Yauman Ma Kuntu Islamiyan Part (6)

-6-
Sekolah dan Negara

Dua hal dari masa kecilku yang membuatku tumbuh dan terus bergerak, tetapi terasa mengganggu, yaitu bendera dan nasyid.
Aku ingat dengan baik bagaimana pandanganku tentang bendera. Bendera hanyalah sepotong kain yang berwarna, tetapi tidak memiliki makna. Siapapun tentu saja bisa berpendapat bahwa, “Merah menunjukkan darah syuhada yang mengalir ketika mempertahankan kemerdekaan Mesir, hitam untuk panjang dan kelamnya penjajahan, serta putih sebagai simbol akan kesejahteraan dan perdamaian. Sedangkan burung rajawali adalah simbol kekuatan Mesir”.

Bagiku, sekolah adalah dunia baru yang istimewa. Ketika duduk di kelas 4 atau 5 SD, aku menjadi anak istimewa sekolahan ini. Aku memiliki tugas khusus untuk membaca Al-Qur’an pagi dan beberapa bait sastra dalam kegiatan idza’ah, siaran sekolah, dengan semua siswa mendengarkan apa yang aku baca sambil berbaris di lapangan. Suaraku akan terdengar lantang dari pengeras suara. Kalimat pertama yang kubaca dan membuat dadaku bergemuruh adalah yaitu bait-bait Al-Manfaluthi,
“Inna churriyyah syamsun.
Yajibu an tusyriq fi kulli nafsin.”

Kemerdekaan adalah matahari
yang harus muncul dan bersinar dalam semua jiwa.

Bukan hanya idza’ah saja, aku juga istimewa di dalam kegiatan drama. Drama sekolah memberiku peran yang akan membuatku muncul di semua babak. Aku bisa memerankan tokoh utama dalam drama Sa’fan Al-Kaslan. Sa’fan Si pemalas, drama yang diambil dari materi pelajaran kelas 3 SD. Lukisankupun berkeliling dari satu kelas ke kelas lain. Kuas yang aku sapukan ke kanvas, akan bercerita tentang perkampungan Eropa yang menyala atau gambar Cinderela dengan tujuh kurcaci.

Tetapi, tidak ada satu halpun dari semua itu yang membuatku mencintai sekolah. Sekolah tak pernah mampu menjadi rumah kedua bagiku, seperti kata-kata yang tertulis di sampul buku terbitan kementerian pendidikan. Bagiku, semua terasa biasa-biasa saja. Perasaan ini tentu tidak biasa untuk seorang anak kecil. Aku tidak pernah suka berbaris, seperti teman-temanku yang harus berdiri di bawah sinar matahari. Aku bahkan tidak terbiasa dengan itu, karena selalu terlindung dengan berdiri di deretan idza’ah, dan menjalankan tugas membaca ayat Al-Qur’an dan Teks Sastra.

Terpilih menjadi petugas idza’ah ini pun tidak pernah kemudian membuatku semakin bersemangat, sehingga harus bangun lebih pagi, atau membuatku terbebani sehingga malas untuk bangun. Tidak. Bagiku sama saja. Tidak pernah satu kalipun aku peduli dengan semua itu. Setiap kali berbaris di lapangan, aku hanya terganggu dengan keharusan kami untuk menghormat bendera. Tiang yang berdiri di tengah-tengah halaman sekolah itu selalu menggangguku. Mengapa kami harus menghormati sepotong kain di ujung tiang itu?

Tetapi, yang lebih aneh adalah lagu yang mengiringi penghormatan bendera itu. Tak pernah sekalipun aku ikut menyanyikannya. Setiap ditanya, aku hanya akan menjawab dengan, “haram”. Atau bahwa isi lagu itu salah besar, dan tidak memiliki nilai apapun untukku. Bagaimana mungkin aku akan melantunkan, “Masr, Anti ghayati wal-murad? Menganggap Mesir sebagai tujuan dan harapanku?” Yang benar saja! Bagaimana mungkin kalimat itu bisa ditujukan untuk Mesir? Itu tidak mungkin.

Bagaimana mungkin aku akan berkata, “Kam linailik min ayyadi…… Betapa banyaknya limpahan nikmat yang aku dapatkan dari Nil-mu, Wahai Mesir.” Bukankah semua yang Nil berikan adalah bagian dari nikmat Allah? Allah-lah yang sudah membuat sungai Nil mengalir. Bukan Nil sendiri yang menginginkan dirinya untuk mengalir!

Akan tetapi masalahnya tidak berhenti sampai di situ. Perdebatanku masih terus berlangsung. Bukan hanya dengan teman-teman, tetapi juga dengan guru yang mengajar metodologi bahasa Arab, ketika beliau membahas teks Arab tentang cinta Mesir, Sang Ummud-dunya. Aku akan berdiri dan mempertanyakan teks sastra,


“tarawwa’tu tahta samaiha,
wasyaribtu min maiha,
watadzallaltu bidzilliha.
Hawauha chasan…. dan seterusnya.

Aku berlari di bawah langit Mesir.
Aku meminum airnya,
berlindung di bawah bayangannya.
menghirup udaranya yang sejuk…..

Aku kritik beliau. “Bukankah langit ini adalah langit Allah? Apakah ada tanah tanpa langit? Mengapa teks ini mengatakan bahwa langit Mesir berbeda dan lebih indah dibanding langit lain? Apakah ada tanah tanpa air? Atau tumbuhan tanpa bayangan?”

Guruku menatapku tajam ketika mendengar pertanyaan itu. Akan tetapi bukannya berhenti, aku justru melanjutkan, “Mengapa kita harus mencintai Mesir? Bukankah Mesir hanyalah sebuah bangsa, seperti bangsa-bangsa lain? Apa istimewanya Mesir? Mesir hanyalah satu dari ciptaan Allah. Seharusnya nama pelajaran ini adalah cinta kepada Allah, bukan cinta Mesir!”

Aku tidak ingat pernah mendengar pendapat itu dari siapa. Apakah dari Syekh Ahmad Sa’ad secara langsung atau bukan. Sampai sekarangpun aku tidak mengerti, bagaimana bisa kata-kata seperti itu menyelip di benakku dalam usia sekecil itu?

Akan tetapi, jawaban bijak Guruku masih aku kenang hingga kini. “Nabi Muhammad saw menyerukan umatnya untuk mencintai negaranya. Nabi saw keluar dari Mekkah dan bersabda, “Wallahi innaka laachabbul bilad ilallah waila nafsiy. Walaula anna ahlaka akhrajuni minka ma kharajtu.”
Demi Allah. Engkau adalah bangsa yang paling Allah cinta dan aku cintai. Jika bukan karena pendudukmu yang mengusirku, tak mungkin aku keluar darimu”.

Aku hanya terdiam, tidak bisa menjawab pejelasan beliau. Jawaban bijak itu kemudian menuntunku untuk semakin banyak membaca di kelas akhir SDku.

Akan tetapi masalahnya adalah, aku tidak merasa cukup hanya dengan melawan negara saja. Aku pun menunjukkan perlawanan yang sama kepada siapapun yang menunjukkan kecintaan mereka kepada Mesir. Aku tidak menemukan hadits yang menunjukkan kecintaan kepada negara, yang menyerupai hadis yang menunjukkan akan kecintaan Rasulullah kepada ummah, atau apa yang Rasulullah lakukan untuk ummah misalnya. Sementara kata ummah yang sudah terpatri dalam benakku sejak kanak-kanak, tidak pernah ada atau aku temukan dalam buku-buku sekolah. Hanya ada kata wathan Arabi (negara Arab) atau ‘Alam Islami (dunia Islam). Negara dan dunia bukanlah ummah! Yang menurutku, saat itu, definisi ummah adalah masyarakat yang terlihat aneh dan terasing.

Aku bisa berdiri berjam-jam di depan cermin, mengumpulkan kain dan kerudung ibu, kemudian mengikatnya di atas kepala. Membentuk surban besar berwarna, seperti yang kulihat dalam kisah-kisah bergambar, yang menceritakan sahabat dan pahlawan Islam. Aku akan menggunakan sapu sebagai pedang dan menggerak-nggerakkanya ke sana-kemari di ruang tamu.

Orang-orang yang ada di sekitarku hanya menganggapku sebagai anak kecil ketinggalan jaman. Anehnya, semua penolakan itu tidak membuatku terganggu dan berhenti. Aku masih menyenandungkan nasyid-nasyid kaset yang baru.

Ghazwatul furqan badrun
lilhuda fatchun wanashr
Ghazwatul furqan badrun
lilhuda fatchun wanashr
Ma bada lid-din fahrun
sathi’ bil-chaqqi mutsmir

Badar adalah Pembeda
Petunjuk akan pembukaan dan kemenangan
Badar adalah Pembeda
Petunjuk akan pembukaan dan kemenangan
Badar adalah kebanggaan Islam
Memancarkankebenaran yang menghasilkan kejayaan

Ayyuhat-tarikh raddid
qisshatal haq al muazzar
Syamikhan fi yaumi badrin
hatifan Allahu Akbar
hatifan Allahu Akbar

Wahai sejarah, gemakan
Kegemilangan kisah akan kebenaran
Kebanggaan akan hari-hari Badar
yang menyerukan Allahu Akbar
yang menyerukan Allahu Akbar

Baru beberapa tahun kemudian aku mengerti. Aku dahulu adalah aku yang terjebak dalam nostalgia, aku yang memusuhi negara yang telah merampas hak Allah akan ummah, dengan memusuhi simbolnya. Aku yang menganggap bendera sebagai berhala, karena menjadi negara yang harus dihormati setiap pagi oleh semua rakyatnya, dengan iringan lagu kebangsaan, yang dilantunkan di “kuil-kuil” negara ini. Pola pendidikan yang memaksa Mesir bergerak menuju modernitas, berbenah menjadi kiblat dunia dan pusat peradaban, seperti yang ditulis oleh buku-buku pelajaran yang digunakan siswa dalam “ibadah” mereka ketika “menyembah” negara ini”.

*Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *