Pesantren dan Santri; Dinamika dan Sistem Pembelajaran II 

/
/

Pesantren dan Santri; Dinamika dan Sistem Pembelajaran II 

Mudzaakarah dan Muhaadlarah

Kegiatan pembelajaran siang hari di dalam kelas diteruskan pada malam hari. Dimulai pukul 19.30 WIB sampai 21.00 WIB para santri berkumpul di kelas masing-masing atau di tempat lain yang nyaman untuk melakukan pembacaan ulang (mudzaakarah) atas materi sebelumnya atau untuk mengerjakan tugas-tugas dari para ustadz. Kegiatan dipandu dan dibimbing oleh ustadz yang bertugas dan para mudabbiraat. Selain aktivitas pembacaan terhadap beberapa mata pelajaran, aktivitas lain seperti latihan berpidato atau paduan suara untuk kegiatan pentas dilakukan di malam kegiatan mudzaakarah ini.

Perlu diketahui bahwa mudzaakarah ini mempunyai dua makna dalam konteks pembelajaran di pondok; yakni kegiatan pertukaran pikiran tentang suatu masalah atau isu dan kegiatan pengulangan bersama-sama. Dalam konteks Pondok Pesantren Daarul ‘Uluum, makna dan maksud kedua lebih relevan, mengingat terkait maksud dan makna pertama, yaitu kegiatan pertukaran pikiran, forum mudzaakarah ini hanya dilakukan satu kali dalam sebulan yang melibatkan santri-santri senior.

Tawa canda dan cengkerama biasanya terdengar riuh dalam forum mudzaakarah ini. Canda berlebihan pernah dilakukan pada satu malam oleh seorang kawan laki-laki yang hadir ke kelas mudzaakarah dengan berkerudung. Entah ia memperoleh kerudung dari mana, tetapi yang jelas ia berusaha bergabung di shaf duduk para santriwati dan berusaha nimbrung obrolan pembelajaran dengan para santriwati yang akhirnya disadari oleh salah satu dari santriwati dalam kelompok yang ia datangi. Tanpa bermaksud melapor, para santriwati menceritakan hal itu kepada seorang ustadz, yang kemudian menyidang dan memberi sanksi atas perbuatannya itu. Para santriwati yang sebenarnya tidak bermaksud mengadukan itu merasa menyesal karena telah memberitahukan kejadian itu. Namun, si santri yang berulah itu bisa menerima dengan baik sanksi yang diberikan kepadanya.

            Forum mudzaakarah ini selalu dinanti oleh para santri karena suasana yang dihadirkan di dalamnya, juga kesempatan pendalaman materi yang diperlukan oleh para santri yang merasa belum baik dalam memahami materi di kelas. Selain forum ini, forum muhaadlarah merupakan forum lain yang sering dinantikan para santri. Muhaadlarah merupakan kegiatan yang bertujuan mendidik para santri agar terampil dan mampu berbicara di depan orang untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Forum ini disenggarakan pada setiap Jumat malam, mulai pukul 20.00 WIB sampai pukul 21.30 WIB. Mereka yang menantikan biasanya adalah para santri yang tidak sedang mendapatkan tugas berpidato dan menjadi moderator. Bagi mereka yang harus tampil, forum ini membuat tegang dan ingin segera dilalui. Memang di forum ini para santri yang tidak mendapat tugas berpidato akan senang menyimak rekan santri lain yang bertugas. Selain mereka ingin mengetahui perkembangan berorasi kawan-kawan mereka, juga mempunyai niat lain, yaitu meledek dengan deheman atau gurauan satu atau dua kata seperti ‘jayyid’ atau ‘tob’an. Hal demikian sebenarnya diperkenankan, namun lain jika hal itu diketahui ternyata sebagai godaan. Namun, memang secara keseluruhan para santri menantikan forum ini karena di forum muhaadlarah ini beberapa kemampuan boleh ditampilkan, seperti bernyanyi, berpuisi dan berkomedi. Ahh….forum yang mengharu biru banyak santri terutama santri yang merasa punya klik dengan seorang santriwati atau sebaliknya. Si penampil, terutama si santriwati, akan merasa grogi bercuap-cuap disaksikan oleh si santri yang ngeklik itu. Pada dua tahun pertama sejak perubahan sistem pembelajaran, forum  ini menggabungkan kehadiran baik santri laki dan santri perempuan bersamaan dengan perkembangan jumlah forum dari satu ke dua dan tiga. Dalam perkembangannya, forum muhaadlarah pernah dibagi dua untuk santri perempuan dan santri laki-laki, yang juga sempat disatukan kembali. Apa pun, dengan berbagai dinamika dan kehebohannya, muhaadlarah selalu berhasil membuat para santri senang dan terhibur.

Dinamika Rutinitas Mengurus diri dan Ancaman “Jaassus’”

Melalui berbagai kegiatan pembelajaran tersebut di atas, para santri memperoleh banyak ilmu pengetahuan agama dan umum. Ilmu yang tidak kalah penting yang mungkin sulit diperoleh di lembaga pendidikan lain adalah ilmu mengurus diri sendiri,  ber-akuitansi dan bersosialisasi secara mikro di lingkungan pesantren dengan para santri lain.

Urusan kamar mandi merupakan salah satu hal yang memberikan pelajaran dalam memahami dan bertoleransi antarsantri. Misalnya, setiap pukul 4 pagi Laila bergegas menuju kamar mandi untuk mandi pagi. Ia sering meletakkan gayung berisi sabun dan alat mandi lain di depan pintu kamar mandi ketika kamar mandi sedang digunakan. Laila sedang menunggu giliran. Ini dilakukan untuk memberi tanda bahwa ia akan menggunakan kamar mandi dan meminta santri lain mengantri di belakangnya. Tak jarang ia datang dan menemukan dua gayung atau lebih sudah berjejer di depan pintu kamar mandi yang ia ingin gunakan. Terpaksa ia ikut mengantri atau meninggalkannya, mencari kamar mandi lain yang mungkin kosong atau paling tidak dengan antrian lebih sedikit. Ya, para santri berbagi kamar mandi dengan sangat ketat dan disiplin. Meskipun ada saja intrik-intrik dan konflik, secara umum semuanya berjalan dengan baik dan tertib, di mana toleransi dan saling bertenggang rasa terpupuk.

            Untuk kegiatan lain, yaitu mencuci pakaian, sistem antrian seperti itu juga dilakukan. Jejeran ember kecil berisi pakaian kotor menjadi penanda para santri akan menggunakan kamar mandi, pancuran, atau kran-kran yang berjejer di luar kamar mandi untuk mencuci pakaian. Untuk mempercepat proses mencuci, kegiatan merendam pakaian dengan sabun yang dilakukan setelah mandi pagi merupakan kegiatan biasa. Di mana si santri akan kembali lagi pada pukul 6.00 pagi setelah mengikuti pengajian pagi untuk menyelesaikan cuciannya. Setelah itu baru kemudian mengambil makan pagi dan masuk kelas pukul 7.15 WIB. Terkadang ada juga yang mengambil jatah makan pukul 13.00 WIB setelah pembelajaran dan shalat dzuhur. Pukul 13.00 sampai 15.00 para santri mempunyai waktu senggang untuk meneyelesaikan urusan mereka masing-masing. Tanpa bermaksud mengatakan bahwa ini sebuah rutinitas yang membebani, inilah yang membuat Laila―yang memang mempunyai kegiatan pendidikan di dua tempat dan sering mengabaikan kebutuhan makan―menderita sakit maag yang cukup serius. Kegiatan atau rutinitas mengurus diri sendiri ini merupakan sebuah tantangan.

Peraturan pondok menerapkan sistem penggunaan dua bahasa asing dalam percakapan, baik di kelas maupun di luar kelas. Semua santri, termasuk yang baru bergabung, diwajibkan menggunakan bahasa Arab atau Inggris dalam berkomunikasi. Santri yang terdengar berkomunikasi dengan bahasa non-Arab atau Inggris akan menerima sanksi ta’diibaat, yakni berupa tugas pembersihan area-area tertentu di lingkungan pondok atau tugas menulis (insya). Para pembina mempunyai tugas berkelanjutan untuk memantau peraturan tersebut dan mereka selalu menjadi mata-mata (Jaasuus). Santri yang terciduk akan menerima sanksi salah satu dari dua tugas dan sekaligus menjadi Jaasuus. Santri Jaasuus akan berkeliaran untuk mengintai santri lain yang menggunakan bahasa non-Arab dan Inggris, mencatatnya dan melaporkan kepada pembina dan ustadz. Untuk itu, para santri sebisa mungkin mengetahui siapa saja yang sedang menjadi Jaasuus dan mengatur percakapan sebaik mungkin agar mereka tidak keceplosan berbahasa non-Arab dan Inggris. Para santri baru yang belum mahir berbahasa Inggris dan Arab secara gramatika tetap berusaha untuk menaati peraturan dan ini menghasilkan sebuah ungkapan yang sering mengundang tawa, seperti ‘ana fi idhrib’ yang maksudnya ‘saya dipukul’ atau ‘anaa fi qaala qaala-in’ yang maksudnya ‘saya dikata-katain’ atau digosipkan. 

            Di hampir setiap pondok pesantren, para santri mengatur waktu mereka dengan ketat, menjalankan proses pembelajaran, mengurus diri sendiri, dan mengikuti peraturan pesantren. Pembelajaran di kelas dipadupadankan dengan pembelajaran toleransi, berbagi ruang, waktu, dan rasa. Semua ini menjadi bekal para santri untuk menjadi insan bermartabat, beradab, dan bermanfaat, dengan tambahan ilmu-ilmu pengetahuan dan ilmu kehidupan di jenjang pendidikan mereka seterusnya baik di pendidikan tinggi bernuansa agama maupun umum. Bersama para alumni dari berbagai lembaga pendidikan umum dan keagamaan selain pesantren, para santri ini bergerak mengukir prestasi dan memberikan manfaat dan kontribusi mereka bagi pengembangan keilmuan dan peradaban, juga bagi kemajuan bangsa dan negara.



Leave a Reply

Your email address will not be published.