Serial Perempuan Perawi Hadis V Sayyidah Juwairiyah, Perempuan Pembawa Berkah Untuk Kaumnya

Sayyidah Juwairiyah terlahir sebagai putri pemimpin suku Musthaliq yang merupakan bagian dari kabilah Khuza’ah. Beliau memiliki nama lengkap Juwairiyah binti Harits bin Abi Darar al-Musthaliqiyah. Sebelum menikah dengan Nabi saw., beliau bersuamikan sepupunya sendiri yang bernama Musafi’ bin Safwan bin Abi Syafr. Namun sesuai syariat, tepat ketika beliau masuk Islam, hubungan pernikahan dengan suaminya otomatis batal. Kemudian Juwairiyah menikah dengan Nabi saw. pada usia 20 tahun.

Peristiwa pernikahan Nabi saw. dengan Juwairiyah diawali oleh adanya pengkhianatan kaum Quraisy kepada kaum Muslim di Madinah. Mereka mencoba menghasut sejumlah kabilah sekutu mereka di pesisir Laut Merah untuk melakukan serangan ke Madinah. Di antara yang terhasut adalah Bani Musthaliq. Namun kaum muslim berhasil menumpas serangan tersebut dengan sedikit korban. Tercatat satu korban gugur dari pihak muslim dan sepuluh anggota dari suku Musthaliq. Bahkan umat muslim berhasil mendapatkan tawanan dan rampasan yang lumayan besar dari peristiwa tersebut.

Di antara salah satu tawanan tersebut terdapat Sayyidah Juwairiyah yang saat itu masih bernama Barrah. Pada awalnya beliau menjadi milik salah satu sahabat Anshar yang memberikan harga sangat tinggi untuk tebusannya. Namun beliau justru dibebaskan dan menjadi salah satu ummul mukminin. Nabi memberinya mahar sebesar 400 dirham. Kisah beliau hingga menikah dengan Nabi saw. disebutkan dalam riwayat Sayyidah Aisyah berikut ini:

Ketika Nabi saw. membagi tawanan bani Musthaliq, Juwairiyah menjadi bagian seorang laki-laki yang meminta sebuah tebusan. Dia adalah seorang perempuan yang manis dan elok wajahnya. Tidak ada seorang pun yang melihatnya yang tidak akan tertarik dengannya. Dia mendatangi Nabi saw. untuk meminta tolong tentang tebusannya. Sementara aku (melihatnya dari pintu kamar) tidak meyukai dia (cemburu) karena kecantikannya. Dia berkata: “Wahai Rasulullah! Aku adalah Juwairiyah putri Harits pemimpin kaumnya. Aku tertimpa musibah yang telah engkau ketahui pula. Aku telah bersepakat untuk membayar tebusan, tolonglah aku”. Lalu Nabi saw. memberinya tawaran: “aku bayar tebusanmu dan aku akan menikahimu”. Dia pun setuju. Berita ini sampai ke telinga orang-orang dan otomatis mereka membebaskan tawanan yang mereka peroleh dari bani Musthaliq. Pernikahanya dengan Nabi saw. menyebabkan bebasnya sekitar seratus keluarga. Aku tidak tahu ada seorang perempuan yang lebih besar berkahnya untuk kaumnya dari pada Juwairiyah binti Harits”.

Dalam ranah riwayat hadis, sebagaimana Ummul Mukminin lainnya, beliau masuk kategori perawi yang sedikit meriwayatkan hadis. Mungkin benar persepsi yang mengatakan bahwa dari seluruh Ummahatul Mukminin, masing-masing mendapatkan peran khusus yang tidak semuanya harus berperan di bidang pengetahuan. Sayyidah Juwairiyah adalah salah satunya. Beliau tercatat meriwayatkan sebanyak tujuh hadis saja, empat di antaranya disebutkan dalam kutubussittah. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari satu hadis dan dua hadis oleh Imam Muslim.

Di antara hadis yang beliau riwayatkan adalah tentang larangan berpuasa sunah pada hari Jumat, pahala doa menggunakan tasbih, kebolehan memberi hadiah kepada Nabi saw., walaupun berasal dari harta zakat dan lainnya. Di antara orang yang pernah menerima riwayat darinya adalah Abdullah bin Abbas, Kuraib, Mujahid dan Abu Ayyub Yahya bin Malik Al-Azdi. Berikut di antara hadis riwayat beliau:

“Dari Sayyidah Juwairiyah, pada suatu hari Jumat, Nabi saw. masuk ke kediaman beliau sedangkan beliau sedang berpuasa. Mengetahui hal tersebut, Nabi saw. bertanya: “apakah engkau berpuasa kemarin?” beliau menjawab: “tidak” Nabi saw. bertanya lagi: “apakah engkau ingin berpuasa lagi besok?” beliau menjawab tidak. Lalu Nabi saw. bersabda: “berbukalah!”.

“Dari sayyidah Juwairiyah, Nabi bersabda: “maukah engkau kuajari sejumlah kalimat yang jika dibandingkan maka akan setara dengan dudukmu yang lama. Atau jika ditimbang maka akan sama dengan timbangan (pahala) dudukmu yang lama itu (untuk membaca tasbih). Bacalah subhanallah adada khalqihi tiga kali, subhanallah zinata ‘arsyihi tiga kali, subhanallah ridlaa nafsihi tiga kali dan subhanallah midada kalimatih tiga kali”.

Sayyidah Juwairiyah wafat di Madinah pada tahun 56 Hijriyah. Sementara menurut riwayat yang lain beliau wafat pada tahun 50 Hijriyah. Beliau tutup usia pada usia antara 65 atau 70 tahun. Dari tujuh hadis yang beliau riwayatkan, Sayyidah Juwairiyah mengabadikan namanya di dunia riwayat hadis dan menjadi bukti bahwa beliau mendapatkan kemuliaan bisa mendampingi Nabi saw. dan menjadi salah Ummahatul Mukminin.

Allahu A’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *