Ruang Baca Pembaca “Hati Suhita” & Penanda “Kebangkitan” Sastra Pesantren (?)

Ruang Baca Pembaca “Hati Suhita” (Bagian 2, terakhir)

Tulisan ini bagian terakhir dari tulisan sebelumnya https://neswa.id/artikel/bagaimana-proses-persalinan-novel-hati-suhita-bag-1/

Sekira dalam waktu dua hingga tiga bulan, akhirnya naskah HS berhasil dilahirkan dalam bentuk fisik sebagaimana dinanti-nanti oleh ribuan pembaca. Di sini, HS melompat sendiri. Lompatan yang tinggi bahkan. Menciptakan ‘pasar’ bagi para pembaca yang memburunya lengkap dengan euforia luar biasa riuh. HS seakan-akan menjadi bukan milik penulis (aplagi saya sebagai editornya). Tapi sah menjadi milik pembaca. Gegap gempita para pembaca itu bahkan terekam sebagai ‘prestise’ tersendiri manakala mereka berhasil menjadi pembaca pertama atau pemilik novel ‘gelombang pertama’. Mengapa disebut demikian? Lantaran HS dicetak dengan pola ‘gelombang’ sebagai penanda urutan. Misal gelombang pertama adalah novel yang dicetak sebagai cetakan pertama. Gelombang pertama ini jumlah eksemplar lima ribu langsung ludes terpesan. Bahkan sejak gelombang pertama dibuka ‘semacam’ pre-order (saya katakan ‘semacam’ karena tidak bisa dikatakan sebagai pre-order konvensional sebagaimana lazimnya), gelombang kedua, ketiga, dan seterusnya sudah tertib mengantri. Rata-rata setiap gelombang mencetak 5 sampai 10 ribu eksemplar. Jika dibuat urutan ‘cetakan’, per seribu eksemplar adalah satu cetakan. Jadi cetakan pertama seribu eksemplar, dua ribu kedua dikategorikan cetakan kedua, dan seterusnya [wahai percetakan, kalau keliru silakan diklarifikasi]. Saya tidak begitu mengikuti perkembangan euforia ini dengan baik. Terkadang hanya sekali dua atau sepintas dua pintas saya mendengar. Selebihnya saya ‘off’.

Saya kemudian melakukan pembacaan ulang atas novel HS yang berbentuk fisik tersebut. Senang karena akhirnya ada yang berkenan menuliskan masukan dan kritik, menyasar kekeliruan demi kekeliruan yang masih banyak terdapat di dalam buku itu. Sebagai evaluasi untuk kepenulisan mendatang bagi penulisnya, perlu dihadirkan seorang pemeriksa aksara. Khusus untuk memperbaiki tulisan yang sifatnya teknis. Hal ini sangat penting dan tidak bisa dikesampingkan. Seorang pembaca tekun akan merasa ‘terusik kenyamanannya’ tatkala menjumpai kesalahan penulisan. Bahkan semisal hanya satu huruf pun!

Saya mendengar dan mendapati ruang pembaca yang seakan dengan sendirinya terbentuk. Mereka, para pembaca yang sebelumnya tidak pernah/jarang membaca buku atau bahkan membaca karya sastra, pada akhirnya kesengsem lalu membaca HS hingga khatam. Bahkan ada yang sampai memelototi telepon pintar mereka untuk membaca naskah itu. Ruang pembaca HS juga terjadi secara alami melalui penyebaran massif tautan episode HS ke grup-grup whatsapp atau akun-akun media sosial dari ragam kelompok masyarakat. Di kala iklim membaca di negeri ini belum terbentuk baik dan dikeluhkan banyak pihak, kabar ini menjadi sesuatu yang menggembirakn bagi dunia literasi.

HS muncul setelah sebelumnya didahului oleh novel Wigati karya penulis yang sama. Novel HS menjadi novel yang diperbincangkan di mana-mana, kendati ruang perjumpaan ke tangan pembaca tetap hanya mengandalkan ‘jalur indie’. Secara kebetulan pembaca didominasi para perempuan, terutama entitas perempuan dewasa dan para ibu muda. Tak kalah menarik untuk dikulik bahwa para pembaca memiliki ragam latar belakang. Tidak hanya berasal dari kalangan pondok-pondok pesantren dan lembaga pendidikan keislaman tertentu, sebagaimana selama ini kuat terlihat dan diklaim, tetapi juga berasal dari latar sosialita hingga kalangan Islam menengah perkotaan/urban. Beberapa kawan sempat berseloroh bahwa dilihat dari segi muatan novel memang sarat khasanah pondok pesantren yang khas, persoalan yang lazim terjadi, serta segudang konflik yang khas pesantren pula. Akan tetapi, sungguh di luar dugaan bahwa entitas di luar pesantren pun bisa turut menikmatinya.

Hal inilah yang kerapkali menjadi pertanyaan dalam kajian-kajian terkait budaya dan literasi keislaman masa kini. Kemajuan medium yang menggelar bahasa menjadi penopang tak kalah besar jasanya. Bagaimana zaman dengan kemajuan digital memberikan ruang-ruang perjumpaan yang jauh di luar prediksi. Bagaimana terjadi persilangan dan persalingan wacana dan nilai-nilai yang terbentuk sendiri. Tampak betul dari bagaimana ruang pembaca itu riuh oleh ragam komentar.

Penanda “Kebangkitan” Sastra Pesantren (?)

Kembali ke tema tulisan ini, tepatkah asumsi beberapa orang yang menyatakan bahwa novel HS ini menjadi penanda kebangkitan sastra pesantren? Ada lebih dari sekian argumen untuk memeriksa kebenarannya, termasuk (jika diperlukan) mendinamisasikan lagi persentuhan dan perdebatan wacana tentang apa dan bagaimana sastra pesantren itu sendiri.

Dalam hemat saya beberapa tahun belakangan, beriring dengan pesatnya dunia virtual terutama media sosial, karya sastra pesantren justru tampak seperti ‘lesu’. Tidak banyak ditemui karya sastra pesantren (dengan varian maknanya) dalam perbincangan sastra Indonesia hari ini. Latar belakang yang mendasarinya hingga kini belum saya pahami secara utuh dan memuaskan. Sebagai sebuah gerakan pun (jika masih ada), sastra pesantren belum mampu menahan ruang sastranya untuk didedahkan secara berkesinambungan. Termasuk sastra pesantren dengan genre populer sekalipun!

Saya tidak tahu dan belum bisa meramalkan akankah sastra pesantren (baca: produksi karya) memiliki daya tahan yang memadai di dalam melakukan arus dan arah perjumpaan santer di luar sana secara terus-menerus. Hal yang memungkinkannya membentuk sebuah irisan tertentu atau justru memapankan dirinya sendiri dalam khasanah sastra Indonesia.

HS muncul seakan ‘mencuri’ momen. Saat perhatian sebagian besar publik berpusar pada pertarungan sengit politik nasional khususnya di lini masa media sosial, HS maju ke tengah gelanggang dengan mengusung dunia kisah tersendiri. Ketika situasi politik nasional disulut suhu memanas, HS muncul “di tengah-tengahnya” seolah angin penyejuk. Mengalihkan sejenak ruang konflik yang didominasi gonjang-ganjing berita, cuitan kebencian, menghasut, dan merisak hubungan antarindividu anak negeri, tak terkecuali entitas dari beberapa perempuan yang turut terlibat. Sekurangnya, HS menghadirkan sesuatu yang lain bagi pembaca yang kebanyakan entitas perempuan. Kelompok yang tempo hari marak diperbincangkan sebagai ‘pemandu sorak’ dari sekian sasaran dan pembuat hoax. Kelompok yang kerap disebut sebagai sasaran empuk dan terampuh bagi tembakan hoax, ditambah anggapan bahwa perempuan merupakan komunitas rendah melek literasi sehingga turut berperan menjadi reseller dan promotor ujaran kebencian. Selarik kronik memprihatinkan dalam laku sejarah peradaban sejarah sosial politik di Indonesia.

Sebagaimana yang saya tulis dalam “pengantar editor” novel HS, produksi karya yang mengulik kehidupan terdalam dari sebuah pesantren, terutama yang terkait dengan pengalaman perempuan berjumpa dengan kejawaan masih sangat minim. Padahal perempuan selalu memiliki pengalaman dan lipatan pengetahuan yang khas dan banyak! Khilma Anis menjadi satu-satunya yang berhasil menggulung pendapat saya itu. Sejak awal dia menulis novel atau cerita dalam bentuk lain, selalu Jawa berikut kejawaan disuguhkan. Dia meraciknya dari aneka olahan yang ‘mengawinkan’ dunia kebatinan Jawa, perempuan Jawa, dan pesantren. Sesuatu yang jika dirunut secara ‘geneologis’ sejatinya sudah terkawinkan sejak mula. Jawa dan pesantren memiliki sejarah panjang dalam tradisi keberislaman negeri ini. Semacam kisah klasik namun apik.

Novel HS menyuguhkan lain, ada sederet ‘amaliah’ dari laku spiritual keislaman seorang perempuan pesantren. Mendaras hapalan kitab suci, mutholaah kitab kuning, tafsir, hingga ritual ziarah kubur ke makam orang-orang saleh. Memotret dunia batin perempuan pesantren di mana sistem patriarki masih menancapkan kukunya dengan memposisikan perempuan sebagai subordinat. Saya pribadi menyatakan tidak sanggup menulis seperti Khilma Anis di HS ini. Betapa beratnya ‘memindah’ sesuatu yang telah melekat sehari-hari ke ruang perjumpaan lain dengan medium bahasa cerita. Sungguh tak ringan menyajikan racikan kisah dengan spetrum khas pesantren, merengkuhkan antara nilai-nilai hidup dari ajaran agama dan kejawaan, juga kisah cinta dewasa nan getir. Sebuah kesulitan berlapis untuk menyuarakan kepedihan yang dibungkus sekian argumen. Apalagi kadung lazim dipahami publik bahwa dunia pesantren selama ini ‘tersembunyi’ dari hal-hal yang bisa dikisahkan dan dikulik ke dunia luar, terutama kisah yang bersumber dari ‘pusat’ arus pesantren; ndalem kiai berikut geliat kehidupan penghuninya. Harus diakui, Khilma telah lolos menuliskannya.

Pandangan saya pribadi hingga saat ini terkadang masih belum luwes ketika berhadapan dengan kronik pesantren yang dituliskan dalam karya sastra, terutama prosa baik cerpen maupun novel. Mengutip Gus Dur, ranah pesantren dengan tradisi lokal yang khas sesungguhnya oleh sebagian kalangan kadung dianggap abstrak nan transenden, karenanya tidak gampang untuk “dicomot” melalui medium sastra. Sehingga produksi karya dari para penulis masih sedikit, terutama novel. Khilma tampak mencoba dan terus berusaha mengambil ruang itu. Masuk tanpa ragu dengan mengayunkan spirit ‘sastra pesantren’. Gagasan yang diusung dalam HS pun terbilang ‘berani’  dari wilayah santapan universal manusia; rumitnya cinta sepasang kekasih dan dilema pernikahan bersebab perjodohan khas tradisi pesantren.

Satu titik ‘kegelisahan’ saya sebagai penikmat karya sastra (berbasis) pesantren adalah masih berhamburannya gaya penceritaan yang artifisial. Kerapkali cukup mengganggu dan menerbitkan kebosanan akut. Irisan dari pertautan genre populer dan sebaliknya mungkin sekali lekas dihindari, lantaran sungguh tak mudah mengarungi diksi yang mampu menangkap hal ihwal mendalam dan subtil dari transendensi khas pesantren itu. Karya akhirnya kerap kali mudah terjebak sebagai ‘alat dakwah’  semata lengkap dengan retorikanya; menggurui, menasihati, dan sok tahu. Ragam bumbu yang coba diresapkan di dalamnya tetap saja terasa hambar, bukan gurih, apalagi lezat. Belum lagi dijumpai para penulis pembelajar pemula yang nyaman dalam ketidaksabaran ingin mendapat ruang pengakuan yang bersifat ‘materi’. Aktivitas menulis yang terus-menerus dan terkadang massif digerakkan, tidak diimbangi dengan pengetahuan kritis tentang dunia sastra pesantren itu sendiri. Tidak kelewat keliru. Namun membosankan!

Akhirul kalam, sastra pesantren masih digadang oleh PR panjang ini. Para penulis ditantang untuk terus-menerus berjibaku dengan eksperimennya. Tak terkecuali Khilma Anis. Lubang yang masih menganga ini di antaranya adalah bahwa sastra pesantren masih “berenang-renang di pinggiran”, belum menyelam lebih dalam. Butuh latihan dan tekun!

Allahua’lam bisshowab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *