Uncategorized

Sultanah Populer dalam Sejarah Islam

Dalam Islam kita mengenal beberapa nama pemimpin perempuan yang melegenda dan tercatat dalam sejarah karena kekuasaannya yang kuat dan luas. Berikut nama-nama sultanah yang paling dikenal dan terpopuler:

  1. Sayyidah Al-Hurra atau Ratu Balqis al-Sughra

Adalah Ratu Balqis al-Sughra yang namanya mencuat seiring dengan nama besar ratu Balqis sejak zaman nabi Sulaiman. Ia dikenal dengan nama Sultanah Arwa Al-Sulayhi. Di Yaman, tercatat ada dua nama sultanah besar yang pernah memimpin, pertama Ratu Balqis dan kedua adalah Sultanah Arwa atau Al-Sayyidah Al-Hurra. Sultanah Arwa lahir tahun 440 H (1048 M) di Haraz. Ia merupakan salah satu perempuan berpengaruh yang dimiliki oleh Dinasti Syi’ah Fatimiyah.

Sayyidah Al-Hurra tidak hanya dikenal sebagai pemimpin yang cantik, menawan dan penggemar sastra namun ia juga dikenal sangat berintegritas dalam kepemimpinannya yang mampu bertahan hingga setengah abad. Sultanah Arwa berhasil memimpin dinasti Sulayhid dengan keberanian, kesalehan, kecerdasan dan kemandiriannya. Ia juga dikenal sebagai seorang yang sangat mumpuni dalam ilmu keagamaan, baik di bidang Hadist, Al-Qur’an dan Fiqh.

Namanya bahkan kerapkali disebut saat khutbah Jum’at oleh Imam Al-Mustanshir sebagai pemimpin resmi untuk komunitas Syi’ah Ismailiyah di Yaman. Upayanya untuk memindahkan ibu kota dari San’a ke Jibla menuai keberhasilan, ia pun membangun istana megah yang kelak menyimpan jasadnya dan menjadi makam besar Sultanah Arwa.

  1. Sultana Zubaida

Zubaidah bint Ja’far bint Mansur merupakan cucu dari khalifah dinasti Abbasiyah Al-Manshur. Lahir tahun 831 M di Baghdad, dan merupakan seorang putri kerajaan Abbasiyah. Kemewahan serta kekayaan kerajaan Abbasiyah bahkan dikategorikan sebagai kerajaan terkaya dalam sejarah Islam. Tak heran, kehidupan yang serba mewah mewarnai perjalanan Ratu Zubaidah dan keluarga kerajaan.

Sultana Zubaidah menikah dengan khalifah ternama Abbasiyah, Harun Al-Rasyid, yang memimpin kekuasaan dari wilayah Maroko hingga Persia. Menurut catatan sejarah, Sultana Zubaidah kerapkali mengutus ratusan budak perempuan dalam istana Harem untuk menghafal dan membacakan sepersepuluh dari Al-Qur’an secara terus menerus. Suara tilawah Al-Qur’an yang tak pernah berhenti menyerupai suara lebah yang mendengung di setiap pagi siang dan malam.

Sisi lain yang paling populer dari Sultana Zubaidah adalah bahwa ia merupakan trendsetter di zamannya. Hidup bergelimang kemewahan menjadikannya sebagai ratu fashion dinasti Abbasiyah. Zubaidah adalah yang pertama kali mengenalkan sepatu dengan taburan permata mulia, bahkan dalam suatu kesempatan di acara kenegaraan ia tidak sanggup berjalan dikarenakan sepatunya terlalu berat menyangga batu-batu permata.

Kemewahannya tak lantas melupakan nasib rakyat Abbasiyah. Dalam catatan sejarah Zubaidah melakukan ziarah ke Mekkah hingga lima kali. Perjalanannya yang terakhir tercatat pada tahun 805 M, dan ia mengalami kesedihan yang tak terperi ketika menyaksikan rakyat Mekkah mengalami kekeringan yang sangat parah akibat mengeringnya sumur Zam-zam. Ia pun mengutus untuk memperdalam sumur hingga menghabiskan biaya dua juta dinar untuk memenuhi pasokan air hingga ke Madinah. Termasuk juga ia menginisiasi pembangunan saluran air dari mata air Hunayn sekitar 95 km ke arah Timur. Dari sinilah kemudian nama Sultana Zubaida seringkali dikaitkan dengan ‘Birkat al-Marjum’, atau ‘Mata Air Zubayda’ yang sangat terkenal di dataran Arafat.

  1. Khaizuran

Nama Khaizuran tidak bisa dipisahkan dari seorang khalifah kenamaan Abbasiyah, Harun Al-Rasyid dan juga Sultana Zubaidah. Kaizuran merupakan ibu dari sang khalif. Lahir di barat daya Semenanjung Arabia, tepatnya di Jorash Saudi Arabia, kurang lebih seratus tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Sekitar tahun 758-765 Khaizuran diculik oleh seorang pedagang dan dijual kepada seseorang di Mekkah yang tak lain merupakan pendiri Dinasti Abbasiyah, Khalifah Al-Manshur ketika melaksanakan haji. Darinya ia memperoleh dua anak laki-laki yang kelak mewarisi kekhalifahan Abbasiyah, Al-Mahdi dan Harun Al-Rasyid.

Sultana Khaizuran memerintah kekhalifahan Abbasiyah dari tahun 775 sampai 789. Pengaruh Kaizuran terhadap suami dan anak lelakinyanya dalam kebijakan negara dan istana sangatlah besar. Seperti halnya beberapa sultana lainnya dalam sejarah Islam, Khaizuran memperolah jalan politiknya melalui institusi harem yang menjadi ruang dan tempat para budak wanita sang khalif ditempa sekaligus mendapatkan pendidikan dan pengetahuan. Institusi harem membentuk Khaizuran sebagai sultana paling berpengaruh dalam sejarah Abbasiyah.

Khaizuran menjadi perempuan favorit dalam institusi Harem melebihi wanita-wanita lain. Bagi khalifah Al-Mustanshir, Khaizuran tak hanya mampu menunjukkan kecerdasan dan keberaniannya, namun ia juga menunjukkan perangai kepemimpinan yang kuat. Di institusi Harem, para budak perempuan diberikan pendidikan yang tinggi, mereka belajar menyanyi, menari, matematika, sastra, astronomi dll. Konon, Khaizuran bahkan belajar ilmu Fiqh dari qadli ternama Baghdad.

Bagi Khaizuran aktivitas seorang selir tidak harus di dalam istana Harem, ia pun turut menghadiri berbagai pertemuan kenegaraan dan seremoni, bertemu dengan para kasim, tamu-tamu pemerintah dan ikut serta berdiskusi tentang wacana kenegaraan. Nama Khaizuran begitu bergema di Timur, bahkan diungkapkan dalam sebuah syair tradisional Arab “…Allah la qtib al-Khaizuran”, bait bait yang menggambarkan perempuan-perempuan mempesona dan berkarakter.

 

***

 

Comment here