Merawat Lingkungan dengan Kesadaran Berpakaian

/
/


Neswa.id- Setiap minggu pagi, saya suka menengok lapak-lapak anak muda yang digelar menjajakan pakaian bekas. Lapak-lapak itu digelar di sepanjang jalan lalu-lalang orang-orang jogging menuju Situ Gintung. Harga pakaian bekas tersebut terjangkau, lima ribu sampai sepuluh ribu rupiah. Karena memang bekas, maka beberapa warna pakaian sedikit luntur dan seratnya agak melar. Namun ia masih sangat layak pakai. Masih sangat bisa dipadupadankan untuk outfit keseharian, kerja, maupun kuliah. Saya tak ragu membeli pakaian bekas disini. Selain karena hemat dan menyaksikan betapa sumringahnya wajah-wajah saat menawarkan dagangan, membeli pakaian bekas adalah usaha saya untuk merawat bumi—mengurangi limbah tekstil.

Limbah tekstil memang perlu mendapat perhatian serius. Salah satu penyebab berlimpahnya limbah tekstil adalah fenomena fast fashion. Masyarakat mengikuti tren berbusana yang sangat cepat berganti. Dampak yang dihasilkan limbah fast fashion sangat serius. Dibuktikan dengan data yang diperoleh Direktur Asosiasi Daur Ulang Tekstil Inggris, Alan Wheeler. Ia menuturkan bahwa industri pakaian telah berperan sebagai penyumbang polusi terbesar kedua di dunia. Ia juga menambahkan bahwa sebanyak 1,2 miliar ton emisi gas rumah kaca dihasilkan oleh industri tekstil di dunia. 

Untuk membuat satu kaos katun misalnya, dibutuhkan 2.700 liter air, yakni setara dengan kebutuhan air satu orang selama dua tahun. Data dari Fibre2Fashion menunjukkan, pada 2020 terdapat 19,6 juta limbah tekstil yang teronggok di tempat pembuangan akhir, dan laut-lah yang jadi tempat akhir. Sementara itu, Co-Founder dari Our Reworked World, Annika Rachmat menyampaikan data temuannya, yaitu sebanyak 33 juta ton tekstil yang diproduksi di Indonesia, satu juta ton di antaranya menjadi limbah tekstil.

Dahulu kita merasa keren, bangga ketika memakai pakaian warisan ibu atau ayah. Merasa ada energi dan kehangatan saat memakainya. Karena mengikuti fashion yang tak ada habisnya, kita jadi malu mengenakannya. Atau dulu, kita suka menjahit, menambal lubang atau sobekan pakaian. Sekarang, karena kita menginginkan kesempurnaan yang tanpa cela kecil pun—bekas jahitan yang kadang tak terlalu tampak, menjadi kerisauan tersendiri.

Gaya hidup minimalis—termasuk meminimalisir isi lemari, kini mulai digaungkan untuk membangun kesadaran lingkungan. Gaya hidup ini juga banyak manfaatnya; mengurangi emotional shopping, lebih mindful, dan memperkecil pengeluaran. Beberapa tipsnya adalah membeli pakaian yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya kita, dan memperlakukannya seperti pakaian seragam. Misal, dua kemeja untuk kuliah, dua kaos untuk di rumah, dan dua dress untuk pesta. Tidak perlu malu untuk pakai yang itu-itu saja.

Saya kagum dengan para kiai muda yang tetap istikamah memakai pakaian simpel dan elegan: kemeja putih. Tampak sederhana namun tetap berwibawa. Kemeja putih adalah pakaian yang hampir wajib sebagai kultur pesantren. Gus Baha, misalnya. Kemana pun beliau mengisi pengajian, beliau selalu hadir dengan kemeja putih. Sangat sederhana tampilannya, namun tak diragukan lagi keilmuan dan cara pandang beliau. Demikian pun Gus Kautsar, Gus Iqdham, dan lainnya.

Meminimalisir pakaian berhubungan dengan sikap zuhud dan qana’ah. Hawa nafsu kerap mengunci batin kita untuk memiliki berbagai macam jenis pakaian. Sikap zuhud menjadi pegangan agar tidak terlalu terikat dengan dunia. Sikap qana’ah menjadikan kita merasa cukup. Perilaku ini akan berdampak pada pengurangan limbah tekstil dan menjadi wujud merawat bumi. Menjadi khalifah yang bertanggung jawab. Nah, saya juga masih tertatih-tatih dalam hal ini. Wallahu A’lam (IM)


Farida Novita Rahmah Avatar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *