Sayyidah Zainab: Perempuan Pemberani dalam Tragedi Karbala (Bagian 1)

Tragedi Karbala merupakan peristiwa sejarah yang menorehkan luka mendalam sebagai akibat dari perselisihan panjang yang melanda kaum Muslimin, terutama sekali setelah peristiwa fitnah pasca meninggalnya khalifah Usman bin Affan. Dalam peristiwa tersebut sebagian dari keturunan Nabi Saw terbunuh, termasuk cucu kesayangan beliau Husain bin Ali.

Saat itu, rombongan Husain hanya berjumlah 72 orang dengan 32 prajurit berkuda dan 40 orang pejalan kali, selebihnya adalah perempuan dan anak-anak harus menghadapi 4000 pasukan yang telah disiapkan oleh Ubaidillah bin Ziyad dengan persenjataan lengkap. Peristiwa yang terjadi pada tanggal 10 Muharram ini kemudian selalu diperingati, terutama oleh kalangan Syi’ah, sebagai bentuk ungkapan keprihatinan dan kecintaan kepada keturunan Nabi Saw.

Salah satu sosok perempuan yang dikenal pemberani yang kemudian diberi julukan sebagai srikandi Karbala adalah Sayyidah Zainab. Dia adalah salah satu cucu Nabi Saw dari buah perkawinan putri tercintanya Fatimah Az-zahra dan Ali bin Abi Thalib serta merupakan adik perempuan dari Hasan dan Husain bin Ali. Sayyidah Zainab dikenal setia mendampingi saudaranya Hasan dan Husain dalam berbagai peristiwa besar, termasuk saat peristiwa kelam nan memilukan di Karbala.

Adik dari Hasan dan Husin ini lahir ke dunia sebagai berita gembira bagi keluarga besar. Nama Zainab diberikan oleh kakeknya Muhammad Saw sebagai pengingat akan puteri beliau yang juga bernama Zainab dan telah meninggal sebelum kelahiran cucunya tersebut. Saat itu Nabi Saw masih merasakan  kehilangan atas meninggalnya putri beliau.

Masa balita Zainab dilalui dengan kegembiraan dan limpahan kasih sayang, baik dari kedua orang tuanya maupun dari kakeknya Muhammad Saw. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena saat usianya belum genap lima tahun Zainab telah kehilangan kakeknya yang penyayang. Suasana yang menakutkan dan menyedihkan terukir dalam kenangan kecilnya terutama ketika melihat jenazah Nabi Saw dimasukkan ke dalam keranda dan kemudian dikebumikan.

Tidak lama berselang setelah kepergian kakek tercintanya, kurang lebih enam bulan kemudian, Zainab kembali merasakan duka yang mendalam dengan kepergian ibunda tercintanya Fatimah Az-Zahra. Setelah kehilangan kakek dan ibu yang sangat dicintai, Zainab merasakan sepi dan hampa, yang kemudian menjadikannya sebagai sosok yang lebih dewasa dari anak seusianya. Hal ini karena Zainab juga menerima wasiat dari ibunya Fatimah saat sakit menjelang wafat, di mana dia harus tetap menemani kedua saudara laki-lakinya Hasan dan Husein dan berperan menjadi ibu bagi mereka berdua sepeninggal ibunya.

Semenjak masa kanak kanak, Zainab kecil sudah terlihat sebagai sosok anak yang cerdas dan pemberani. Karenanya dia dijuluki dengan Aqilah yang berarti orang yang berakal atau cerdas. Gelar ini sangat melekat dengan Zainab, sehingga jika ada yang mengatakan Aqilah, maka hal itu pastilah merujuk pada Zainab binti Ali. Aqilah Zainab menjadi saksi sejarah bagaimana kekhalifahan berpindah pindah setelah wafatnya Nabi Saw, hingga kemudian sampai di tangan kekhalifahan bani Umayyah.

Pergantian kekhalifahan tersebut tidak selalu berjalan mulus dan bahkan mengakibatkan perselisihan dan pertumpahan darah sesama muslim. Hal ini dirasakan terutama setelah ayahnya Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah menggantikan Usman bin Affan.

Saat itu Ali bin Abi Thalib menghadapi perlawanan dan tuntutan untuk mencari pembunuh Usman yang datang dari para sahabat, di antaranya dipimpin oleh istri Rasulullah sekaligus nenek tirinya yaitu Aisyah binti Abu Bakar. Suasana bergejolak selama beberapa tahun tersebut menjadi embrio terjadinya perpecahan di kalangan umat Islam Muslim dan bahkan dampaknya masih dirasakan hingga saat ini.

Tragedi Karbala sebenarnya merupakan kelanjutan dari berbagai peristiwa yang telah terjadi sebelumnya. Mulai dari terbunuhnya Ali bin Abi Thalib oleh seorang Khawarij, yang dilanjutkan dengan penyerahan kekuasaan oleh Hasan bin Ali kepada Mu’awiyah karena adanya pengkhianatan, hingga terbunuhnya Hasan yang diracun oleh istrinya sendiri karena pengaruh pemerintahan Mu’awiyah.

Semua peristiwa politik pada masa itu saling terkait satu sama lain hingga kemudian peristiwa berdarah di Karbala terjadi. Zainab tidak pernah bisa melupakan kejadian saat jasad Hasan ini dilarang untuk dikuburkan berdampingan dengan Nabi Saw. Bahkan dalam beberapa catatan sejarah disebutkan selama pemerintahan Mu’awiyah berkuasa, keburukan Ali bin Abi Thalib serta Hasan saudaranya selalu disebut di dalam khutbah-khutbah, sebaliknya keutamaan Ali bin Abi Thalib dilarang untuk diungkap ke publik. Puncaknya ketika Mu’awiyah mengangkat putra mahkotanya Yazid sebagai khalifah dan kemudian memaksa semua orang untuk berbai’at termasuk Husain dan Abdullah bin Zubair yang menolak berbaiat.

Dari sini kemudian Husain memutuskan untuk melakukan perjalanan bersama semua anggota keluarga besar dan pengikutnya dari Madinah ke Irak, di mana banyak orang di sana akan membaiatnya dan melakukan perlawanan kepada pemerintahan Yazid.

Meskipun beberapa sahabat telah mengingatkan Husain untuk tidak meninggalkan Madinah, tetapi Husain bersikukuh untuk berangkat menuju Irak. Sebagai adik, Zainab pun selalu memberikan dukungan dan berada di samping Husain serta memimpin para perempuan yang ikut dalam rombongan tersebut. Zainab sendiri juga merasakan betapa berat untuk kembali ke Irak, tempat dimana mereka pernah merasakan kebahagiaan bersama ayahnya Ali bin Abi Thalib pada masa kejayaannya. Tetapi saat akan kembali lagi kesana, mereka tidak mengetahui secara pasti bagaimana kondisinya.

**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *