“Sweet Home”, Monster dalam Diri Kita

Sebenarnya ini tontonan coba-coba. Horor bukan genre favorit saya. Saya malah kerap tak habis pikir kenapa orang mau membayar tiket bioskop hanya untuk ditakut-takuti genre film ini. Dulu gara-gara nonton The Ring versi jepang, sempat tidak berani menatap layar TV yang sedang mati. Takut ada Sadako muncul. Untungnya, Sweet Home bukan film horor macam itu. Monster-monsternya sendiri malah tidak terlalu mengerikan. Kengerian yang muncul lebih karena film ini dengan murah hati menampilkan cucuran dan cipratan darah, anggota tubuh hancur, terpotong, tertusuk, adegan penganiayan yang ya ampun grafis banget, dan sebagainya. Sebaiknya jangan nonton serial ini sambil makan. Kalau mau makan, mending nonton video Li Ziqi saja.

Meski tidak suka film horor Indonesia atau Hollywood, saya baru sadar dalam kasus sinema Korea, genre ini malah lebih menarik bagi saya ketimbang genre lain, termasuk genre populer drakor: drama romantis. Saya lebih betah nonton hingga rampung drakor horor macam Kingdom (sudah tamat dua season) dan Sweet Home (tamat dalam dua hari) ketimbang drakor manis normal macam Start Up atau bahkan Reply 1988 (dua-duanya belum berhasil tamat). Saya mengikuti film-film Gong Yoo juga gara-gara terkesan film zombie Train to Busan, bukan Coffee Prince atau Goblin.

Ok, kembali ke Sweet Home, serial ini menceritakan tentang sekelompok penghuni sebuah apartemen bernama Green Home yang terjebak dalam situasi aneh. Ada monster-monster bermunculan di sekitar mereka. Mereka baru tahu bahwa ternyata tengah terjadi fenomena monsterisasi massal. Manusia berubah menjadi monster. Bahkan presiden negara itu. Sebagian penghuni apartemen telah mulai berubah jadi monster. Mereka yang tersisa berusaha bertahan hidup di tengah kekacauan dan kebingungan. Perjalanan para penyintas inilah yang nanti mengantarkan kita pada perenungan agak filosofis (saya emang gitu, apa-apa dibikin berat haha) apa sebenarnya yang membuat manusia menjadi manusia? Apa garis yang membedakan manusia dan monster? Dan semacamnya.

Soal alur cerita, awalnya saya menilai serial ini banyak banget bolongnya. Banyak premis dan logika cerita yang tidak terjelaskan dengan baik. Jiwa pendeteksi plot holes dan bloopers saya meronta-ronta. Kisah perundungan tokoh utama yang menyebabkan dia berubah karakter dan ingin bunuh diri misalnya bagi saya kurang meyakinkan. Banyak hal tidak terjelaskan degan baik. Beberapa kisah cinta juga tidak mendapatkan cukup waktu untuk berkembang. Saya sangat terbantu membaca webtoon Sweet Home. Nilai alur cerita yang awalnya cuma 4, meroket jadi 7 setelah membaca webtoon-nya. Meski ketika diangkat menjadi serial, ada beberapa hal yang berubah. Logika monsterisasi dan bagaimana detil halusinasi yang menyerang tokoh utama lebih jelas di webtoon ketimbang di film. Cuma ya, sebagaimana layaknya drakor yang baik, film ini berhasil memanjakan penontonnya. Ia menyenangkan indra visual kita. Bukan hanya karena banyak mas dan mbak nan bening di sana. Sudut-sudut pengambilan gambar drakor, termasuk Sweet Home, selalu tampak direncanakan dengan baik. Pleasing to the eyes. To the artistic side of us. Musik latarnya pas, memuaskan indra pendengaran saya. Atau barangkali memang karena pas saja sih dengan selera musik saya. Ada Warriors-nya Imagine Dragon, yang setiap kali diputar memunculkan perasaan: hidup memang penuh masalah, tapi aku tak boleh menyerah. Lagu Sweet Home yang dibawakan akustik oleh salah satu tokoh, Ji-Su, juga hit home banget. Duh jadi pengen nangis.

Layaknya drakor yang baik, Sweet Home mampu memantik emosi di saat-saat yang tepat. Memberi saya motivasi untuk lanjut menonton di saat bosan mulai menyerang. Ketika terlalu menye-menye, ada laga pertarungan dengan monster yang menegangkan. Ketika terlalu seram, ada dialog-dialog menyentuh meredam suasana. Soal memainkan emosi penonton ini kita memang harus memberi kudos buat dunia sinema Korea. Mereka tahu banget tombol-tombol yang harus ditekan untuk menyalakan emosi. Meski secara personal, kadang saya sebal menyadari bahwa saya tengah dijebak untuk merasakan emosi tertentu. Like, the try too hard to make you cry, sometimes it shows.. and fails. Yah, tapi kalau pas berhasil efeknya juga tak main-main sih. Huaaa

Usai nonton, saya masih kepikiran soal film ini. Kesannya masih membekas. Saya tahu saya musti menuliskannya karena satu hal: si tokoh utama mengingatkan saya pada diri saya sendiri dulu, juga pada anak sulung saya saat ini. Si tokoh utama Hyunsu adalah yatim-piatu penyendiri yang sudah merencanakan akan bunuh diri pada tanggal ketika dia malah harus berhadapan dengan monster-monster. Perjumpaan dengan monster ini kemudian menyadarkannya bahwa ternyata dia ingin hidup. Melihat si tokoh utama Hyunsu bertarung melawan monster mengingatkan saya tentang pertarungan saya melawan monster-monster saya sendiri. Metaforis tentu saja. Mengingatkan saya juga pada si sulung yang kini tengah mengalami fase “monsterisasinya” sendiri. Dengan hopeless, saya menyadari saya tak bisa mengalahkan monster itu untuknya. Saya hanya bisa menemaninya, sambil kadang memeluknya barangkali seperti Han Du Sik memeluk Hyun Su dan berharap dia cukup kuat untuk bertahan melewati fase itu.

Benarlah bahwa jihad terbesar adalah pergulatan melawan diri sendiri..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *