,

Maulid di Maroko: Bentuk Cinta yang tak Harus Seragam

/
/

Maulid di Maroko: Bentuk Cinta yang tak Harus Seragam

Quumuu…Quumuu…Tamdahuu lillaah! Yaa ‘Asyiqiin li Rasulillah! Hadzihi saa’ah min saa’atillah, yahdhuru fiihan nabiy Rasuluullah!

Mari bangun! Bangunlah dan mari memuji Allah! Wahai para perindu Rasulullah! Ini adalah saat yang Allah berikan! Saat Nabi, Rasulullah hadir di antara kita!

Lantunan madih, kalimat puji-pujian kepada Allah dan Rasul-Nya terdengar memenuhi gang sekitaran rumah. Anak-anak kecil itu bergerombol, berbahagia, sambil membawa dan memainkan darbuka beserta alat-alat musik lainnya. Mereka mengetuk satu per satu rumah warga, menyanyikan ajakan bersyukur dan berselawat untuk menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Beberapa anak perempuan membawa mangkuk kecil berisi pasta henna. Biasanya, orang dewasa yang mereka temui akan memberi hadiah kecil seperti permen atau uang koin satu dirham. Kemudian, telapak tangan orang-orang dewasa itu diberi pasta henna, dioles tepat di tengah-tengah.

Alhamdulillah, berkat kuasa Pengeran, tahun ini saya dan beberapa teman mahasiswa Indonesia bisa sedikit turut merasakan kebahagiaan Hari Maulid Nabi Muhammad Saw. di Taurirt. Kota yang tidak terlalu besar di daerah timur Maroko. Jaraknya sekitar 120 km dari Oujda, kota tempat tinggal kami. Biasa ditempuh selama 1 setengah jam dengan kereta antarkota.

Selasa sore kala itu 19 Oktober 2021, kami sampai di Taurirt. Disambut langsung oleh Khadijah, teman satu kelas, tuan rumah yang mengundang kami untuk datang ke kotanya. Sebagaimana kota-kota lain di Maroko, Taurirt cantik dengan bangunan kotak-kotak dan langit biru yang cerah. Ditambah lumayan banyak pohon palm di pinggir jalan. Saya kira, kalian bisa ‘kan, membayangkannya?

Di rumahnya, kami langsung disuguhi teh panas khas Maroko (rasanya sedikit berbeda dengan teh yang biasa kita minum di Indonesia), susu murni segar, dan kurma. Katanya, tiga hal ini memang suguhan yang biasa mereka berikan pada tamu-tamu yang datang.

Sesuai budaya dan kebiasaan yang sempat tuan rumah jelaskan juga, kami disuguhi banyak sekali makanan. Ini mengingatkan saya pada cerita sahabat tentang dawuh Ibu Nyai Hj. Maimunah, Besuk Pasuruan :

“Lek muludan jajane sing apik-apik, ojo sak karepan, soale sing diselamati pemimpine wong sak dunyo.” Kalau (acara) Maulid Nabi Muhammad Saw. sediakan jajan yang enak-enak, jangan hanya seadanya, karena yang disyukuri adalah pemimpin orang-orang sedunia.

Kami duduk melingkar mengitari meja ketika makanan disediakan dalam satu piring utama dan beberapa piring untuk makanan sampingan. Suguhan ini, sekiranya saya tidak salah hitung, ada lima sesi yang setiap selesai satu sesi, piring utama diambil dan diganti piring utama sesi selanjutnya.

Pertama (atau kedua jika kita menghitung teh, susu, dan kurma tadi sebagai satu babak yang berbeda), adalah halawiyyat. Kue-kue dan jajanan manis. Terdiri dari berbagai macam dan bentuk kue. Ada juga milwi. Makanan semacam roti maryam tapi lebih putih, tebal, dan lembut. Biasa dimakan dengan selai coklat, kacang, keju, atau bahkan telur dan minyak zaitun. Milwi biasanya dijual di pedagang kaki lima di pinggir jalan (namun milwi homemade buatan ibu-nya Khodijah jauh lebih enak).

Kedua, Mrdud (ditulis seperti kata “mardud” namun dengan harokat mim yang tidak terlalu dibaca). Ini adalah makanan khas Maroko timur yang biasa dihidangkan di Hari Maulid Nabi Muhammad Saw. Terbuat dari tepung yang dibentuk bola-bola kecil dan ditambah kuah makanan khas Maroko. Biasanya, disediakan juga topping di piring kecil. Satu piring kecil berisi samin, semacam minyak beku atau mentega. Satu piring kecil yang lain berisi laban, susu yang agak kental dan rasanya kecut, yang dikeringkan sehingga berwarna coklat dan berbentuk hampir seperti bubuk.

Ketiga, salad sebagai makanan penutup dari mrdud. Makanan yang dimasak manis ini dibuat dari nasi yang dibentuk di tengah-tengah piring. Di atasnya diberi beberapa potong tomat dan di sekelilingnya ada potongan-potongan sayur. Seperti wortel, kentang, kacang panjang, dan sosis.

Setelah makanan yang kami kira adalah makanan penutup tadi, tuan rumah menghidangkan makanan keempat. Ayam panggang bumbu khas maroko dan sedikit kuah dengan kacang-kacangan. Enak!

Kelima, ini terakhir, kami disuguhi makanan penutup yang sungguh-sungguh penutup. Buah-buahan yang dihidangkan di satu piring besar.

Bentuk cinta memang tak harus seragam, apalagi cara kita mencintai dan bergembira atas hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana cara anak-anak kecil di Maroko menyampaikan keceriaan mereka yang saya lihat di akhir hari itu, dan sudah saya ceritakan di paragraph pertama tulisan ini.

            Selamat berbahagia di Bulan Maulid! Allahumma sholli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala aalihi!




Leave a Reply

Your email address will not be published.