkan mereka untuk meninggalkannya. Karena para tentara Ubaidullah hanya ingin mencari dan menangkapnya. Tetapi para sahabat ini bersikukuh untuk tetap bersama Husain. Suasana menjadi sangat mengharukan, Husain-pun menangis dan semua rombongan ikut menangis. 

Zainab dan para perempuan lain yang turut mendengarkan ikut bersedih dan menangis. Malam itu mereka mengisinya dengan salat dan membaca istighfar. Setelah itu Zainab berjalan berkeliling ke tenda tempat tidur keluarga dan saudara-saudaranya. Zainab selalu berjaga dan ia menyiapkan perbekalan, hingga kemudian fajar tiba dan pertempuran berdarah itu dimulai.



Leave a Reply

Your email address will not be published.