Si Toksik yang Nggak Asyik, Sebuah Relationshit yang Tak Berharga

Lena, sulung dari tiga bersaudara berpenampilan biasa saja. Ketika jatuh cinta dengan lelaki populer di lingkungan tempat mereka beribadah, perilakunya terpengaruh, ia mulai terobsesi lebih kurus dengan berdiet. Usahanya berhasil dan akhirnya bisa berpacaran dengan Bryan.

Namun, lelaki itu masih terlihat bepergian dengan perempuan yang lebih cocok menjadi tante mereka. Dalam beberapa hal, jelas terlihat Lena ‘disetir’ Bryan yang tahu bahwa perempuan itu tergila-gila padanya. Perempuan itu tak peduli, malah tertantang untuk membuktikan kepada keluarga bahwa ia bahagia menjalani relasi percintaan itu.

Hanya Lena yang mengunggah kebersamaannya dengan Bryan di media sosial, lelaki itu tak pernah sama sekali. Lena juga yang pernah ditahan karena menggelapkan uang perusahaan tempatnya bekerja, demi memenuhi keperluan Bryan. Ayah Lena yang kemudian membebaskan anak perempuannya, bukan Bryan. Namun, anehnya tak sebersit pun adanya keinginan perempuan itu untuk mengakhiri hubungan mereka

Merasa familiar atau pernah dengar situasi tersebut? Bahkan isu ini kerap diangkat dalam tayangan sinetron maupun bacaan di aplikasi berdaya jual tinggi, yang berarti disukai oleh penonton atau pembaca.

Apakah masyarakat kita sudah toksik juga pikirannya menyikapi kenyataan yang menunjukkan relasi percintaan yang toksik? Atau karena semakin banyaknya kasus di sekitar?

Beberapa waktu lalu, penulis sempat berdiskusi dengan Maria Elysia, rekan sesama penerima program Beasiswa Literasi Media Digital yang diselenggarakan oleh Srikandi Lintas Iman dan Cerita Bineka – Yogyakarta. Ia pernah menjadi pembicara pada sebuah IG live, khusus untuk membahas Toxic Relationship.

Dari sharing tersebut, terungkap alasan seseorang bertahan dalam hubungan toksik.  

Waktu pacaran terlalu lama tanpa dilanjutkan ke jenjang pernikahan

Beberapa orang bilang, alangkah baiknya proses penjajakan selama pacaran melalui waktu yang cukup sebelum berlanjut ke jenjang pernikahan. Namun, untuk relasi percintaan yang tidak sehat, waktu pacaran yang lama akan membuat seseorang merasa tidak enak bila hubungan itu berakhir tiba-tiba. Keluarga akan melarang atau sekadar mempertanyakan mengapa hal itu sampai bisa terjadi. Termasuk bisa saja menyalahkan si perempuan untuk kesalahan yang tidak ia lakukan.

Mengakhiri relasi percintaan dianggap tidak baik secara agama

Ada aliran agama tertentu yang memiliki dalil untuk tidak melakukan pacaran atau aliran agama lain yang mengatakan, tidaklah baik berganti-ganti pasangan.

Untuk pacaran toksik, dalil ini menjadi jebakan untuk terus bertahan, meski sudah menyadari bahwa relasi percintaan itu tidak membuat mereka bahagia lagi.

Dalam kasus Lena yang akhirnya menikah dengan Bryan meski hubungan mereka sudah sangat ‘toksik’, berpisah tidak menjadi pilihan karena larangan agama.

Aktif melakukan hubungan seksual, sehingga memutuskan relasi percintaan adalah sesuatu yang aib dan merusak imej sebagai perempuan baik-baik

Untuk pacaran yang toksik, aktivitas seksual banyak dijadikan solusi ketika satu sama lain terlibat konflik, padahal masalahnya belum diselesaikan dengan baik.

Di sisi lain, aktivitas seksual menjadi perangkap untuk mencegah hubungan mereka berakhir. Perempuan menjadi takut karena merasa dirinya sudah tak berharga lagi, terhina karena berbuat hal yang tidak baik.

Perempuan menjadi ‘gudang’ uang atau dengan kata lain penyuplai kebutuhan dan ekonomi pasangannya

Pada beberapa kasus pacaran toksik, posisi perempuan berada pada status ekonomi yang lebih mampu. Seperti kasus Lena. Sampai setelah menjadi istri pun, ia sempat diperas Bryan untuk membiayai berbagai pengeluaran lelaki itu bersama kekasih barunya. Bila menolak, ancaman yang diberikan adalah perceraian yang begitu ditakuti Lena, apalagi setelah buah cinta mereka lahir.

Tekanan sosial, malu kalau putus karena lelaki anak pejabat, berstatus ekonomi tinggi, pintar, popular, tampan, dll

Kondisi ini kebalikan dari situasi sebelumnya. Pihak perempuan berada dalam posisi yang kurang atau tidak setara dengan pasangannya. Kekurangan itu sering digunakan sebagai senjata untuk memojokkan saat menemui konflik.

Dalam relasi percintaan yang toksik, perempuan bisa menjadi bahan kritikan, tertawaan dan sasaran kemarahan akan situasi yang terjadi. “Kamu miskin, tak berterima kasih sudah kupacari!” Atau “Kamu enggak tahu, berapa banyak perempuan yang lebih cantik yang mau jadi kekasihku?”

Usia perempuan sudah cukup matang sementara lelaki tidak memberi kepastian untuk menikah

Bagi masyarakat yang masih berpandangan di usia tertentu perempuan harus menikah, mempertahankan relasi percintaan meski bersifat toksik, menjadi jalan keluar yang dianggap paling bijak. Dengan harapan segera diresmikan ke jenjang pernikahan.

Kenyataannya, di satu sisi perempuan mendesak dinikahi, si lelaki merasa belum saatnya. Sehingga apabila lelaki merasa terancam terus, ia mungkin melakukan kekerasan atau perilaku buruk untuk membungkam pasangannya itu.

Adanya ancaman, bila putus akan disebarkan segala aib, foto personal atau chat mereka

Hubungan toksik di mana pihak lelaki pencemburu, posesif dan memosisikan diri sebagai yang ‘berkuasa’, ancaman menjadi senjata untuk membuat perempuan merasa takut dan tak berdaya.

Ancaman bukan sekadar memutuskan hubungan percintaan, melainkan juga mempermalukan perempuan dengan mengungkapkan segala hal personal melalui media sosial.

Lahir dalam keluarga dengan orang tua yang juga memiliki relasi toksik

Anak-anak secara alamiah, belajar dari sikap perilaku orang tuanya. Anak perempuan belajar bagaimana ibu diperlakukan atau memperlakukan ayahnya. Demikian juga anak lelaki, belajar bagaimana ayah memperlakukan atau diperlakukan ibu. Pihak siapa yang mengontrol dan yang dikontrol, bagaimana komunikasi ayah ibu, apakah terlihat natural atau ada yang sangat berhati-hati agar tak membuat pihak lain marah, serta siapakah pihak yang selalu disalahkan bila terjadi pertengkaran atau ketidaksepakatan dalam sebuah hal.

Anak-anak mengamati, meniru lalu mempraktikkannya saat mereka menjalin relasi dengan lawan jenis. Walau bisa saja mereka memiliki pemahaman baru seiring kedewasaan mereka, tanpa disadari rekaman kejadian sehari-hari tetap tertinggal dan menjadi salah satu referensi.

Lalu, bagaimana agar tidak terjerat dalam relasi percintaan yang toksik?

Hargailah Diri Kita !!

Kita bukan objek, melainkan pelaku untuk bertindak dan bersikap dengan kapasitas, kelebihan dan kebaikan kita. Kita sadar apa yang dilakukan, tahu apa yang kita mau dan bebas memilih segala sesuatu yang menjadi pilihan kita. Bukan dikendalikan orang lain atau menuruti kemauan orang lain.

Kita juga yang memilih siapa yang akan menjadi partner menikmati kebahagiaan bersama-sama. Partner berarti kedua belah pihak, bukan salah satu saja. Kita menyadari bahwa diri sendiri yang menciptakan kebahagiaan itu bukan orang lain. Kita memahami relasi percintaan kita adalah timbal balik, setara dan saling membahagiakan. Dan, kita pun tahu saatnya untuk mengambil keputusan dan mengakhiri hubungan, yang tidak akan membuat kita lebih baik, lebih maju dan lebih bahagia. 

You deserved to be happy, to love and to be loved.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *