EsaiPilihan Redaksi

Sebuah Kutipan dan Pengakuan Diri

“Akui saja saat lemahya kendali diri atau kehendak Anda tidak berkaitan dengan klaim kebenaran pendapat yang Anda kemukakan.”

Sepotong kutipan ini disadur dari buku “Logically Fallacious” (Terj.) karya Bo Bennett, Ph.D. Tulisan yang menghadirkan ratusan bentuk cacat logika dalam berkomunikasi ini, pada kiat ke 7-nya mengajukan suatu penawaran mutlak bahwa ada kalanya manusia perlu membongkar subjektivitasnya sendiri ketika berpendapat atau menyatakan keyakinan, alih-alih memaksakan kehendak. Sebab sangat mungkin sikap seseorang akan berkebalikan dengan apa yang menjadi klaim dirinya, hingga menjadi sesuai apabila subjektivitasnya turut dikemukakan.

Terkait hal tersebut, Bennet memberi permisalan ketika ayahnya mewanti pada dirinya, “Bo, jangan jadi orang goblok dan merokok seperti Bapak” tutur sang ayah, “Itu kebiasaan buruk yang Bapak tahu akhirnya akan membunuh Bapak. Jika tidak pernah coba-coba merokok. Kamu tidak akan ketagihan”. Dan di sana tertulis ayah Bennett meninggal pada usia 69 tahun karena kanker paru-paru.

Terlepas dari baik buruknya rokok bagi kesehatan tubuh, sesungguhnya kiat tersebut memperlihatkan bagaimana Ayah Bennett mengakui subjektivitas diri. Ketika sang ayah menuturkan agar anaknya tidak merokok, padahal dirinya sendiri adalah perokok berat. Lantas ia mengakui kelemahan diri, menerima ketidak mampuannya melawan nafsu ketagihan merokok, pun meyakini segala konsekuensi atas sifat rokok sebagai stimulus penyakit (kanker paru-paru) yang kelak ‘dianggap’ membunuh dirinya. Dus ia memegang keyakinan bahwa lebih baik anaknya tidak ketagihan merokok seperti dirinya.

Ucapan Ayah Bennett tak sekalipun menunjukkan perintah kepatuhan yang harus. Ia hanya menyampaikan keyakinannya perihal dampak ketagihan merokok terhadap kesehatan. Entah keyakinannya itu tepat atau tidak, lebih dari itu kasih sayang kepada anaknya adalah hal utama dari klaim yang disampaikan. Dan, sangat mungkin maksud dari klaim yang dikemukakan Ayah Bennett menjadi tidak berhasil tersampaikan kepada Bennett apabila sang ayah tidak menyertakan subjektivitasnya. Entah klaimnya dipatuhi atau tidak, Ayah Bennett lebih optimis kasih sayangnya tersampaikan kepada orang yang ia kasihi melalui pengakuan diri.

Serupa halnya ketika Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan ke bumi tak lantas menyalahkan iblis yang telah menjerumuskan diri keduanya. Alih-alih menyalahkan iblis, keduanya memilih mengakui kelemahan diri yang dengan mudahnya dapat dikalahkan oleh hawa nafsu, mengkhianati Kasih Allah swt. “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”[QS. 7: 23], hatur Nabi Adam a.s dan Siti Hawa kepada Allah swt.

Bagi masyarakat Jawa, pengakuan diri semacam ini adalah ritual saben pungkasan (baca; penghujung) hari. Ketika hendak mengistirahatkan tubuh, orang Jawa akan mengistirahatkan pikiran terlebih dahulu. Ia melakukan ritual Trisila Kejawen “ojo dumeh, eling lan waspada” (jangan merasa ‘paling’, senantiasa ‘mengingat’ dan ‘mawas diri’). Merenungi perputaran hari, apakah sehari itu pikiran masih dikerubungi banyak bias atau tidak. Apakah ucapan ada menyakiti orang lain atau tidak. Apakah laku sudah tepat untuk diri sendiri dan sekitar, atau malah sebaliknya. Serta, apa yang perlu diperbaiki dan tak perlu diulang kembali. Pada akhirnya, tak luput menghargai perjuangan diri yang telah mencoba lebih baik dari hari lalu.

Falsafah Jawa tersebut menyiratkan pesan bahwa tindakan seseorang diawali dengan bagaimana seseorang mengelola diri atas segala ilmu yang didapatkannya dalam kehidupan. Apa yang akan diperbuat diri esok hari ditentukan oleh perenungan pungkasan hari atas segala laku sehari penuh yang telah terlampaui. Hari esok semestinya lebih baik dari hari ini, sebab hari ini sudah berupaya lebih baik dari hari lalu. Pengalaman yang didapat detik ini, sangat mungkin menjadi pelajaran di sekian detik berikutnya. Sebab itulah patutnya manusia selalu mengingat kemungkinan lemahnya diri agar senantiasa waspada menghadapi segala kepastian yang menanti. Supaya tidak sembarangan diri ini dalam berucap dan bertindak.

Bagaimana Ayah Bennett ‘eling’ (mengingat) ia tak dapat melawan ketagihan merokok atau Nabi Adam dan Siti Hawa yang tidak mampu mengalahkan hawa nafsu, yang kemudian memunculkan sikap waspada terhadap segala kepastian yang mungkin terjadi, yakni ketagihan (berlebihan) merokok oleh Ayah Bennett dapat ditiru oleh sang anak sehingga perlu diantisipasi atau kegagalan Nabi Adam dan Siti Hawa melawan nafsu dapat menjadikan keduanya orang yang merugi apabila tiada memperoleh belas kasih Tuhan. Pada perjalanan selanjutnya, apa yang telah Ayah Bennett rasakan, tak lantas menjadikan diri ‘merasa’ paling benar dengan memaksakan klaim kepada anaknya. Ia sekadar menasehati, bukan memaksakan kehendak kepada sang anak.

Sikap ‘merasa’ paling benar sejatinya dapat menghinggapi siapa saja. Sikap demikian biasanya akibat dari keengganan berhati-hati melihat di kedalaman diri. Seluruh manusia rentan terhadapnya, bahkan al-Qur’an pun telah mewanti kerentanan manusia atas sifat arogan dan berbuat serampangan ini, fa lā tuzakkū anfusakum, huwa a’lamu bimanittaqā, “maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” [QS. 53:32]. Bahkan jika mampu, lebih dari melihat ke dalam diri sendiri, seseorang perlu menertawakan dirinya sendiri. “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah..”, ucap Gus Dur, “petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak, dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain”

Perihal ibadah pun, manusia rentan terjangkit sikap dumeh ini. Akeh kang apal Quran Haditse, seneng ngafirke marang liyane. Kafire dhewe gak digatekke, yen isih kotor ati akale. Banyak yang hafal al-Qur’an dan hadits, senang mengkafirkan kepada orang lain. Kafirnya sendiri tidak dihiraukan, jika masih kotor hati dan akalnya. Barangkali demikian “Syiir Tanpa Waton” mewanti manusia untuk senantiasa melihat ke dalam diri, mengoreksi atas segala ibadah yang telah terlampaui, alih-alih menumpuk ibadah dzahir, memikirkan pahala pribadi, tanpa sekali pun mengevaluasi.

Pun jangan-jangan ketika menghujat seorang polisi di Amerika sana -yang karena dengkulnya, seorang Floyd tewas- namun tanpa disadari di keseharian, pikiran, ucap, maupun laku kita mewujud dalam kebencian rasial. Atau ketika kita marah pada hasil tuntutan kurungan penjara kurang dari 1 tahun kepada pelaku penyiraman Novel Baswedan, jangan-jangan tanpa diketahui, kerap diri ‘tidak adil’ dalam berpikir, berucap, dan bertindak. Barangkali, demikian seharusnya manusia “haasibu anfusakum qabla antuhasabu”, senantiasa berintrospeksi diri sebelum kelak dihisab oleh Allah.

Wahai Tuhanku! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim. Bagaimana perasaan Anda setelah terang-terangan mengaku dan meminta kepada Yang Maha? Kembali kita merenungi sebuah syair pengakuan diri (i’tiraf) Abu Nawas –pujangga besar Arab yang hidup di zaman khalifah Harun Al-Rasyid– ini. Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi… Lemahnya diri sebagai makhluk nista adalah keniscayaan yang perlu diterima dengan lapang cum dengannya kita dapat bermuhasabah (memahami sekaligus merenungi diri) bersama Sang Khalik, atau tepatnya muhasabatun nafsi.

Ada kisah, seorang kiai yang tak pernah dipanggil kiai oleh para santrinya, Pak Ali Maksum, pernah menghukum (takzir) muridnya, A. Mustofa Bisri, untuk membersihkan kamar mandi. Muridnya tersebut dihukum lantaran sang kakak yang tidak mengaji. Aneh. Selang waktu menjalani hukuman sembari berpikir dan ditunggui oleh sang guru, ternyata memang murid tersebut mengakui dirinya yang egois, karena terburu-buru lantas berangkat mengaji tanpa membangunkan sang kakak yang tertidur pulas. Makanan yang sedikit saja diharuskan berbagi, apalagi untuk mendapat banyak ilmu. (Disarikan dari buku “Melihat Diri Sendiri” karya A. Mustofa Bisri).

Demikian menerima segala kelemahan diri adalah pintu kita menemui sikap tawadhu’ dan menekan nafsu arogan agar layak berada di ‘hadapan’-Nya, manusia semestinya “bisa merasa” bukan lantas “merasa bisa”. “Mulo ojo dumeh, kudu tansah eling lan waspodo. Sebab ono luwih, luwih soko ono. Kang kebak, luwih dening kebak. Kang suwung, luwih dening suwung. Kang pinter, luwih dening pinter. Kang sugih, luwih dening sugih…”, dan seterusnya, begitu kiranya dawuh Kiai Semar atau Saronsari atau Ki Lurah Badranaya atau Nayantaka atau Puntaprasanta atau Bojagati atau Wong Boga Sampir atau Ismaya atau Malen atau Tualen.

Comment here