Yauman Ma Kuntu Islamiyan Part (4 & 5)

– 4 –
Ke Kairo

Kami meninggalkan Zaqaziq dan pindah ke Cairo. Ketika pindah, pangkat Ayah adalah kapten angkatan bersenjata. Maka, kami pindah dan tinggal di perumahan untuk para perwira militer yang terletak di Nasr city.

Saat itu usiaku belum genap 8 tahun. Aku meninggalkan kota yang keempat penjurunya adalah perkampungan, untuk memasuki kota lain yang keempat penjurunya adalah padang pasir. Aku bukan anak-anak yang terikat dengan kebun atau pepohonan, sehingga kenanganku menghirup udara kampung biasa saja. Kedua mataku pun tidak kenyang dengan pemandangan petani sederhana, sampai harus merindukan suasana itu.

Sebaliknya, aku justru melangkah menuju kota, tanpa memalingkan wajah, kepada semua yang kutinggalkan. Sepertinya akarku tidak tertancap di tanah, jadi mudah saja bagiku untuk dicabut dan dipindahkan ke tanah lain, karena aku adalah anak yang tumbuh di udara.

Apartemen yang akan kami tempati lebih luas dari rumah kami sebelumnya, dengan taman yang menyenangkan dan sekolah baru.

Pada mulanya, kota baru ini hanya bisa aku definisikan dalam tiga suku kata, yaitu apartemen, taman dan sekolah. Setelah beberapa minggu kemudian, baru bisa kutemukan masjid yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah kami. Masjid yang berada di jalan yang sama dengan rumah kami. Dengan tanda yang tampak berbeda dari bangunan-bangunan lain yang ada di sekitarnya.

-5-
Masjid dan Umat

Sepertinya, tidak banyak kenangan shalatku di Zaqaziq yang tertinggal di sudut kenangan. Hubunganku dengan masjid Zaqaziq terputus setiap musim dingin, dan terhubung kembali pada musim panas ketika liburan sekolah datang. Namun belum pernah kurasakan bagaimana shalat shubuh berjamah di masjid Zaqaziq. Berbeda dengan kota baruku ini. Aku mulai sering berangkat ke masjid dan mengenal beberapa anak seusiaku, yang kemudian menjadi temanku. Setiap pagi kami akan berangkat sekolah bersama-sama, dan mengobrol sesudah shalat Maghrib dan Isya’.

Beberapa bulan kemudian, seorang anak muda dengan jenggot di wajah masuk dan shalat di masjid kami. Tubuhnya terlihat lemah. Dia memperkenalkan dirinya sebagai mahasiswa sebuah Universitas di Cairo. Sepertinya, usianya sekitar 22 tahun, sementara kami hanyalah anak-anak kecil dalam usia 5 atau 7 tahun. Dia memperkenalkan dirinya kepada kami, kepada ayah dan ayah teman-temanku, berusaha meyakinkan kami, agar diizinkan mendampingi shalat kami, dan mengajari kami tahfidz Al-Qur’an. Sehingga, kami pun mulai menghafal Al-Qur’an bersamanya setiap hari, sesudah shalat shubuh hingga matahari terbit.

Aku masih terkenang akan semangat yang aku miliki hari itu. Aku berjuang keras untuk tidur lebih awal, supaya besok bisa bangun lebih pagi dari biasanya. Ayah memberitahuku bahwa Syekh Ahmad Sa’ad, nama anak muda itu, akan mengajari kami menghafal Al-Qur’an setiap hari, sesudah shalat Subuh di masjid. Saat itu, aku sudah memiliki hafalan 3 juz, yaitu juz 28, 29 dan 30. Sehingga aku bisa menyempurnakan hafalanku bersama beliau.

Cuaca Kairo hari itu panas. Kami berada di awal liburan sekolah musim panas, untuk kelas 3 dan kelas 4 SD. Suasana tampak berbeda. Masjid menggelar karpet hijau barunya. Orang-orang yang berjama’ah di masjid Subuh itu terlihat berbeda, meskipun sebenarnya mereka adalah jama’ah yang sama. Jama’ah yang hadir setiap hari untuk shalat lima waktu. Tetapi di mataku pagi itu, mereka terlihat berbeda.

Setelah shalat, aku lihat ada beberapa orang yang duduk di dekat tiang, jendela atau bersandar di dinding masjid. Mereka semua membuka mushaf dan membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan tartil. Sedangkan kami duduk melingkar di sekitar Syekh Ahmad, di dekat jendela. Ketika kami hendak membuka mushaf, beliau melantunkan beberapa kata dengan suara sendu, menggumam dan meminta kami untuk mengikuti apa yang dia ucapkan setelahnya, “Allahumma bika ashbahna wabika amsaina, wabika nahya wabika namut, wailaikan-nusyur.”

Kami pun menirukan semua yang beliau lantunkan hingga selesai dengan doa, “Ashbahna ‘ala fithratil Islam wakalimatil ikhlash, wa’ala dini Nabiyyina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam wa’ala millati Abina Ibrahim chanifa wama kana minal musyrikin.”

Kata-katanya mengalir bagai cahaya, menyebar dan mengusir kegelapan angkasa, dari depan pintu masjid. Mataku memandang bergantian, antara jendela dan pintu yang terbuka. Mengamati perubahan cahaya secara perlahan. Perlahan, semburat sinar mulai muncul ketika kami menyelesaikan dzikir pagi.

Kami membuka mushaf, memperbaiki bacaan ayat-ayat baru dan memperdengarkan muraja’ah ayat-ayat yang sudah kami hafalkan sebelumnya, kemudian menambah hafalan baru. Ketika matahari muncul dengan sempurna, Syekh Ahmad akan beranjak dan meninggalkan kami sejenak untuk shalat Dhuha dua raka’at. Kami pun akan keluar menuju halaman masjid dan bermain. Berkejar-kejaran atau melakukan olah raga yang biasa kami mainkan sampai lelah.

Para penjual makanan keliling yang mengendarai gerobak akan memanggil-manggil dari ujung jalanan.

Mereka meneriakkan dagangannya berkali-kali,

“Kacang-kacang…… Jagung rebus…..”


Kami pun berlari menghampiri untuk membeli kacang dan jagung, kemudian masuk ke dalam masjid dengan membawa makanan-makanan itu. Tetapi tampaknya Ammu Ramadhan sudah menutup pintu masjid. Sehingga kami harus mengambil kayu kecil untuk membuka pintu besar itu. Kayu itu kami masukkan ke dalam lubang pintu secara perlahan hingga terbuka. Kemudian masuk dan mengambil piring-piring yang kami sembunyikan di antara tikar masjid, memakan semua biji kacang dan jagung itu dengan nikmat. Entah karena lapar atau lelah. Setelah habis, kami pun pulang ke rumah masing-masing, berjalan menyusuri jalanan, bertemu para penghuni kota yang mulai bergerak dan menyebar di jalanan, berangkat ke tempat kerja masing-masing, dengan jejak kantuk yang masih terlihat jelas di wajah-wajah mereka.

Lembar dzikir putih kecil yang Syekh Ahmad bagikan menua seiring membesarnya tubuh kami. Kemudian lembar dzikir itupun diganti dengan gulungan hijau yang terkenal. Aku lebih suka lembar dzikir versi baru ini. Dzikir yang paling aku suka adalah Sayyidul Isthigfar. “Allahumma Anta Rabbi. La ilaha illa Anta. Khalaqtani waana ‘abduk. Waana ‘ala ahdik wawa’dik mastatha’tu. A’udzu bika min syarri ma shana’tu. Abu-u laka bini’matika alayya. Wa abu-u bidzanbi faghfirli. Fainnahu la yaghfirudz-dzunuba illa anta”.

Halaman Al-Qur’an yang kami hafalkan, menjadi sungguh-sungguh seperempat mushaf. Hanya dalam waktu singkat aku bisa menyelesaikan hafalanku hingga surat Yasin. Masjid, yang jiwa kami terikat dengannya setiap hari, bertambah menjadi lebih luas dengan adanya perluasan di bagian dalam masjid. Kegiatan kami pun semakin banyak. Kami mulai menyiapkan wisata ke tempat bermain dan berolahraga, taman dan kebun, atau tempat-tempat wisata yang menyenangkan lainnya.

Masjid adalah dunia kecil kami, dengan seluruh makna yang dikandung oleh kata tersebut. Termasuk kata ummat, yang maknanya mengandung makna masjid. Kami harus menunggu masuknya waktu shalat setelah satu kegiatan, agar bisa segera menghambur ke dalam masjid kembali. Kami akan shalat berjama’ah, untuk kemudian bermain sesudahnya. Kecuali salat Shubuh dan Maghrib, kami tidak bisa bermain sesudahnya, karena harus mengkaji dan menghafal Al-Qur’an. Aku sudah beberapa kali mengumandangkan adzan. Kulihat para jamaah mengagumi adzanku, memujiku.

Aku sering mengamati para Syekh berjenggot tebal dan berwarna putih, atau syeh-syekh muda berjenggot tipis yang masih berwarna hitam. Mereka duduk melingkari sebuah maqra’ah, tempat di dalam masjid untuk membaca Al-Qur’an, atau tenggelam dalam putaran biji tasbih yang melingkar di jari-jemari mereka, menggumamkan tasbich dan tachmid.

Jama’ah yang shalat di masjid ini bukan hanya orang Mesir . Ada banyak orang asing yang membuatku merasa, bahwa kehadiran mereka di masjid ini adalah untuk menyempurnakan makna ummat yang sesungguhnya, di dunia kecilku ini. Ada jama’ah dengan kebangsaan Tajikistan, Afghanistan, Uzbekistan atau Chechnya. Aku mengenal kebangsaan mereka. Setiap hari, anak muda atau anak-anak yang masih kecil akan duduk bersama kami hingga terbitnya matahari. Mata mereka tidak akan terangkat dari mushaf yang mereka genggam dengan kedua tangan mereka kuat-kuat, seakan-akan tengah menggenggam tali kekang kuda yang sedang berjalan., penuh konsentrasi. Ada satu anak kecil seusiaku yang aku kenal dari mereka, namanya Saiful Islam. Aku suka memanggilnya dengan Kaukasusi, orang Kaukasus. Biasanya, rambut mereka jatuh ke kening, dengan perawakan tubuh yang kokoh seperti gunung dan menjulang tinggi.

*Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *