FiksiPilihan Redaksi

Vespa PX Mbah Baweh

 Cerpen Khilma Anis

Setiap kali bersitegang dengan suamiku, segera kugendong anakku dan menaiki motor menuju pantai Parangkusumo. Aku lahir dan besar di Rembang. Menikah dengan laki-laki orang asli Bantul sementara aku tidak punya sanak keluarga di sini, jadilah seluruh kegalauan kutumpahkan di pantai ini. Hangat pasir, biru air laut, saujana terbentang samudera, dan debur ombaknya seolah selalu bisa melonggarkan sesak dadaku.

Tema pertengkaran kami belum juga berubah. Sebuah motor Vespa PX  yang sudah puluhan tahun bertengger di rumah  peninggalan mertua yang kini kami tempati menjadi biangnya.  Aku jengah  melihat Mas Dharma, suamiku, menghabiskan waktu untuk merawatnya. Ia bukan kolektor barang antik, tapi cintanya terhadap vespa itu melebihi  Alex Papadimitriou pada koleksi lukisannya.

Mas Dharma merawat vespa itu setiap saat. Ia  membersihkannya sampai tak terlihat sebutir pun debu. Sering kali, ia membongkar hingga memakan tempat, memenuhi separuh ruang tamu. Tak lama, ia memasangnya lagi. Vespa peninggalan kakek Mas Dharma itu masih orisinil, tidak pernah dimodifikasi. Vespa itu  juga tidak pernah dinaiki. Lalu kenapa masih dimiliki tidak dijual saja? Jadi barang antik begitu pasti tetap laku lumayan. Hal lain yang  membuatku geram, vespa itu membuatnya seolah larut dalam nostalgia. Ia jadi enggan keluar rumah. Enggan bertemu dengan rekan atau relasi keseniannya. Tentu saja ini membuat masa menganggurnya lebih panjang. Ya, suamiku diam di rumah, tidak mau melamar kerja meski ia seorang sarjana. Istri mana yang tidak menangis hidup di propinsi orang dengan suami yang setiap hari hanya mengelus vespa?

Aku menyimpan rapat tangisku, kecuali pada pantai Parangkusumo. Debur ombaknya tidak pernah menyalahkanku, tidak seperti ibuku. Tidak ada gunanya aku mengeluh pada ibu. Sudah pasti beliau menyalahkanku dan mengungkit lagi nasihatnya dulu. Kata Ibu, perempuan harus menikah dengan lelaki mapan. Kalau pekerjaan suami masih serabutan, hati tidak akan tentram.

Waktu itu aku bersikukuh menikah karena kulihat Mas Dharma memiliki bakat seni melukis yang kuat. Apalagi kami hidup di Yogyakarta, aku yakin bisa hidup berkecukupan dari karya seninya itu.

Ternyata Mas Dharma makin jarang melukis. Ia juga menolak tawaran membina teater di sekolah dan kampus padahal ia punya keahlian itu juga.  Pergaulannya semakin tertutup. Kupikir setelah kelahiran Dawai, putri pertama kami, dia akan bangkit dan mengubah idealismenya. Meletakkan keras kepalanya itu  dan mau bekerja. Nyatanya, meski menganggur, ia tenang saja.  Ia makin mencintai vespanya.

Kami jarang bercanda. Mas Dharma lebih banyak diam membisu. Ia menjalani puasa sepanjang waktu. Aku tak tahu menahu karena ini ajaran kiainya zaman di pesantren dulu. Setiap habis sembahyang, dia berdoa lama sekali. Aku tahu ini baik, tapi efeknya, aku jadi sering merasa terasing karena dia jarang bicara. Aku jengah. Aku lelah. Aku ingin dia berubah.

Tapi aku bisa apa? Setiap kubahas hal ini dia tersinggung. Maka yang bisa kulakukan adalah lari ke pantai ini. Menumpahkan segala kegundahanku.

Suara selawat tarhim dari  masjid sebelah  membuatku tersadar kalau sudah surup, sudah hampir maghrib. Kulangkahkan kaki melewati hamparan pasir laut. Angin berhembus kencang. Tekadku sudah bulat. Sesampai di rumah nanti,  aku akan meminta Mas Dharma membuang vespa itu dari rumah. Vespa itulah sumber kemalasannya. Kalau ia diam saja,  akan  kubakar vespanya.  Kalau ia tetap tidak melamar kerja, atau berusaha bekerja apa saja yang menghasilkan, aku akan minta cerai. Aku takut kelak Dawai akan sengsara bila memiliki ayah yang melankolis, tidak bekerja, dan hanya  gandrung vespa.

***

Sampai rumah, aku kaget melihat vespa yang kubenci raib dari tempatnya.

“Di mana motor vespanya, Mas?”

“ Di bengkel”

“Rusak?”

“Iya”

“Rusak atau dijual, Mas?”

“Dijual? Lha memangnya siapa yang mau beli?” Jawab Mas Dharma ketus.

Sampai tiga bulan setelahnya, vespa itu tidak kunjung pulang dari bengkel. Suamiku juga tetap jarang keluar rumah. Ternyata kemalasan Mas Dharma tidak ada hubungannya dengan Vespa PX itu. Aslinya dia memang pemalas. Aku semakin judeg.

***

Liburan sekolah sudah dekat. Mas Dharma belum juga bekerja. Gajiku sebagai guru honorer tentu saja tidak cukup untuk menikmati liburan  dengan gembira.  Padahal aku ingin berlibur ke kampung ibuku di  Rembang,  membawa  oleh-oleh yang pantas. Walau ibu suka bapkia dan salah pondoh, tetap saja aku ingin membawakannya  kain batik  Mangkoro yang terkenal halus motifnya meski harganya lumayan. Aku tidak mungkin mengatakan ini kepada Mas Dharma, dia  pasti bisa tersinggung karena aku tahu dia tidak punya uang.

Jadilah kami seperti sedang perang dingin. Satu-satunya yang bisa mencairkan kebekuan komunikasi kami adalah Dawai, putri kami.

“Besok kalau bundamu libur sekolah,  kita  liburan ke simbah Rembang ya, Nak. Kita sewa mobil. Gak perlu desek-desekan di bus seperti biasa.” Kata suamiku kepada putri kami. Aku tahu, dia sedang memancing reaksiku.

“Sewa mobil siapa, Mas?”

“Pak Khazal”

Aku terdiam. Aku tak bertanya ia dapat uang darimana walau aku sangat ingin. Aku takut melukainya. Tebakanku, Mas Dharma menyewa mobil agar terlihat keren di mata ibu yang selama ini menganggapnya sebelah mata. Baguslah kalau dia mau mengajakku pulang ke Rembang. Di sana, aku akan melayangkan ancamanku, menyingkirkan vespa sumber kemalasannya itu, yang katanya sedang di bengkel, dan  dia harus  mau mencari kerja. Atau aku  tidak kembali. Tetap di Rembang bersama ibu.

***

Sepanjang perjalanan Yogya-Rembang, aku lebih banyak diam. Aku sibuk menata hatiku sebab akan berjumpa ibu yang akan terus mengevaluasi ketidakberhasilan kami dalam berumah tangga. Tapi entah kenapa, Mas Dharma tampak tenang dan ceria di balik kemudinya.

Saat mobil  memasuki plataran rumah ibu, hatiku campur aduk.  Apa jawabku kalau ibu bertanya soal pekerjaan Mas Dharma sekarang?  Aku tidak pandai mengarang cerita seperti kebanyakan orang kota, bahwa suaminya yang sebenarnya menganggur telah bekerja di perusahaan, atau berbisnis ini itu. Kenyataannya suamiku memang nganggur dan tidak menghasilkan profit apa-apa. Aku juga tidak sanggup menjelek-jelekkan suamiku dengan mengatakannya sebagai suami yang tidak baik. Kenyataanya suamiku begitu baik dan tidak pernah mengeluh. Sayangnya, mertua dimanapun, tidak akan suka dengan menantu laki-laki yang tidak bekerja, walapun baik tingkah lakunya.

Ibu tergopoh membukakan pintu mobil untuk kami. Wajahnya begitu sumringah. Kupikir karena ibu mengira mobil carteran ini mobil kami. Ibu kan selama ini malu kalau kami turun dari becak disaksikan tetangga-tetangga.

Ternyata aku salah. Dengan berbinar-binar ibu memeluk suamiku.

“Terima kasih, Nak Dharma. Terima kasih yo, Nak. Barakallah!” Suara serak ibu bercampur tangis. Aku melongo. Terima kasih untuk apa? Ibu merangkul  Mas Dharma. Aku tidak mendengar apa yang mereka katakan karena aku sibuk mengarahkan Mbah Sun agar menurunkan barang dari bagasi.

“Ibu seneng banget ya, Mbak Wening. Akhirnya gak lama lagi berangkat haji”

Aku menatap Mbah Sun tak percaya. Haji? Aku mengulang kalimatnya. Pasti ini hasil urunan kakak-kakakku yang kaya-kaya.

“Iya, uang kiriman Mas Dharma sudah dibuat daftar di KBIH Arwaniyah. Yang daftarin Lik Rofiq. Sama Lik Rofiq didaftarkan yang ples biar cepet berangkat. Mumpung ibuk sehat.”

Aku mendelik sambil mengucap istighfar dalam hati. Kegilaan apalagi yang dilakukan suamiku? Uang segitu banyaknya dia dapat dari mana? Aku sibuk menduga-duga, jangan-jangan suamiku terlibat penipuan uang palsu atau tindak kriminal lainnya. Atau jangan-jangan ia punya selingkuhan janda kaya?

Kucari suamiku untuk minta keterangan. Kali ini aku tidak bisa tinggal diam karena menyangkut uang dalam jumlah besar. Aku berencana akan mengancamnya minta cerai kalau dia tidak mau jujur dan tertutup seperti biasa. Sayangnya, Pakde dan Budeku berdatangan. Mas Dharma makin jauh dari jangkauan mataku. Ia mengajak Dawai, putri kami, melihat ikan di tambak. Ibu menemaninya sambil terus sumringah.

Piye ceritanya Wening, kok vespa suamimu bisa laku ratusan juta?” Pakde Hasani menatapku penuh tanda tanya. Oleh-olehku tak tersentuh.

Aku terhenyak tapi hanya bisa diam karena tak tahu apa-apa. Aku sibuk menata debar hatiku.  Seratus juta? Vespa butut yang hampir saja kubakar itu? Dijual? Kapan?

“Ya jelaslah, wong vespa legendaris. Gini lho ceritanya”, sahut Bude Yaya sambil melirikku seolah minta izin jadi juru bicaraku. Aku mengangguk mempersilakannya bicara. Tentu saja mereka tidak tahu kalau aku buta soal ini,

“Jadi vespa itu milik Mbah Sibawaih. Simbahnya Dharma. Tahun lima puluhan, vespa itu dipakai ngajar. Di samping pengajar, Mbah Baweh terkenal kalau diam-diam beliau itu guru spiritual.  Muridnya Mbah Baweh sekarang ada yang jadi juragan batik. Eh dia dapat wangsit, kalau kepengen bisnisnya langgeng, harus membeli vespa tua Mbah baweh  yang ada di tangan cucunya, Dharma. Ini yang kudengar dari ibunya Wening. Betul begitu kan, Ning?”

Aku terhenyak. Jadi vespa jelek itu bukan ke bengkel? Tapi sudah berpindah  tangan dan menjadi jalan ibuku haji? Ibuku memang sudah lama sekali ingin berhaji, tapi masalah demi masalah tak henti menimpa keluarga kami. Mulai dari ayahku meninggal dan menyisakan hutang ratusan juta akibat ditipu, tambak yang habis terjual dan tinggal satu. Lalu kondisi kesehatan ibu yang terus menurun.

Aku tidak menyangka sedalam itu cinta Mas Dharma pada ibuku, padahal selama ini meragukannya. Ibuku yang tak bosan-bosan membandingkannya dengan kakak-kakakku. Ekonomi keluarga kami lemah, tapi ia langsung menyerahkan uang sebanyak itu kepada ibuku, mertuanya. Tidak punyakah dia perasaan dendam dan nelangsa? Lupakah ia kalimat-kalimat ibuku  yang menyepelekannya? Tidak ingatkah dia  pada perlakuan ibu yang menganggapnya sebelah mata karena ia adalah satu-satunya menantu yang tidak punya pekerjaan tetap?

“Wening?”

Aku tersadar panggilan Bulek Wida. Semua orang menanti jawabku ternyata. Aku membuang muka ke arah pohon Delima putih. Tenggorokanku tercekat. Aku ingat kalau hampir saja aku minta cerai.   Mataku memanas. Kenapa aku tidak berpikir panjang? Bagaimana nasib Dawai bila kami berpisah?

Nggih, Bulik, Alhamdulillah,”

Hanya itu yang mampu kuucap. Aku mendongkak ke atas, menatap langit-langit rumah ibu. Berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tak jatuh.

Nek itu bukan mung karena vespanya, Dharma itu juga senengnya tirakatan. Liat saja. Dia poso terus gak ono lerene. Wes tahuntahunan lho leh poso.  Konon, penderitaan yang disengaja, akan mendatangkan kemuliaan di kemudian hari.” Pakde Injung bersuara. Dialah di keluarga kami yang alumni pesantren. Dari awal, dia memang respek kepada suamiku. Sering kulihat mereka berdua berbincang lama.

Aku tersenyum. Kalau bukan karena Pakde Injung, aku tidak bisa melihat kelebihan suamiku sendiri. Aku yang mati-matian memperjuangkannya di awal. Tapi aku juga yang berniat meninggalkannya karena hidupku penuh kekurangan. Perempuan macam apa aku ini? Yang berniat meninggalkan pasangan sedang dia dalam masa masa sulit? Lupakah aku pada cinta kami? Bisakah aku hidup tanpanya? Bagaimana bila Dawai mencari ayahnya sementara aku tanpa perasaan telah memisahkan mereka?

Bisa jadi, Vespa itu adalah sumber kemalasan, tapi aku lupa kalau Mas Dharma sudah mengimbanginya dengan tirakat yang panjang. Aku lupa itu. Aku bahkan lupa kasih sayangnya kepadaku selama ini. Apalagi kasihnya pada ibuku meski Mas Dharma terus diberinya luka.

Aku begitu  ingin memeluk Mas Dharma dan  meminta maaf atas ketidakpercayaanku pada rencana-rencananya. Aku ingin memohon maaf karena telah menganggapnya sebagai lelaki tak memikirkan keberhasilan rumah tangga kami.

Tapi kulihat dia  tertidur pulas di ranjang bambu di bawah pohon Talok. Tangan kanannya yang kekar jadi bantal Dawai yang terlelap dalam dekapnya. Dia sungguh suami dan ayah  yang hebat.  Aku yang tak pandai bersyukur hampir saja membuatnya pergi dari kehidupanku. Nanti, kalau dia bangun, aku akan segera mengajaknya pulang ke rumah kami. Aku ingin mengajaknya ke pantai Parang Kusumo. Di sana, aku akan memeluknya erat. Aku akan minta maaf atas keras kepalaku. Aku yang selama ini banyak ngomel dan meracau. Aku yang hampir saja minta berpisah. Selama ini, dalam ketidakberdayaannya, dia hanya diam dan mengalah. Baginya, ngalah bukan kalah. Ngalah  itu Nga-Allah. Mengembalikan segala sesuatunya pada kehendak gusti Allah.

~

[sumber gambar vespa: gambar google.com]

Comments (2)

  1. Nderek angkut youtube mbak khilma nggih….

Comment here