“Your value is not based on your productivity”

Pernah dengar peribahasa seperti kalimat di atas? Ya, kebanyakan dari kita, termasuk saya, menganggap bahwa menjadi produktif dapat meningkatkan value kita. Ya donk, produktivitas biasanya berjalan seiringan dengan tanggung jawab, disiplin, etos kerja dll. Tapi apakah kemudian value yang kita miliki akan berkurang ketika produktivitas kita menurun? Tentu saja tidak.

Well, ini adalah pengalaman yang biasa kita lihat sehari-hari bahwa untuk menilai seseorang kita akan melihat apa yg seseorang itu lakukan atau bahasa pas-nya seh, associating who we are with what we do.

Dari pandangan inilah kita lantas cukup mahir untuk selalu tampil on mode. Selalu berpikir dan berupaya keras untuk dapat melakukan ini itu, creating something dan selalu berusaha untuk melakukan apapun agar produktif dan bekerja keras terus menerus. Sehingga ke ‘aku’ an-nya semakin jelas terlihat di mata orang lain.

Dan ya pada akhirnya diri kita sendiri juga akan mengasosiasikan who we are dengan what we do. Konsep ini berjalan terus dan terus, terlebih adanya media sosial yang semakin mempertajam dan memperjelas makna siapa kita dari sebatas pemahaman tentang apa yang kita lakukan.

Nyatanya, kehidupan tidak melulu soal bekerja dan being productive. Ada emosi, feeling, imajinasi, refleksi, kondisi-kondisi tertentu yang tidak memungkinkan untuk terus melakukan ‘sesuatu’, dan hal-hal kecil tentang bagaimana menjalin hubungan baik dengan diri kita sendiri, alam, dan semuanya.

Kehidupan sangatlah kompleks. Ada banyak hal yang layaknya juga butuh diperhatikan untuk menjaga keseimbangan. Berefleksi butuh untuk menyepi, mengolah imajinasi butuh kesunyian. Tidak lantas semua dapat diraih dengan what the so called ‘productivity’.

Bagi beberapa orang menjadi sibuk mungkin merupakan sebuah kebanggan. Sibuk ini itu membuat orang dianggap telah melakukan banyak hal bermanfaat dan penting bagi orang lain. Saya sendiri tipikal orang yang gemar melakukan banyak hal, atau punya banyak komitmen. Meskipun belakangan ini saya berlatih betul untuk benarĀ² fokus memilih beberapa kegiatan dan pekerjaan yang sesuai dengan atensi saya saat ini.

Dan saya banyak terbantu juga oleh pilihan ini, sehingga tak lagi ada endemi multitasking yang justru membuat kita hilang arah, membuang energi dan terlalu letih untuk memikirkan diri sendiri.

Saya jadi teringat dialog dalam sebuah drama Korea terbaru yang mengatakan bahwa orang tua yang baik itu adalah mereka yang menjaga betul diri mereka, termasuk kesehatan diri, baik fisik, mental dan hal-hal lain dalam hidupnya.

Ketika orang tua sehat secara fisik, mental dan spiritual, bisa dipastikan keluarga dan orang-orang di sekelilingnya juga akan merasakan kebahagiaan dan kenyamanan. Itulah kenyataannya.

Lantas bagaimana dengan orang tua yg bekerja susah payah memikirkan keluarganya dan lupa dengan dirinya sehingga menyebabkan sakit dll? Dalam dialog tersebut, orang tua yg seperti itu adalah orang tua yang egois. Anda boleh sepakat atau tidak dengan ini. Tapi memanglah benar, bahwa tenggung jawab diri adalah kunci.

Individual responsibility, ya kata-kata ini lah yang juga keluar dari sebuah wawancara televisi luar ketika melakukan wawancara kepada orang-orang tua (elderly people) tentang apa pesan yang paling penting anda berikan kepada generasi muda?

Jawabannya adalah tanggung jawab individu atas well-being nya dalam kondisi apapun. Kondisi terbaik, atau biasa disebut dengan mindfulness atau state of mind ini tak akan bisa diraih ketika kita tidak dapat meluangkan waktu untuk sejenak melakukan refleksi dan mencintai apapun yg terjadi dalam kehidupan. Termasuk ketika tidak dalam kondisi ‘produktif’ yg dipahami dengan melakukan sesuatu.

Istilah produktif yg kita pahami hari ini adalah sebuah ilusi. Sama halnya dengan ‘passion’ dan ‘kesuksesan’. Bisa jadi pemahaman tentang being productive yg kita pahami hari ini justru mengantarkan pada kesehatan fisik dan mental yg akhirnya timpang karena ketidakseimbangan.

Bagi saya pribadi belajar untuk mentoleransi ketidakproduktivan adalah bagian dari perjalanan kehidupan itu sendiri. Karena dalam situasi tidak produktif pun sebenarnya kita sedang baik-baik saja, kita sedang merehatkan energi yg kita peras sedemikian rupa yang terkadang hanya untuk menunjukkan bahwa kita sangat produktif.

Rehat sejenak dan enyahkan pemahaman-pemahaman produktivitas yang salah kaprah, karena kita tau betul bahwa ada hak-hak lain dalam tubuh, jiwa dan pikiran kita yang butuh untuk dijaga, diajak berdamai, dan diakui.

Tidak produktif memang terlihat menakutkan, terutama bagi beberapa orang yg terbiasa bekerja keras dan disiplin. Alasannya tentu juga sangat kompleks, namun alasan jeleknya adalah takut untuk tidak lagi dihargai, dan tak lagi dianggap penting bagi orang lain. Maka tak heran ada yg beranggapan bahwa kehilangan produktivitas adalah kehilangan jati diri. Value kita seakan mendadak roboh seiring dengan produktivitas yg menurun.

Saya pribadi selalu mengupayakan ketika melihat seseorang saya tak lagi dibuat nggumun dengan hanya menilainya dari produktivitas semata. Ada banyak value lain yg dimiliki seseorang yg tak terlihat di sosial media. Saya tak ingin menilai seseorang yg saya kenal tereduksi hanya sebatas dari ‘apa yang dia lakukan’. Itu saja.

**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *