Yauman Ma Kuntu Islamiyan Part (7)

Pameran Buku

Syekh Ahmad berjuang meyakinkan Ayah untuk mengizinkannya mengajak kami, aku, saudaraku, juga anak-anak kecil lainnya untuk pergi ke Ma’radh Kutub Dauliy, Pameran buku Internasional. Sebuah perjuangan yang tidak mudah. Pameran buku ini membuatku takjub, karena untuk pertama kalinya aku melihat pameran buku sebesar ini. Sangat besar.

Sebelum berangkat, Syekh Ahmad membaca doa, berdzikir, dan mengucap istighfar. Beliau juga meminta kami untuk mengucap istighfar di sepanjang perjalanan yang kami lalui ke area Pameran buku. Tak pernah sekalipun aku melihat dia segelisah ini. Ketika kami memasuki pintu gerbang, kulihat ada puluhan anak muda dengan penampilan yang tidak jauh berbeda dengan penampilan Syekh Ahmad, lengkap dengan jenggot mereka. Truk-truk tentara diparkir di beberapa sisi area pameran, dengan kotak-kotak hitam di bagian belakangnya. Di sekitar truk-truk itu, beberapa tentara dan polisi berdiri dengan senjata mereka dan seragam yang berbeda dari seragam yang dikenakan oleh polisi polisi yang bertugas di jalan raya.

Kami berjalan berkeliling, hinggap dari satu stand ke stand lain, dan membeli beberapa buku. Sebagian buku dipilih dengan petunjuk Syekh, sebagian lagi adalah pilihan kami sendiri. Aku seperti anak kecil yang menari gembira di malam lebaran, tertawan dengan banyaknya ruangan besar yang penuh dengan buku. Ruangan dengan hiasan buku ini terasa bagai duniaku yang sesungguhnya. Dunia yang berisi laki-laki dengan jenggot panjang mereka, atau perempuan dalam hijab rapat mereka. Dunia yang diriuhkan oleh alunan suara nasyid. Ada puluhan judul buku yang berbicara tentang ummat, jihad atau dakwah. Semua yang ada di dalamnya bergerak dalam senyum dan salam, juga ucapan “Jazakumullah khairan”.

Tangan-tangan kecil kami mulai kelelahan membawa tas berisi buku. Tetapi kami masih bersemangat untuk berkeliling, melanjutkan petualangan kami dari satu stand ke stand lain, dari satu ruangan ke ruangan lain. Hingga kemudian seorang polisi menghalangi langkah kami, memerintahkan kami untuk mengikuti dia bergerak menuju kerumunan polisi, dengan jabatan yang lebih tinggi dari polisi yang menghadang kami. Para polisi ini duduk di bawah payung besar di samping truk.

Salah satu dari mereka kemudian mengajukan pertanyaan kepada Syekh Ahmad dengan nada yang kasar. “Siapa namamu? Di mana alamatmu?” sambil memeriksa kartu identitas Syekh dan buku-buku yang dia beli. Aku adalah anak terbesar yang berdiri di dekat polisi yang bertanya itu. Aku tidak suka dengan sikap yang dia perlihatkan, terlebih karena aku terkena kepulan asap rokoknya secara langsung. Polisi itu memandangku dan tersenyum dengan senyuman yang dibuat-buat, penuh rekayasa. Lalu bertanya, “Ya Habibi, Apakah Babamu tahu kalau kamu pergi ke Pameran Buku bersama Ammu ini?”

Kujawab pertanyaan itu dengan kasar. “Baba yang memintaku menemani Syekh ke sini. Anda tahu? Baba adalah Kapten di angkatan bersenjata Mesir”.
“Baiklah! Tunjukkan padaku, apa yang kamu beli.”
Kukeluarkan sebuah buku dengan judul, Bagaimana Membuat Bom. Lalu sebelum dia sempat mengatakan apapun, aku tatap matanya dan kukatakan, “Aku membeli buku ini supaya bisa mengusir Yahudi dari tanah Palestina!”

Tampaknya, jawabanku bisa membuat gentar polisi itu. Dengan senyum melecehkan dan isyarat matanya, dia memperingatkan kami untuk berhati-hati. Kemudian mengembalikan kartu identitas Syekh dan membiarkan kami melanjutkan langkah.

Situasi ini menjadi premis awal yang mengantarku memahami kosa kata “ditangkap” atau “Amnud-Daulah”. Keamanan Negara, sebuah istilah untuk orang-orang yang bekerja di bidang keamanan, seperti Polisi atau Tentara. Akan tetapi di Mesir, kata ini lebih menunjukkan konotasi arti bagi Inteligen negara. Pertemuanku dengan mereka ini menjadi pengalaman pertama bagiku untuk berurusan dengan pemerintah. Bagiku, merekalah yang telah mencegah kami untuk maju dan berjihad di Palestina.

Pengalaman ini semakin meyakinku, bahwa jalan yang kutempuh ini adalah jalan kebenaran. Suatu hari nanti, aku akan bertemu dengan mereka lagi. Pasti! Bertemu dengan tatapan mata yang tajam dan kejam. Sekilas tatapan itu tampak seperti tatapan tajam dan berat dari para perokok ketika menghembuskan asap rokok mereka ke udara. Bibir yang menyunggingkan kebencian atau cacian kepada semua orang dari duniaku. Kebencian yang jauh lebih dalam dari kebenciannya kepada makhluk apapun di dunia ini. Maka, jika nanti aku tidak bertemu dengan mereka lagi, itu artinya aku sudah mengambil jalan yang salah! Aku berada di jalan kesesatan.

Buku-buku yang kami beli rata-rata ditujukan untuk anak dengan usia 12 tahun. Ada buku-buku tentang kisah para Sahabat Nabi saw, Para Tabi’in, Para Mujahid dan beberapa peperangan Islam. Kaset-kaset yang dipajang di pameran adalah kaset yang dahulu aku dengarkan ketika masih tinggal di Zaqaziq. Ada seri nasyid anak-anak dengan berbagai tema dan judul, lantunan rukun Islam, alam semesta, ilmu, kesuksesan hidup, kisah para Nabi dan Rasul, juga kisah hewan-hewan yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Termasuk nasyid tentang berbakti kepada orang tua, persahabatan, dan tentu saja nasyid-nasyid Palestina. Berbagai kasus Palestina, jihad atau anak-anak yang bersenjatakan batu.

Seri kaset Nida Wachida menjadi kaset pilihanku. Menurutku, kaset ini adalah kaset pilihan generasiku. Ketika melihat dua pemutar pita kaset ini, roda waktu segera mengembalikan kepalaku ke masa lalu. Kulihat surban dengan menara adzan di sekelilingku, juga Jihad dan peperangan di mana-mana.

“Islam telah memanggilmu.
Maka majulah, wahai Putra Islam
Agar dapat kau dengar panggilan itu.

Islam mengeluhkan kekerasan
yang asing baginya.
Memintamu untuk tetap bertahan
bersamanya.

Wahai Putra Islam….
Wahai Putra Islam……
Wahai Tombak di tengah berhala….
Wahai Hati,
Kasihi manusia”.

Lantunan bait-bait itu membuat mataku berkaca-kaca, lebih dan lebih….. hingga mengalir tak terbendung lagi. Ya! Aku adalah Putra Islam. Islam adalah Ayahku. Hanya Islam Ayah yang aku miliki. Jika ada tanah yang kurindukan, tentu tanah Palestina. Meski kebesarannya hanya dapat ditemukan nanti, di akhirat. Bukan di sini, bukan di dunia ini.

“Wahai manusia,
Apakah engkau akan menangis ketika menangisiku?
Tidakkah kau lihat apa yang telah terjadi?
Di dunia yang membingungkan ini?

Keputusasaan mengirimkan harapan
Menggoncangkan seluruh tatanan
Mata meninggalkan tidurnya
Hati meninggalkan rasa amannya

Di sana kulihat para kekasih hatiku
Menerima berbagai bentuk hinaan

Sementara di sini,
aku berada dalam keterasingan,
tanpa kekuasaan apapun untuk menolong mereka!”

Tidak ada bualan dalam bait-bait nasyid ini. Hanya gambaran akan tangisan anak kecil, yang tengah berada di dalam suasana dengan peluru yang berdesingan serta berbagai senjata yang meledak. Sebuah suasana yang menerbitkan rasa iba, di antara kalimat-kalimat yang menggantung di udara, “Tolonglah Kosovo”.

Atau buku dengan sampul yang menempel erat di dalam bilik kenanganku, “Pembantaian Chechnya”. Senjata laras panjang Serbia yang membasmi jasad-jasad di depannya, sebuah catatan dari orang yang masih diberi kehidupan. Nasyid ini ditutup dengan letusan senjata yang bersarang ke tubuh mereka. Aku nyaris bisa merasakan lubang itu di kepalaku, setiap kali mendengarkan nasyid ini.

Meskipun semua nasyid ini tidak lagi menghantui mimpi-mimpiku seperti sebelumnya, tetapi masih kuat dan berhasil mengguncangkan jiwaku, semakin menguatkan tekadku.

“Khandaq adalah kuburanku
dan kuburanku adalah khandaqku
Kapankah senjataku akan melepaskan pelurunya?
Kapankah?
Nyala api telah memenuhi wajah sore.”

Hingga kemudiankata-katanya melembut dan berakhir dengan lantunan:

“Bagi-Mu,
Wahai Ya Rahman
Untaian laguku

Maha suci Engkau
Wahai yang Maha Tinggi
Aku memohon kepada-Mu
Dengan hati yang berbicara
Yang bosan dengan siksa belenggu”

Nasyid baru Musthafa Mahmud, “Setelah kebisuan yang tak kuinginkan” tidak kalah menariknya. Nasyid ini memilih untuk menggunakan bahasa Ammiyah. Tetapi kata-katanya terdengar sekuat bahasa fushah.

“Usailah sudah keheningan
Lahar mulai mengalir dan memberontak
Akan tiadanya cahaya di dunia ini
Akan tiadanya suara kebenaran di dunia ini
Lepaskan tanganmu, wahai kedzaliman
Ayo segera

Lidahmu, diamlah kamu
Biarkan suara kebenaran meninggi
Di tengah api
Tanpa pengawasan
Setelah bertahun-tahun lamanya dia membisu.
Sudahlah
Biarkan kami berbicara

Dan kamu
Dengarkan kami
Tanpa senjata atau peluru
Yang akan mampu melarang kami

Setelah kebisuan
Setelah kebisuan
Oh….. betapa lamanya kebisuan ini”

*Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *