,

Ihwal Damai dalam Tenggang Rasa*

/
/


Toleransi merupakan istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Memaknai sikap toleransi nyatanya masih harus terus dikonsolidasikan dan ditanamkan kepada setiap individu agar tidak terjadi ketimpangan antara banyaknya perbedaan, baik itu perbedaan etnis, agama dan lain sebagainya.

Toleransi berasal dari Bahasa latin tolerar yang berarti menahan diri, bersikap sabar, menghargai pendapat orang lain, berhati lapang, dan tenggang rasa terhadap orang yang berlainan pandangan atau agama. Dalam Bahasa arab disebut tasamuh artinya kemurahan hati, saling mengizinkan, saling memudahkan. Menurut Umar Hasyim, toleransi diartikan sebagai pemberian kebebasan kepada sesama manusia atau kepada semua warga masyarakat untuk menjalankan keyakinan dan sikapnya dalam menentukan jalan hidupnya masing-masing, selama di dalam menjalankan sikapnya tersebut tidak bertentangan dengan syarat dan asas terciptanya ketertiban dan perdamaian masyarakat.

Secara umum toleransi mengarah pada sikap terbuka dan mau mengakui ada berbagai perbedaan, baik suku bangsa, warna kulit, bahasa, budaya, serta agama. Demikian fitrah dan sunnatullah yang telah Allah firmankan dalam surah al-Hujurat 13. Di titik inilah Islam hadir sebagai rahmat lil ‘alamin mendatangkan kedamaian dan menghindarkan berbagai macam konflik. Islam tidak membeda-bedakan penghormatan terhadap setiap orang apa pun agama yang dianutnya. Perlakuan dan penghormatan yang diberikan tetap sama selama mereka tidak memerangi Islam.

Sebuah hadis mengisahkan bagaimana agung akhlak Nabi terhadap orang Yahudi sekalipun, “Sesungguhnya ada jenazah yang lewat di hadapan Rasulullah, kemudian Dia berdiri menghormatinya. Kemudian dikatakan padanya: Sesungguhnya jenazah itu adalah orang yahudi”. Rasul menjawab: Bukankah dia juga manusia”. Rasulullah mengajarkan kepada umatnya semestinya Islam adalah yang membawa kedamaian,  sehingga agama lain yang hidup berdampingan dengan Islam akan memperoleh kedamaian pula. Mengutip pernyataan Habib Husen Ja’far al-Hadar bahwa “Jika kita tidak menemukan alasan untuk bersatu dengan orang lain, baik itu karena agamanya, karena imannya, atau lainnya, maka cukup persamaan kita sebagai sesama manusia menjadi landasan untuk bersatu, merangkul dan menjalin persaudaraan.” Toleransi merupakan sikap terbuka dalam menghadapi perbedaan, terlebih  dalam hal keyakinan. Islam adalah agama yang jelas dan gamblang tentang semua ajaran dan bukti kebenarannya, sehingga tidak perlu memaksakan seseorang untuk masuk ke dalamnya. Orang yang mendapat hidayah, terbuka, lapang dadanya, dan terang mata hatinya pasti ia akan masuk islam dengan bukti yang kuat. Dan barang siapa yang buta mata hatinya, tertutup penglihatan dan pendengarannya maka tidak layak baginya masuk Islam dengan paksa.

Selain toleransi beragama terdapat pula ayat yang menjelaskan tentang toleransi dalam hubungan antarmasyarakat baik satu agama maupun dalam bentuk perbedaan lain. Alquran menjelaskan bahwa Kaum muslimin harus tetap berbuat adil walaupun terhadap orang-orang kafir dan dilarang menzalimi hak mereka. Hal ini dijelaskan dalam surah al-Mumtahanah ayat 8-9 bahwa selama orang-orang kafir tidak menyatakan permusuhan secara terang-terangan kepada kaum muslimin, dibolehkan kaum muslimin hidup rukun dan damai bermasyarakat dan berbangsa dengan mereka. Ayat tersebut juga menjelaskan bahwa orang-orang Islam hendaknya berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi mereka karena agama dan tidak pula mengusir mereka dari tanah airnya. Berdasar kalam-kalam suci tersebut mengajarkan bahwa Islam sebagai rahmat seluruh alam menjadi poros bagaimana bersikap toleran, baik dalam kehidupan sosial maupun agama.

*Artikel ini adalah hasil kerja sama neswa.id dengan Jaringan GUSDURian untuk kampanye #IndonesiaRumahBersama



Leave a Reply

Your email address will not be published.