FiksiPilihan Redaksi

Yauman Ma Kuntu Islamiyan (Part 3)

– 3 –
Salsabil

Kutinggalkan tape yang berada di ruang utama apartemen kecil kami. Aku berjalan menuju ke salun, sebuah ruangan kecil yang tertutup, ke sebuah alat menakjubkan, seperti televisi. Tetapi tanpa wajah artis yang keluar dari layar tabungnya. Komputer terbaru XT100, sebelum Pentium. Komputer yang menggunakan dose, sebelum windows.

Tak pernah sekalipun aku temukan komputer seperti ini di rumah siapapun. Tidak di rumah teman-temanku, atau rumah-rumah lain yang aku masuki. Tidak banyak rumah di luar Kairo yang mengenal komputer, di awal tahun 90-an. Compact disk computer ini berwarna, hanya bisa digunakan untuk game sederhana. Itu pun sudah pencapaian tertinggi bagi anak yang hidup pada zaman itu.

Kulihat ada satu CD yang berbeda dari yang lain, di kotak penyimpanan CD. CD berwarna hijau dengan tulisan salsabil di sampulnya. Aku teringat, ketika pertama kali Ayah menggunakan computer ini. Layar hitamnya penuh dengan tulisan salsabil, dengan warna hijau yang sama. Ayah masuk ke dalam program utama computer, kemudian membuka mushaf 30 juz dalam program itu, utuh. Di sini, kamu bisa mencari kata apapun yang ada dalam Al-Qur’an Al-Karim. Program itu akan menampilkan hasil pencariannya untukmu. Dia akan menyebutkan semua ayat atau surat yang berbeda yang memuat kata yang kamu cari. Melihat itu, tamu-tamu yang datang langsung menggumamkan kata, “Subhanallah…… Allah….. Allah Akbar…. Walillahil-hamd” setiap kali Ayah menunjukkan program komputer ini kepada mereka.

Suatu hari, Ayah bercerita bahwa pemilik perusahaan penemu program komputer itu ditangkap. Aku belum pernah mendengar istilah ditangkap sebelumnya. Akupun belum pernah mendengar ada orang yang ditangkap. Akan tetapi cerita Ayah itu membuatku lebih memahami nasyid “ya Musafir”. Aku tidak bisa mengingat nama orang yang ditangkap, yang Ayah sebutkan, hanya As-Syathir yang terngiang dalam benakku. Panggilan yang sering diberikan kepada orang-orang yang cerdas.

Aku bertanya kepada Ayah, “Mengapa dia ditangkap?”

Ayah hanya menjawab, “Siapapun yang melakukan sesuatu untuk Islam, melayani agama ini atau mengembangkan ilmu pengetahuan dan yang lain, pasti akan ditangkap. Karena pemerintah tidak menginginkan Islam menguasai teknologi seperti ini!”

Bukan hanya nasyid dan komputer yang membuatku merasa “istimewa” dibanding anak-anak yang lain. Sikapku juga berbeda. Caraku makan tidak sama. Ya! Aku akan menggumamkan doa, “Allahumma barik lana fima razaqtana waqina ‘adzaban-nar’’ sebelum memakan sesuatu. Jika terlupa, Ayah akan mengingatkanku, dan aku akan menghentikan makan dan menggumamkan doa, “Bismillahi awwaluhu waakhiruhu”. Sebagian besar teman-temanku tidak melakukan itu. Jika berdoa, mereka hanya akan mengucapkan, “Bismillah” saja. Tidur pun aku berbeda. Ibuku akan memperdengarkan doa sebelum tidur, “Bismika Rabbi wadha’tu janbi wabika arfa’uhu. Fain amsakta nafsi farchamha, wain arsaltaha fachfadhha bima tachfadz bihi ‘ibadakas-shalichin.” Kemudian aku akan tidur dengan rusuk kanan di bawah, meski posisi itu hanya akan bertahan kurang dari 2 menit.

Ketika mengangkat telepon, aku akan berkata, “Assalamu ‘alaikum”, bukan “Alu ….”, yang kemudian kuketahui sebagai kata serapan dari halo. Ketika naik mobil, kedua orang tuaku akan melihat dan menuntunku mengucapkan doa naik kendaraan, terutama untuk perjalanan panjang. Ketika mengucapkan terima kasih, aku tidak akan menggunakan kata “syukran”, tetapi “Jazakumullah khairan”, atau dari riwayat hadis lain, “Jazakallah kulla khairin”.

Ayah pernah berkelakar tentang, “Jazakallah khairan” yang baru bisa aku pahami setelah besar, kemudian. Beliau bercerita, “Ada dua orang bersaudara, laki-laki, yang pergi ke suatu tempat. Kemudian keduanya menyadari, ada mata-mata yang sedang mengikuti langkah keduanya. Maka merekapun berhenti di sebuah warung yang dapat mereka temukan, membeli 2 bungkus rokok untuk mengecoh mata-mata tersebut. Sang penjual menyerahkan kedua bungkus rokok itu dan uang kembaliannya. Salah satu dari keduanya tersenyum kepada sang penjual dan berterima kasih, “Jazakumullah khairan”. Maka, mata-mata itupun mengambil kerah keduanya dan berkata kepada sang penjual, “Jazakumullah khairan”.

Mungkin, ini hanya doa atau ungkapan sederhana. Tetapi bagiku istimewa. Mereka melengkapi kehidupanku sehari-hari. Membuatku merasa bahwa hidupku berbeda dari kehidupan orang yang lain.

*bersambung

Comment here