Pilihan RedaksiPustaka

Tank Merah Muda: Perempuan Menulis Perempuan

Judul Buku                  : Tank Merah Muda (Cerita-cerita yang Tercecer dari Reformasi)

Penulis                           : Raisa Kamila dkk.

Jumlah Halaman      : 192 Halaman

Cetakan Pertama    : Oktober 2019

Penerbit                       : Diterbitkan di bawah lisensi CC BY

Saat kita terlalu asik membaca buku kumpulan cerpen ini tidak terasa bahwa sebenarnya kita sedang menelusuri sejarah masa transisi reformasi tahun 1998-2004. Enam penulis perempuan dari berbagai daerah yakni Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa Timur, Jawa Tengah dan Aceh ini berhasil menyajikan 18 cerita pendek dengan latar belakang dan emosi yang berbeda namun masih dalam tema yang sama yakni tentang memori perempuan di masa transisi reformasi yang sampai hari ini masih dianggap tabu untuk dibicarakan.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa apapun konflik di negara kita perempuanlah yang menjadi korban pertama, misalnya penjajahan pra kemerdekaan, tragedi 65, juga masa transisi reformasi seperti yang ditulis di dalam buku ini. Sebagian besar menceritakan keadaan krisis moneter kala itu yang dibumbui dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran, penjarahan, demonstrasi, pemerkosaan, pembantaian di kota-kota besar sampai daerah-daerah kecil. Para penulis buku ini lagi lagi berhasil membawa pembaca ke dalam suasana yang menegangkan dan cukup mengerikan.

“Dulu, dia sempat kehilangan suara berbulan-bulan sementara orang-orang di sekitarnya, di lingkungan yang baru, terus membicarakan peristiwa besar itu dengan was-was. Korban telah mencapai ratusan menurut surat kabar yang dia temukan di perpustakaan sekolah. Ibunya hanyalah angka di antara ratusan korban tersebut” (Hal.73).

Penggalan cerita tersebut menceritakan seorang anak perempuan bernama Mareni yang menyaksikan warga menyeret-nyeret dan berteriak-teriak pada kedua orang tuanya dengan mengacungkan celurit, linggis, dan benda tajam lainnya dan yang belum bisa terlupakan hingga dewasa adalah bahwa ibunya malam disiksa sampai meninggal. Ia pun mengalami trauma yang memaksanya memilih untuk keluar dari kampung halaman.

Meski buku ini mengambil judul rentetan cerita yang tercecer di masa reformasi tetapi para penulis juga menceritakan bagaimana sistem patriarkal yan masih berjalan mulus di negeri kita, stereotipe tentang perempuan menjadi manusia kelas kedua, diskriminasi, pelecehan dan kekerasan seksual yang terus terjadi hingga hari ini. Misalnya, perempuan dijadikan simpanan oleh tentara saat bertugas dan akan ditinggalkan setelah masa tugasnya selesai bahkan dalam kondisi hamil sekalipun. Tak hanya itu saja, buku ini juga menceritakan kisah-kisah perjodohan dan kekerasan dalam rumah tangga yang kerapkali terjadi. Anehnya meski hal tersebut sudah terjadi puluhan tahun lalu namun kejadian-kejadian itu masih relevan sampai hari ini.

“Saya menginginkan keadilan untuk anakku dan menginginkan mereka yang tega melakukan hal ini kepada anakku mendapatkan hukuman yang setimpal,” tegas Taji Rate. Sembari menguatkan Taji Rate, Lila menanyakan apakah kedatangan Taji Rate diketahui dan direstui oleh suaminya. “Sebenarnya bapaknya tidak mau kalau masalah ini sampai diketahui oleh orang lain, karena siri’ keluarga ini,” ucap Taji Rate lemah dengan mata berkaca-kaca. (Hal. 139)

Penggalan cerita tersebut menceritakan seorang ibu yang melaporkan kasus anaknya ke Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang dipaksa untuk berhubungan badan dengan suami sekaligus dua teman suaminya tetapi sang ayah melarangnya demi menjaga harga diri keluarga. Sistem patriarki yang diceritakan dalam salah satu cerpen sangat kental, di dalam rumah sejak kecil seorang anak dilarang oleh ibunya untuk mengambil sebuah keputusan, kemudian ia dipaksa untuk menikahi anak dari atasan ayahnya, dan puncak di dalam pernikahannya ia harus mengalami kekerasan.

“Kurang apa pak Bambang itu sampai bisa kalah dari wanita macam Chusniyah? Sudah priyayi, modal kampanye besar, paham seluk-beluk urusan negara, sedap dipandang pula. Kalau aku sih milih pemimoin yang gagah,” ujar perempuan lain menimpali.

“Iya, betul. Chusniyah hanya menang sekolah tinggi, sarjana politik Unair. S2 kan dia? Apa S3?” tanya seseorang, mengembalikan obrolan mengenai Chusniyah (Hal. 20).

Dari penggalan salah satu cerpen di atas kita juga di ajak untuk memahmi kondisi masyarakat kita yang masih saja mendiskriminasikan perempuan bahkan oleh dan sesama perempuan sendiri. Pandangan bahwa perempuan tidak pantas menjadi seorang pemimpin, seorang perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi dan bagaimana perempuan belum mendapatkan ruang seperti laki-laki di dunia politik. Sedikit penggalan tersebut menceritakan seorang aktivis organisasi kemasyarakatan yang terpilih sebagai kepala desa dan beberapa masyarakatnya kurang setuju hanya karena ia seorang perempuan.

Hal lain yang juga dibahas dan masih relevan sampai hari ini adalah perihal toleransi dan simbol keagamaan. Penulis menceritakan bagaimana masyarakat diharuskan memakai simbol-simbol agama mayoritas, Sekolah Negeri yang mengharuskan seluruh anak didik perempuannya memakai jilbab dan masih banyak lagi kisah-kisah lainnya yang dekat dengan kehidupan beragama kita saat ini yang diangkat dalam kumpulan cerpen di buku ini.

Dengan adanya buku ini menambah wacana dan kekayaan ragam penulisan perempuan yang lebih berwarna dan semoga dapat menginspirasi perempuan lainnya untuk memulai dan berani menulis terkait dengan pengalamannya sehari-hari.

Comment here