“Speech Delay Warning” pada Anak; Sebuah Pengalaman Pribadi

Anak kedua saya namanya Ishqiya. Anak perempuan yang ceria, tidak mudah marah, kalau jatuh langsung bangun sendiri tanpa harus meminta bantuan orang lain atau memanggil saya ibunya. Ishqiya juga terbiasa menaruh sandal di tempatnya, lebih suka makan sendiri, dan banyak cerita kemandirian yang lain. Anak perempuan saya ini tergolong anak yang santuy, tidak pernah ngotot dan ngoyo. Saya mengagumi kemandiriannya. Meski saya memastikan itu jelas bukan sifat yang menurun dari saya. Hehe..

Kemandiriannya itu yang menghibur saya dan meneguhkan kalo dia istimewa. Namun, ada hal yang pernah saya cemaskan. Sampai usia 20 bulan dia belum mau mengeluarkan/membunyikan kata-kata. Saya sangat cemas. Apa stimulusnya kurang? Padahal sudah diajak ngobrol, nyanyi, baca buku, ngaji, mengamati sekitar, dan lain-lain. Sudah diajak bermain yang bisa menstimulus sensori dan motorik, sebisa-bisanya saya sebgai ibunya menyiapkan. Tapi ketika diajak mengulang kata, “Dek, ini gajah, apa? gaaa-jaaah”. Dia geleng-geleng kepala, lalu jari telunjuknya digoyang persis seperti kalau saya bilang “tidak” ke dia. Anak saya ini menolak menirukan kata-kata. Tapi saya selalu ngedem-dem ati, menenangkan diri saya sendiri. Dia sebenarnya sangat suka hewan, kalau ditanyai mana gambar bebek, ayam, sapi, gajah, serigala, badak, dia bisa menunjuk gambar tersebut dengan benar.

Saya terus berefleksi apa yang kurang. Saya nanya sana sini, belajar dari webinar di youtube, ikut kulwap, minta suwuk mbahnya, dan lain-lain. Namun, dia masih irit kata-kata. Saya tahu dan yakin suatu hari dia akan bicara. Tapi saya sendiri tidak mau santai-santai, ledakan bahasa harus dikejar sebelum 24 bulan. Harus. Sejujurnya saya dihantui realitas speech delay. Sampai suatu hari saya memarahi diri sendiri, gimana kok tidak kunjung ada progres sama Qiya. Hingga suatu hari ada seseorang yang menyampaikan ke saya, jangan-jangan sudut pandang saya yang salah. Mungkin sebenarnya ada progres, meskipun itu kecil, tetaplah ia harus dianggap sebagai progres. Saya terus istighfar. Mungkin saya yang terlalu khawatir, karena perkembangan dia tidak seperti kakaknya dulu. Akan tetapi hal tersebut bukan menunjukkan bahwa dia tidak bisa. Dia punya waktunya sendiri. Dulu Fasih, kakaknya, progresnya cepat, tapi tenaga dan konsentrasi saya terkuras untuk hanya fokus sama dia. Tidak bisa disambil lalu melakukan hal lain sama sekali. Saya sampai sering gumun, teman-teman saya juga punya anak, tapi kok masih bisa cantik, bisa kerja, produktif, foto-fotonya kelihatan happy. Saya kok feeling very exhausted ngurusi anak yang baru satu, ketika itu.

Tapi ketika membersamai Qiya, dia memberi saya banyak kesempatan. Anaknya ramutane gampil (merumat-merawatnya mudah) dan sehat. Saya bisa mewujudkan cita-cita yang sekian lama saya pendam untuk bikin buku. Qiya kasih waktu saya untuk menulis, membaca, scale-up Alala dari cuma clothing merambah penerbitan, dan lain-lain. Saya dan Qiya tumbuh bersama saling support keadaan kami satu sama lain. Ke-santuy-an Qiya adalah kunci ibunya bisa obah (gerak). Tapi kok bisa-bisanya saya melupakan itu dan terlalu khawatir dengan perkembangannya. Sekali lagi, setiap anak punya tahap dan alur perkembangannya sendiri. Sebisa mungkin saya ngempet, menahan perasaan aneh-aneh kalau ada anak sepantarannya yang udah ceriwis, iya gapapa, nanti Qiya juga bisa.

Sampai suatu hari saya krentek (tergugah), teringat sebuah cerita yang membersamai masa remaja saya dulu. Saya sangat suka cerita itu. Di dalamnya dikisahkan ada doa yang dibaca. Akhirnya Qiya saya suwuk sendiri, saya bacakan sebuah doa ma’tsur ditambah tawassul ke sosok-sosok dalam kisah itu. Semuanya kuasa Allah, semua hanya Allah yang kuasa memberi. Bisa jadi doa yang saya baca selama 7 hari itu, yang saya sebul-sebulkan ke mbun-mbunan (ubun-ubun) Qiya sebenarnya lebih untuk menenangkan diri sendiri. Tapi yang kemudian terjadi adalah Qiya tiba-tiba panas suhu bandannya. Sampai 40° C. Siapa yang tidak cemas zaman dengan situasi pandemi dahsyat kayak gini punya anak panas tinggi? Saya periksakan ke dokter, katanya radang tenggorokan. Dua hari panasnya naik turun kayak roller coaster. Dari 38, 39, 40, 39, 38, 37. Alhamdulillah hari kedua setelah minum obat, panasnya mereda. Dalam dekapan saya, tiba-tiba dia bilang “kakak..kakak..bapak..bapak”. Seketika saya luruh air mata, ndlewer, terharu; panas arep mundak akale sajake ya Allah, ucap saya dalam hati.

Si kakak idolanya itu disebut sehari puluhan kali. Tapi dia belum bisa panggil ibu. Baru minggu-minggu lalu ketika kami pulang ke Jombang tiba-tiba dia bisa panggil ibu. Dan cara memanggilnya sangat mesra.
Ledakan bahasa pun akhirnya terjadi. Rekaman-rekaman selama ini berhasil dibunyikan. Sebisa-bisanya. Alhamdulillah, gembok sudah terbuka, semestanya makin luas dengan kemampuan berbahasa. Akhir kata dan sekali lagi; setiap anak punya waktu perkembangannya sendiri. Setiap ibu punya petualangannya sendiri bersama masing-masing anaknya. Setiap petualangan adalah pengalaman belajar yang membutuhkan usaha jiwa raga.

Saya tulis ini agar sebagai pengingat diri untuk tidak pernah berhenti belajar memahami anak-anak ❤️

——

*sumber gambar ilustrasi; primaindisoft (diambil dari google image)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *