EsaiPilihan RedaksiUlasan

Review Buku: Para Perempuan dalam Lingkaran Tasawuf Rumi

Saya membeli buku yang berjudul “Kehadiran Perempuan dalam Literasi Tasawuf” ini sudah berbulan lalu, tapi sebelumnya saya hanya membaca sepintas. Saya teringat kembali buku ini, karena sebuah pertanyaan di kelas Rumi tempo hari. Inti pertanyaannya begini: “Sebagai seorang penyair cinta, tentunya Rumi punya pengalaman berbagi cinta dengan orang-orang di sekitarnya, terutama istri dan keluarganya. Tapi mengapa kisah Rumi bersama keluarganya tak banyak diungkap?”

Pertanyaan yang cukup menarik menurut saya. Sejauh ini memang penelitian terkait literatur tasawuf perempuan belum berimbang, kalau tidak ingin disebut minim. Termasuk juga para sufi perempuan dalam lingkaran tarikat Rumi, jarang diperbincangkan. Buku yang ditulis oleh Zahra Thahiri dari hasil disertasinya ini, salah satu karya yang dapat memberikan angin segar. Sebenarnya, Thahiri membagi risetnya ke dalam beberapa fase, dari permulaan Islam sampai abad ke 18. Tapi, karena minat kajian saya seputar Rumi, saya hanya akan mengulas sedikit di bagian Rumi saja.

Salah satu sumber primer yang digunakan Thahiri adalah Manaqib Arifin karya Aflaki, kitab yang selalu menjadi rujukan utama bagi para peneliti kehidupan Rumi dan orang-orang terdekatnya. Tokoh lain yang banyak dikutip adalah Abdulbaki Golpinarli (1900-1982), seorang pemikir Turki yang mendalami kajian Rumi dan menerjemahkan seluruh karya Rumi ke dalam bahasa Turki.

Banyak hal dari hasil penelitian Zahra Thahiri ini yang cukup mengejutkan, setidaknya jarang saya temui di buku-buku Rumi lainnya. Ia berangkat dari penjelasan, bagaimana peran besar ayah Rumi, seorang sufi besar yang bernama Bahauddin Walad, dalam membentuk pemikiran Rumi, termasuk persoalan perempuan.

Dalam pandangan Bahauddin Walad, perempuan memiliki kedudukan mulia dan simbol seorang Ibu. Ia membawakan tamsil pengalaman spiritualnya dengan istilah sangat feminin. “Duhai Tuhan, Engkau laksana Arosh (pengantin perempuan) dan kecintaanmu laksana Zulaikha”. Menurut Bahauddin, kekuatan penciptaan Tuhan sebagaimana kekuatan melahirkan seorang perempuan. Tuhan adalah Ibu yang mengabulkan seluruh permintaan ‘anak-anak’ yang diciptakannya.

Agaknya, syair Rumi tentang penciptaan perempuan, sangat dipengaruhi oleh pandangan ayahnya. “Perempuan adalah (partuy-e hak) pantulan cahaya Ilahi, bukan pelampiasan birahi. Tidak, konon dia bukan makluk biasa, dia bahkan (khaliq) mencipta” (Matsnawi Rumi, jilid 1, bait 2437). Syair ini oleh para pengamat Rumi dianggap sebagai puncak penghormatan Rumi kepada perempuan dengan pilihan diksi Partuy-e Hak dan khaliq, sekaligus mewakili seluruh pandangan Rumi tentang perempuan.

Dalam banyak kesempatan, Bahauddin Walad juga menyebutkan posisi kesetaraan Adam dan Hawa. Tanpa kehadiran Hawa, fenomena awal penciptaan menjadi tak bermakna. Karena tidak ada perantara keberlangsungan manusia. Dengan landasan inilah, perempuan menjadi sebab dan perantara untuk mengetahui konsep ketuhanan. Jika Tuhan menciptakan Adam tanpa pasangan, kita tidak akan benar-benar mengenal Tuhan. Tidak ada marah dan rahmat. Tidak ada pengabdian dan kerinduan. Tidak ada jalal dan jamal. Lalu bagaimana kita bisa mengenal Tuhan.

Nampaknya, sikap kesetaraan inilah yang juga diwarisi oleh Rumi dari ayahnya. Menurut Rumi, perempuan memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial. Pada masa hidupnya, Rumi memiliki murid perempuan yang cukup banyak. Rumi juga selalu berpesan untuk memperlakukan perempuan dengan baik. Ia sendiri sampai akhir hayatnya mempraktikan perkawinan monogami. Rumi baru menikah lagi setelah istri pertamanya meninggal dunia.

Nama-nama Perempuan dalam Lingkaran Rumi

Istri pertama Rumi bernama Gohar Khotun, sangat dihormati oleh Rumi maupun murid-muridnya. Semasa kecil, ia ikut serta dalam rombongan keluarga besar Rumi yang hijrah dari Balkh menuju Larandeh. Bahauddin Walad menyebutnya sebagai perempuan alim.

Setelah istri pertamanya meninggal, Rumi menikah kembali dengan perempuan bernama Kara Khotun, dari keluarga Khorasan yang sudah lama berhijrah ke Turki. Ia sering dijuluki sebagai Maryam kedua dan Khadijah pada masanya. Karena ia banyak mensuport keuangan keluarga. Rumi memperlakukan istrinya tidak hanya sebagai pendamping hidup, tetapi juga teman perjalanan spiritual. Berbagai pengalaman spiritual yang dialami Rumi juga dikisahkan kembali oleh istrinya.

Perempuan lainnya dalam lingkaran keluarga Rumi yang memiliki peran cukup besar adalah Fatimah Khotun. Ia istri dari putra Rumi yang bernama Sultan Walad. Ia juga disebut-sebut sebagai poros utama penghubung antara murid-murid perempuan dalam tarikat Rumi. Fatimah Khotun memiliki posisi khusus dalam hati Rumi. Bahkan, ia mendapat pengajaran langsung dari Rumi.

Kimia Khotun, nama perempuan yang meskipun tidak memiliki hubungan darah langsung dengan Rumi, tetapi cukup dikenal dalam lingkaran keluarga Rumi. Sebagian menyebutkan, ia adalah anak dari Kara Khotun, dari suami pertama yang dibesarkan dan tumbuh dalam keluarga besar Rumi. Ia menikah dengan Shams Tabrizi. Shams mengaku sangat mengagumi Kimia bukan karena kecantikan fisiknya, tapi karena aura spiritual yang dimilikinya.

Selain nama-nama di atas, Rumi juga memiliki beberapa murid perempuan yang sangat istimewa, diantaranya adalah Gharzi Khotun, seorang yang dikenal memiliki kepakaran dalam ilmu tasawuf. Begitu juga ada sosok Sheikh Khatin, yang menghimpun banyak murid dalam majlis sema yang ia buat sendiri. Jika dua perempuan ini memiliki status sosial mapan karena berasal dari kalangan kesultanan. Rumi juga memiliki murid perempuan bernama Fakhrun Nisa, seorang rakyat biasa yang dapat mencapai derajat ‘Waliyah kamilah’ atau seorang wali yang sempurna. Menurut Rumi sendiri yang diceritakan oleh Aflaki dalam Manaqib Arifin, ia sudah sampai pada tingkatan kashaf.

Thahiri sampai pada kesimpulan, masa Rumi, merupakan puncak keemasaan kehadiran perempuan dalam sebuah tarikat sufi. Mereka tidak hanya bisa mencapai makam khalifah (wakil dari seorang mursyid), tapi juga bisa menjadi mursyid dan mendirikan khanqah.

 

Comment here