Pilihan RedaksiUlasan

The Matrix Experience: Hiduplah Sederhana Agar yang Lain Bisa Hidup

Saya membuat istilah the matrix experience untuk  menyebut momen sejenis pencerahan, seperti Neo dalam film the Matrix ketika dia menyadari bahwa agen-agen yang menyerangnya hanyalah sekumpulan kode, bahwa peluru yang menyasar jantungnya juga hanya sekumpulan kode. Kumpulan kode tak berbahaya, yang bisa dikendalikannya. Saya mengalami ini setelah menonton film pendek “The Story of Stuff” karya Annie Leonard, dan membaca buku berjudul “Consuming Religion” karya Vincent J. Miller. Dua media ini sebenarnya membahas dua hal yang agak berbeda, tetapi, sekarang tak ada lagi hal yang tampak benar-benar berbeda. Segala sesuatu saling berkaitan, berhubungan, berjalin-kelindan, menuju sesuatu yang sama.

Story of Stuff

Ini film yang mencoba menjelaskan berbagai hal rumit secara sederhana. Jika Anda tertarik dengan isu lingkungan, sebagian besar fakta yang dijelaskan di sini bukanlah hal baru. Yang baru bagi saya adalah sudut pandangnya. Leonard menghubungkan isu lingkungan dengan eksploitasi dunia ketiga, good governance, kapitalisme, konsumerisme, dan banyak lagi.

Di antara yang menohok dalam penjelasannya adalah soal externalized cost: harga barang-barang yang kita beli tidak mencerminkan biaya sesungguhnya dari produksi barang-barang tersebut. Agar orang terus berbelanja, produsen perlu menjaga agar harga barang tetap murah. Mereka melakukan itu dengan cara menekan atau menghilangkan beberapa komponen biaya yang seharusnya dimasukkan. Contohnya: memberikan upah rendah kepada para buruh, tidak memberikan tunjangan kesehatan pada para pekerja, tidak membuat sistem pengolahan limbah industri yang memadai, mengemplang pajak setiap ada kesempatan. Dengan demikian, ketika kita membeli suatu barang dengan murah, bukan kita sebenarnya yang membayar keseluruhan harga barang itu, tetapi para buruh entah di negara mana tempat barang itu diproduksi yang harus hidup di bawah standar kelayakan, orang-orang entah di mana yang harus terkena dampak polusi atau limbah yang dikeluarkan pabrik itu, dan seterusnya.

Consuming Religion

Buku ini beririsan dengan story of stuff dalam beberapa hal: ia membahas tentang konsumerisme, kapitalisme, dan betapa agama yang pernah digadang-gadang sebagai penentang terkuat konsumerisme ternyata akhirnya tunduk pula terhadap logika konsumsi, dan bahkan dimanfaatkan untuk semakin menggiatkan aktivitas konsumsi.

Si penulis menjelaskan dengan detail bagaimana sebenarnya logika budaya konsumerisme, betapa melenakannya kepungan iklan dalam segala aspek kehidupan kita, bagaimana kita terus-menerus didorong untuk berbelanja, untuk memenuhi hasrat tak terpuaskan akan identitas, bahkan spiritualitas, serta bagaimana dengan menggunakan agama sebagai alatnya, konsumerisme sekaligus menggerogoti nilai-nilai mulia agama.

Salah satu poin dalam Consuming Religion adalah bahwa kapitalisme dan kultur konsumerisme sudah begitu canggih sehingga dia bisa memanfaatkan motif apa saja yang ada dalam diri kita, semulia apa pun motif itu, untuk berbelanja, termasuk motif keagamaan.

Sebagai konsumen, kita harus lebih menyadari kungkungan budaya konsumerisme di sekeliling kita. Kita harus lebih lebih panjang memikirkan mata rantai yang mengantarkan suatu barang ke tangan kita. Bila Anda melihat sebutir apel merah menggiurkan, jangan hanya mempertimbangkan berapa banyak uang di dompet Anda, atau betapa memakan apel ini jelas lebih keren daripada memakan duku atau pepaya yang tumbuh di pekarangan Anda, tetapi pikirkan juga dari mana apel itu berasal. Apel merah biasanya adalah apel impor. Impor berarti mengirim, mengirim membutuhkan alat transportasi dan jutaan karbon yang berbahaya pun dilepas selama proses pengangkutan. Kualitas hidup manusia di bumi dipertaruhkan untuk kegiatan itu. Pikirkan juga nasib buruh kapal pengangkutnya, kuli pelabuhan yang dibayar rendah, mungkin juga para pekerja di perkebunan apel yang menghasilkannya. Barangkali ada pula orang-orang yang tergusur tempat tinggalnya karena hendak dijadikan perkebunan apel. Dengan membeli apel itu, jangan-jangan Anda turut serta melanggengkan ketidakadilan di muka bumi ini. Padahal  bukankah agama menuntut kita untuk memperjuangkan keadilan? Membela yang lemah?

Berapa banyak di antara kita yang mengetahui proses untuk menghasilkan barang-barang konsumsi itu? Tahukah Anda betapa besar pengorbanan petani yang tak pernah bisa kaya itu untuk menghasilkan beras? Betapa biaya pupuk, pestisida, benih, yang harus mereka keluarkan selama tiga bulan masa menumbuhkan padi tidak sepadan dengan “keuntungan” yang mereka dapat. Betapa bila wabah menyerang, tiba-tiba mereka mendapati diri terjerat utang besar yang tak akan mampu mereka lunasi sepanjang hayat.

Coba pikirkan barang elektronik. Telelvisi misalnya. Atau komputer. Atau telepon selular. Begitu panjang rentang produksi dan distribusinya, betapa panjang rentang pengorbanan yang dibutuhkan untuk mencapai etalase gemerlap di mall atau toko elektronik. Sesungguhnya, mata rantai produksi dan distribusi barang-barang itu sama sekali tidak gemerlap. Malah sebaliknya: kelam. Mata rantai itu mencapai para penduduk asli di wilayah pertambangan minyak, logam, yang bila tidak menjadi buruh tambang dengan tingkat keamanan kerja yang buruk dan upah rendah, harus kehilangan tanah atau mata pencahariaannya selama ini karena pohon-pohon telah habis ditebang, hutan menghilang, kesuburan tanah merosot tajam, laut tercemar, kualitas udara memburuk, demi aktivitas pertambangan. Demi kita, yang menginginkan televisi yang semakin besar, semakin bagus, komputer yang semakin canggih, semakin mutakhir, telepon seluler yang semakin cantik, tipis, multifungsi, dsbnya.

Apakah kita benar-benar menginginkan itu? Apakah kebutuhan kita terhadap benda-benda tersebut sedemikian besar sehingga kita rela mengorbankan orang lain? sehingga kita rela mengorbankan anak cucu kita? Kualitas hidup kita sendiri?

The Story of Stuff memberi kesadaran  bahwa barang-barang konsumsi itu tidaklah sesederhana kelihatannya. Mereka adalah kumpulan kode, kumpulan titik keringat dan pengorbanan banyak pihak. Film pendek ini juga membukakan mata bahwa cinta lingkungan yang saat ini begitu ngetren tidak cukup diwujudkan semata dengan bersepeda ke mana-mana, menolak menggunakan tas plastik, mendaur ulang sampah, tetapi juga dengan mengurangi konsumsi, dengan hidup lebih sederhana, dengan menaruh kepedulian pada persoalan politik, dengan memiliki keberpihakan pada mereka yang lebih tidak beruntung daripada kita baik dari segi sosial, ekonomi, maupun politik (ini misalnya berupa tindakan membeli produk lokal, membeli di pasar tradisional, menanam atau membuat sendiri produk-produk yang kita butuhkan, dll).

The consuming religion menyadarkan bahwa segala di sekeliling kita, terutama di media, adalah upaya untuk membujuk kita mengonsumsi. Nothing is as it seems. Jangan percaya begitu saja pada apa yang terlihat bagus, indah, enak, menarik. Kenyataannya kemungkinan besar tidak seperti itu. Buku ini juga menggugah saya untuk lebih menyadari motif mengonsumsi. Semulia apa pun concern kita terhadap sesuatu atau hasrat kita akan sesuatu, bila kita mewujudkannya dalam aktivitas konsumsi, ada sesuatu yang terkorbankan. Bila Anda membeli sebuah tas hijau berembel-embel go green karena Anda ingin menunjukkan kepedulian Anda pada isu lingkungan, Anda telah jatuh dalam perangkap kapitalisme. Karena saya berani bertaruh Anda sudah punya tas-tas lain atau bahkan tas plastik dari zaman “kegelapan” (ketika Anda masih suka belanja dengan tas plastik) yang bisa Anda gunakan tanpa membeli tas hijau go green itu.

Segala sesuatu saling berhubungan. Mereka yang sibuk mengkritik pemerintah, sebenarnya sedang mencoba mengembalikan pemerintah ke jalurnya, dan dengan demikian punya manfaat akhir yang sama dengan mereka yang punya kepedulian terhadap lingkungan.

Mereka yang mengkritik globalisasi ekonomi dan kapitalisme, merupakan komponen yang sama pentingnya dengan mereka yang mencoba terus mengingatkan kita akan nilai-nilai mulia agama.

Mereka yang mengkritik media juga tengah mengingatkan kita akan realitas-realitas virtual yang terkadang kita anggap sebagai realitas sesungguhnya.

Mereka yang membela komunitas-komunitas adat yang tampak kuno dan tak mau mengikuti arus perkembangan zaman, juga punya andil melestarikan kearifan-kearifan lokal yang sesungguhnya mujarab untuk menentang laju perusakan bumi.

Dan di sekitar masa inilah status sosmed seorang teman yang dia ambil dari buku “Bumi yang Terdesak” terasa begitu benar: “Hiduplah sederhana, agar yang lain bisa hidup.”

Comment here