Rumi: Ramadan, Hari Raya Untuk Kita

Kehidupan manusia pada hakikatnya selalu berjalan dengan atau tanpa adanya kita di dalamnya. Salah satu penanda serta alarm kehidupan manusia adalah bergantinya satu bulan ke bulan lainnya, baik itu menurut penanggalan Hijriah ataupun Masehi. Dalam penanggalan Hijriah terdapat satu bulan bernama Ramadan dan bulan itulah satu-satunya bulan yang disebut dalam Al-Qur’an sebagaimana telah termaktub dalam Surat Al-Baqarah Ayat 185.

Selain menjadi satu-satunya bulan yang disebutkan dalam Al-Qur’an, Ramadan juga disifati oleh Nabi Muhammad Saw sebagai bulan yang penuh berkah dan ampunan. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Muhammad Saw. bersabda;

“Apabila Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR.Bukhari no.3277)

Sedangkan dalam riwayat Imam Nasa’i dan Imam Ahmad terdapat tambahan; “Telah datang kepadamu Ramadhan, bulan yang penuh berkah.”

Saking spesialnya bulan Ramadan, tak salah jika setiap umat muslim di seluruh penjuru dunia selalu menanti kedatangannya, termasuk muslim Indonesia. Sebagian dari mereka ada yang mengisi bulan Ramadan dengan acara kumpul keluarga, sebagian lagi ada yang mengisi dengan “ngaji posonan” seperti yang dilakukan oleh pesantren-pesantren Jawa, sebagian lagi ada yang menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan kuliner dan masih banyak lagi cara-caramenyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Lantas apa makna sebenarnya Ramadhan?
Jika dilihat secara etimologi, dalam kamus al-Mu’jam Al-Wasith, Ramadan berasal dari kata رمض yang memiliki makna panasnya batu karena sengatan sinar matahari, panas yang membakar, dan hujan yang turun sebelum musim gugur. Jadi makna Ramadan sangatlah lekat dengan arti panas, selain karena memang penamaan bulan-bulan hijriyah pada saat itu didasarkan pada realitas sosial dan cuaca geografis.

Secara terminologi, Ramadan memiliki banyak makna. Salah satunya, menurut pendapat Imam al Qurthubi, yaitu bulan pemanasan untuk mengasah senjata sebagai persiapan perang di bulan Syawal, sebelum masuk tiga bulan suci berikutnya yang telah disepakati haram melaksanakan perang. Adapun makna terminologi menurut perspektif Maulana Jalaluddin Rumi sebagaimana yang termaktub dalam buku Divan e Syams-nya, Ramadhan adalah:

آمد رمضان و عيد با ما ست
قفل آمد و آن كليد با ما ست
بر بست دهان و ديده بگشاد
وان نور كه ديده ديد با ما ست
آمد رمضان به خدمت دل
وان كش كه دل آفريد با ماست
در روزه اگر پديد شد رنج
گنج دل نا پدید با ما ست
کردیم ز روزه جان و دل و پاک
هر چند تن پلید با ما ست
روزه به زبان حال گوید
کم شو که همه مرید با ما ست
چون هست صلاح دین در این جمع
منصور و ابا یزید با ما ست

“Oh…Ramadan telah tiba, saatnya hari raya untuk kita
Pintu tertutup rapat, namun kunci ada bersama kita
Diam, berbicaralah dengan jiwa
Karena Dia bersama kita
Oh…Ramadan telah tiba, saatnya hati untuk menyapa
Karena Dia yang menciptakan hati sedang bersama kita
Jika kau temui kesulitan dalam ibadah puasa
Percayalah, Dia akan memudahkannya
Hati dan jiwa pun akan menjadi suci dengan puasa
Walaupun tubuh dan badan masih tetap sama seperti biasa
Lalu, ibadah itu berkata;
Hai, tundukkanlah dirimu
Dia melihatmu
Ikutilah sosok Sholahuddin, Mansur dan Ba Yazid
Mereka telah dulu tunduk dihadapan-Nya.”
(Rumi, Divan e Syams, Qazaliyyat, 370)

Rumi dalam sya’ir-nya tersebut menganalogikan Ramadan sebagai hari raya bagi kita, hari saat semua manusia bersenang-senang atas kedatangannya. Analogi ini sangatlah sesuai dengan apa yang disampaikan Nabi Muhammad Saw. dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam An-Nasa’i di atas.

Setelah menganalogikan Ramadhan dengan hari raya, Rumi menjelaskan bahwa dengan datangnya bulan Ramadan maka saatnya kita berinteraksi lebih intim dengan Sang Pencipta. Ini karena di dalam bulan Ramadhan terdapat ibadah puasa, ibadah yang memiliki nilai tersendiri di sisi Allah Swt. daripada ibadah lainnya. Hingga ada sebuah hadis yang mengatakan; “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Swt. berfirman; kecuali amalan puasa. Amalan tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR.Muslim no.1151)

Setelah itu, Rumi lantas menerangkan fungsi ibadah puasa. Salah satu fungsi ibadah puasa adalah sebagai alarm bagi kita untuk tunduk dan patuh sebagai hamba Allah Swt. Selain itu, puasa juga berfungsi sebagai pembersih diri dari kotoran-kotoran yang telah lama bersemayam dalam dhohir dan batin diri kita.

Sedangkan untuk penutup syairnya, Rumi menyebut beberapa sufi yang telah arif billah dan suci jiwanya agar kita bisa mencontoh sejarah hidupnya. Dengan mengambil pelajaran kehidupan orang-orang terdahulu, maka kehidupan yang akan kita jalani ini menjadi lebih ringan dan mudah karena sudah tergambar sebelumnya dan tinggal mencontohnya.

Adapun untuk kesimpulannya, Ramadan menurut perspektif Jalauddin Rumi adalah bulan ketika kita diperintahkan untuk bersenang-senang karena bulan Ramadhan adalah hari raya bagi kita sekaligus saat untuk mendekat dengan sedekat-dekatnya kepada Allah Swt. agar hati dan jiwa kita selalu merasa nyaman dalam menjalani kehidupan.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *