SLOW DOWN

Ada dua kabar tak menggembirakan: pengidap Covid 19 naik menjadi 96 dan ada petugas medis meninggal karena virus. Tentu wajar bila banyak yang cemas dan bahkan panik. Juga, barangkali wajar jika ada yang tidak panik, hanya khawatir.

Apa pun reaksi kita, pertengkaran dalam situasi yang membutuhkan kebersamaan sebagai sesama manusia tidak akan membantu. Misal, yang tidak panik malah “mengejek” orang-orang yang cemas dengan membawa-bawa agama. Kadang orang-orang yang beragama lupa bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Tuhan. Bahkan rasa tenang dan rasa takut juga terjadi karena memang Tuhan mengizinkan. Artinya apa? Hakikatnya apa yang kita rasakan adalah pemberian.

Idealnya, yang dianugerahi rasa tenang ikut membantu menciptakan situasi yang tenang, karena orang yang sedang takut biasanya sulit diminta ikut menciptakan ketenangan karena hati sedang dilanda ketakutan. Namun, mereka yang diberi rasa tenang sering berlebihan dengan menisbahkan rasa tenang itu ke kondisi hati, yang merasa diri lebih beriman dan karenanya merasa lebih dekat dengan Tuhan — melahirkan sebentuk arogansi keimanan.

Padahal, jika kita menyadari bahwa segala sesuatu adalah anugerahNya, maka kita akan melihat ada dua hal: kewajiban bersyukur diberi ketenangan, dan karena sudah tenang maka ada amanah untuk membantu dengan upaya sekecil apa pun untuk ikut mengajak orang lain tenang meski tetap waspada.

Mensyukuri anugerah iman dan ketenangan mestinya tidak dengan membangga-banggakan ketenangan diri dan merendahkan orang lain yang sedang amat khawatir. Jika, misalnya, engkau berhasil mengatasi ujian kekhawatiran dengan tetap tenang, maka ujian selanjutnya adalah menjaga agar ketenangan hati tidak berubah menjadi arogansi iman yang merasa imannya lebih baik. Kalau sadar bahwa ketenangan adalah anugerah, maka kita ingat Tuhan Yang Maha Rahman. Itu berarti ada amanah untuk ikut menguatkan yang lain agar tetap berusaha tenang, walau tentu masih ada khawatir. Kalau ada kesadaran seperti ini dan selalu ingat Tuhan, maka keyakinan kita insya Allah tidak akan berinflasi menjadi ujub atau sum’ah (bangga diri) dan berubah menjadi rasa kasih sayang. Kita akan ingin agar orang lain tetap ikut tenang.

Maka orang tenang yang sadar dan mawas diri akan tetap berendah hati. Bila hati telah tenang, maka kehambaan telah pada posisinya. Kini, aspek manusia bisa dijalankan dengan sikap kerendahan hati. Meski kita yakin pada ketentuan ilahi, aspek manusia akan terus berikhtiar.

Pada saat inilah kita menengok pada ilmu dan sains. Bila kita tidak punya otoritas di bidang itu maka kita akan dengan rendah hati mengikuti saran-saran dari pihak yang punya ilmu medis, dan otoritas, untuk membantu mencegah penyebaran virus. Pada akhirnya, yang tenang maupun yang panik akan sama-sama berusaha mencegah atau memperlambat penularan. Kalau ini terjadi dalam skala massif maka akan berkurang kepanikan karena semuanya berikhtiar dan tidak saling sok tahu atau sok lebih beriman. Akan berkurang kemarahan-kemarahan dan kejengkelan yang menguras energi dan melemahkan imunitas.

Jika makin banyak yang tenang dan sadar diri, itu mempermudah para dokter dan otoritas bekerja keras menangani pandemi.

Ketenangan akan membuat kita bisa berempati pada perjuangan semua tenaga medis dan otoritas—demi kita semua tetap sehat, mereka berjihad siang dan malam meneliti, melacak, mengobati, merawat dengan risiko mereka sendiri bisa ketularan. Sekarang, kita warga yang tidak punya kemampuan itu, apakah tidak bisa mensyukuri kondisi ini dengan cara membantu para pejuang kesehatan dengan mengikuti saran medis, tetap berusaha tenang dan bekerja sama, dan mendoakan agar para ahli medis diberi kekuatan, kesehatan dan keselamatan, diberi kesabaran dan ketenangan, ditambahkan ilmu dan pengetahuan agar cepat bisa mengatasi pandemi? Bukankah agama mengajarkan kita untuk saling tolong menolong dan berusaha berbuat kebaikan, bukan berlomba pamer siapa yang lebih patuh dan takut pada Tuhan?

Sekecil apapun usaha kita untuk saling menolong, itu amat berarti dalam situasi sulit yang mengancam semua umat manusia. Salah satu ciri orang yang memiliki sifat kasih sayang (rahman) adalah empati dan berusaha membantu.

Hidup kita mungkin terlalu ngebut dalam urusan dunia. Kita sekarang seakan dipaksa melambat, slowdown, untuk merenungkan kembali siapa diri kita, yang mudah tak berdaya hanya karena makhluk ciptaanNya yang mungil. Ini adalah saatnya membuktikan kepada Tuhan apakah iman yang kita pegang adalah rahmatan lil alamin atau sekadar keegoisan dan arogansi/kepongahan spiritual.

—teriring doa dan salam hormat sehormat-hormatnya kepada para dokter dan tenaga medis yang sedang berjuang. 🙏🙏🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *