,

Membaca Gerakan GUSDURian; Euforia Solidaritas Kemanusiaan

/
/

GUSDURian

Apa yang terlintas dalam benak ketika mendengar kata Gus Dur? Bagi orang yang hidup tahun 90-an, sosok Gus Dur masih sangat membekas dalam ingatan ketika ia menjadi ketua PBNU, ketuka DKJ (Dewan Kesenian Jakarta), hingga menjadi presiden yang cukup fenomenal. Menjabat sebagai presiden selama 2 tahun, ada banyak sekali kebijakan yang sudah dilakukan oleh Gus Dur, yang pada masa itu merupakan gebrakan pembaharuan, baik di bidang sosial, hukum, ataupun ekonomi.

Salah satu kebijakan yang dilakukan oleh Gus Dur ketika menjadi presiden yakni pada tahun 2000, mengeluarkan Peraturan Presiden No.6/2000 yang mencabut instruksi Presiden No.14/1967 yang dikeluarkan pemerintah Soeharto. Isi Inpres no.14/1967 adalah larangan segala bentuk ekspresi agama dan adat Tionghoa di tempat publik. Melalui Perpres yang dikeluarkan oleh Gus Dur, etnis Tionghoa bisa melakukan kembali budaya tradisional mereka. Tidak berhenti pada kebijakan itu, Gus Dur juga menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional pada tahun 2000.

Gebrakan pembaharuan tersebut membuka ruang toleransi cukup besar bagi bangsa Indonesia untuk menerima perbedaan yang dimiliki oleh Indonesia. Tionghoa memiliki kesempatan besar untuk melakukan kegiatan dan aktifitas berdasarkan keyakinan dan budaya yang dimiliki. Atas dasar itu, bukankah kebijakan tersebut merupakan hal yang cukup sentral dalam menjaga keutuhan NKRI? Benar saja, penulis baru memahaminya bahwa Gus Dur adalah orang yang melampaui zaman. Kita yang masih berpikiran di titik A, sedangkan Gus Dur sudah berada di pikiran Z. Bukan Gus Dur yang terlalu jauh, tapi kita yang tidak bisa menjangkau kecerdasan dan kearifan yang dimiliki oleh Gus Dur.

Bukti kecil di atas itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan upaya kemanusiaan yang dilakukan oleh sepanjang hidupnya sebagai manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. Penulis menggambarkan sosok Gus Dur secara subjektif dengan melihat berita di televisi beberapa tahun lalu. Seorang anak kecil yang menonton presiden keluar dari Istana dengan menggunakan kaos oblong dan celana pendek. Pemandangan yang cukup menarik bukan diperlihatkan oleh orang nomor 1 di Indonesia?

Barangkali kita melihat Gus Dur adalah orang yang tidak mau berjuang untuk kekuasaan dan gampang menyerah atas keadaan yang menimpanya. Tapi anggapan sekilas itu nyatanya payah dan sangat tidak benar. Sebab yang diperjuangkan oleh Gus Dur adalah tidak boleh ada pertumpahan darah hanya karena kekuasaan. Kalimat yang paling diingat untuk menggambarkan, betapa bijaksananya seorang Gus Dur adalah, “Tidak ada jabatan yang perlu dipertahankan mati-matian.” Sepeninggal Gus Dur tahun 2009 silam, siapa yang akan meneruskan aksi kemanusiaan yang dilakukan oleh Gus Dur?

Gusdurian dan gerakan sosial

Sampai hari ini saya selalu bertanya, siapa tokoh Indonesia yang dalam perayaan kematiannya diperingati seperti Gus Dur? Hampir semua penjuru Indonesia pada rentang bulan Desember hingga Januari, memperingati kematian Gus Dur. Penulis tidak kemudian mengkultuskan Gus Dur sebagai sosok ataupun tokoh. Akan tetapi, pada faktanya, upaya-upaya kemanusiaan yang dilakukan oleh Gus Dur semasa hidupnya, menjadi inisiator gerakan para GUSDURian untuk melanjutkan perjuangan yang sudah dilakukan.

GUSDURian merupakan sebutan bagi para individu, kelompok, ataupun komunitas pecinta Gus Dur, yang menjadikan nilai-nilai Gus Dur dalam melakukan aksi kemanusiaan di lingkungannya. Bagi penulis, menjadi GUSDURian adalah panggilan jiwa yang selalu menyertai tatkala melihat ketidak adilan terjadi di lingkungan, merasakan keresahan karena ketimpangan sosial, dll. Sejauh ini, Jaringan GUSDURian selalu menunjukkan kesiapsiagaan kepada banyak peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang terjadi.

Menilik kembali pada masa Covid-19, gerakan peduli kemanusiaan yang digagas oleh GUSDURian peduli, menjadi salah satu gerakan masyarakat sipil untuk merajut persaudaraan, menguatkan solidaritas di tengah ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah yang begitu besar dalam penanganan pandemi Covid-19. Tidak hanya itu, kasus-kasus intoleransi agama yang juga menjadi salah satu masalah keberagamaan masyarakat Indonesia, seperti penolakan masji Ahmadiyah, penolakan pembangunan gereja, GUSDURian hadir dan terlibat dalam isu tersebut sebagai salah satu upaya kemanusiaan yang dilakukan. Terbaru, gerakan kemanusiaan yang dilakukan oleh GUSDURian adalah aksi peduli kepada korban tragedi Kanjuruhan Malang yang menyita banyak perhatian dunia.

Upaya tersebut bukan sekedar untuk pamer eksistensi belaka. Akan tetapi, langkah besar yang selalu dilakukan oleh GUSDURian menjadi salah satu bukti bahwa Gus Dur, yang dikenal sebagai bapak pluralisme, melalui ide dan gerakan yang sudah dilakukan semasa hidupnya, sampai hari ini terus menebar manfaat di segala spektrum kehidupan. Gus Dur sudah meneladankan, saatnya kita melanjutkan.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *