EsaiPilihan Redaksi

Social Distancing: Menjaga Jarak dari Virus Corona

Panik memang kerap merugikan. Terlebih karena kepanikan bisa menghambat kemampuan berpikir logis lalu mendorong tindakan yang merugikan banyak orang seperti menimbun masker karena takut tertular virus corona. Padahal masker sebenarnya tidak banyak berguna menangkal virus bagi orang yang sehat, tapi sangat diperlukan bagi petugas kesehatan atau mereka yang telah terinfeksi agar tidak menyebarkan virus ini ke lebih banyak orang.

Namun setelah membaca artikel yang menganalisis data mengenai berbagai negara yang  telah terlebih dahulu menghadapi wabah ini dan serangkaian tweet dari petugas kesehatan di Italia yg sedang  bergulat menghadapi meledaknya jumlah pasien yang terjangkit covid-19 di negaranya saya tersadar bahwa terlalu santai juga bisa sangat berbahaya. Kita harus mulai melakukan langkah pencegahan mulai sekarang. Sebagai bukan siapa-siapa yang tak bisa mengambil kebijakan apa-apa, secara personal kita perlu melakukan social distancing, kita perlu mengambil jarak sosial, membatasi kontak kita dengan manusia lain sebisanya. Ada beberapa hal yang menjadi alasan utama mengapa langkah ini penting:

  1. Pada tahap awal penyebaran di suatu negara, jumlah pasien resmi (yang diumumkan pemerintah) hampir selalu lebih sedikit daripada jumlah sebenarnya orang yang terjangkit virus ini. Di Indonesia, sudah ada satu orang positif covid-19 meninggal dunia. Bila sudah ada 1 saja kematian akibat virus ini, dapat diperkirakan jumlah terjangkit sebenarnya sudah mencapai angka seratusan (dengan asumsi tingkat kematian 1%, ini perkiraan yang tidak terlalu tinggi). Artinya, banyak orang yang berpotensi membawa dan menularkan virus ini tanpa diketahui. Perlu diketahui, virus ini sudah bisa menular meski orang yang terjangkit belum menunjukkan gejalanya (demam, batuk pilek, dll). 
  2. Virus ini memang tidak semematikan beberapa virus atau penyakit lain, tapi kematian tetap kematian, berapa pun jumlah dan persentasenya. Sesedikit apa pun ancaman kematian, kita perlu menghindarinya. Selain itu, daya sebar virus corona baru ini sangat cepat. Bila kita tak melakukan langkah-langkah pencegahan sejak dini, jumlah orang terinfeksi akan mencapai titik seperti Italia sekarang: melebihi kapasitas tenaga dan fasilitas kesehatan yang ada. Bila ini terjadi, tingkat kematian akibat virus ini akan meningkat sepuluh kali lipat. Kok bisa? Ya karena faskes yang tidak memadai tadi. Misalnya begini, virus ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan. Bayangkan apa yang terjadi bila jumlah pasien yang membutuhkan alat bantu pernapasan lebih banyak daripada alat yang tersedia di fasilitas kesehatan? Di Italia, petugas kesehatan kadang harus memilih mana pasien yang diberi alat bantu dan mana yang dibiarkan begitu saja. Ini hampir sama dengan menentukan mana pasien yang kemungkinan hidupnya lebih besar dan mana yang tidak. Tak heran banyak sekali seruan bernada stres dari para petugas kesehatan di sana: lebih baik terlalu hati-hati ketimbang terlalu teledor.

Bahkan bila Anda cukup yakin dengan imunitas Anda, bila Anda percaya diri akan menang melawan virus ini, Anda tetap perlu melakukan social distancing. Saya tidak tahu bagaimana Anda, tapi saya pasti akan merasa bersalah bila sampai menjadi medium penularan virus ini pada mereka yang kekebalannya lebih lemah dan akhirnya kalah bertarung, seperti para lansia atau mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Entah bagaimana, saya ingin sekali seruan ini sampai pada mereka yang memiliki akses pada pemegang kebijakan: ketimbang sekadar menghindari kepanikan dan mengeluarkan pernyataan menenangkan yang menyesatkan, tolong buat kebijakan yang lebih masuk akal. Alasan mengapa Taiwan, Singapura dan Hongkong berhasil menekan jumlah yang terjangkiti adalah karena mereka langsung sigap membuat aturan larangan terbang, aturan berkumpul, dll. Mungkin terkesan berlebihan, tetapi mereka sudah belajar dari kasus SARS dulu. Mereka tidak menganggap remeh wabah penyakit apa pun. Indonesia semestinya cukup belajar dari pengalaman negara lain. Tidak perlulah bangsa ini sendiri yang harus belajar dengan pertaruhan yang mahal: nyawa-nyawa manusia.

Comments (3)

  1. […] super penting tentang ini dalam Bahasa Inggris. Ringkasannya juga bisa dibaca di artikel neswa ini dalam Bahasa […]

  2. […] Salah satu cara yang sejauh ini paling manjur adalah dengan sebisa mungkin menahan laju persebarannya.  […]

  3. […] diri saya emosi takut ini nampaknya melandasi ketertarikan semi obsesif pada berbagai artikel tentang covid-19, termasuk data-data rumit penuh angka dan tabel. Saya bahkan termotivasi untuk belajar tentang […]

Comment here