Perjalanan Spiritual dalam Sebuah Kanvas


**

Ilustrasi di bawah ini adalah sebuah masterpiece yang paling representatif untuk mengkisahkan dan juga mengurai metafora sufistik dalam syair syair Fariduddin Al-Attar (1142-1220), Manthiq al-Thair.

Metafora perjalanan salik dalam syair Attar dikisahkan melalui perjalanan sekawanan burung dengan jenisnya yang beragam. Burung² ini diibaratkan jiwa jiwa manusia yang juga beragam. Kenapa burung? Karena dalam ‘the canticle of the birds’ (Manthiq al-Thair) ini oleh Attar diambil dari kisah Nabi Sulaiman, selain juga agar lebih mudah mengilustrasikan perjalanan spiritualnya kepada khalayak.

Kisah nabi Sulaiman dalam Al Qur’an menjadi salah satu simbol populer yang digunakan oleh para master sufi, khususnya oleh Attar, untuk menjelaskan kompleksitas perjalanan jiwa manusia untuk menemukan hakekat kehidupan.

Mantiq al-Tayr berkisah tentang perjalanan sekawanan burung untuk mencari raja burung yang disebut (Simorg) ‘my lady eagle bird’ di pegunungan Kaf. Simorg merupakan simbol dari kekuatan monarki. Dalam bahasa kuno Persia, Simorg, mempunyai makna feminin, meski pada perjalanan selanjutnya ia kerap dimaknai maskulin. Simorg adalah ratunya burung, penguasa dan juga lambang predator yang paling kuat. Mitologi inilah yang digunakan Miskin untuk merepresentasikan salah satu simbol raja dan ratunya burung dalam Manthiq al-Tayr.

Sebelum melakukan perjalanan, burung-burung dari seluruh penjuru bumi berkumpul untuk bermusyawarah yg bertujuan untuk mencari raja burung. Namun kesemuanya tidaklah berhasil menemukan tujuannya, hanya tiga puluh burung yang akhirnya dapat bertemu raja.

Perjalanan ini dipimpin oleh Hud-hud (disebut dalam kisah nabi Sulaiman) yang harus melewati tujuh lembah. Simbol lembah yg digambarkan Attar berarti tujuh tingkatan spiritual yang harus dilalui sang salik untuk menemukan sang Khaliq. Yaitu lembah pencarian, lembah cinta, lembah keinsyafan, lembah kebebasan, lembah ketiadaan dan keterampasan.

Ketiga puluh burung yang berhasil menemui Simorg akhirnya melihat bayangan surgawi, yang tak lain adalah dirinya sendiri. Dengan cara ini mereka akhirnya mencapai peleburan diri.

Kisah ini merupakan karya alegoris yang menggambarkan pencarian tasawuf; burung digunakan sebagai metafora untuk orang yang mengejar jalan sufi, dengan menggambarkan burung Hud hud sebagai guru spiritual dan Simorg adalah Sang Ilahi.

Dibalik ilustrasi nan metaforik ini adalah Miskin (1556-1605). Seorang seniman, penyair, sekaligus patron kesayangan penguasa Mughal, emperor Akbar. Dalam beberapa karyanya, Miskin berhasil menggabungkan ritme dan teknik lukisan bergaya Persia dan Eropa. Lukisan Miskin ini sekarang berada di The British Museum.

Miskin menghadiahkan lukisan ini kepada emperor Akbar. Lukisan yang tidak main-main, karena Miskin dianggap mampu menerjemahkan pesan² sufistik Attar dengan sangat bagus dan mendalam.

Miskin berhasil menghidupkan segala sesuatu yang disebutkan Attar dalam Mantiq Al Tayr sebagai masterpiece paling populer dalam semua literatur sufi baik di seluruh penjuru Persia hingga India abad 12-15. Dan ilustrasi ini dibuat tiga abad setelah Attar meninggal yang kemudian dimakamkan di Nishapur, timur laut Iran.

Dalam merangkai imajinasinya menerjemahkan karya Attar, Miskin lebih kuat dalam mengurai unsur unsur kosmologi, bumi dan surga (langit). Gunung yang diilustrasikan Miskin tidak merepresentasikan gunung manapun, melainkan simbol kosmik yang menghubungkan earth dan heaven.

Penggambaran gunung sebagai metafora sufistik seringkali dipakai di beberapa tradisi keagamaan. Misalnya gunung Sinai, Olympus, Fujiyama, Himalaya dll. Gunung² tersebut mempunyai makna simbolik sebagai jalan atau tempat tertinggi untuk mencapai Tuhan. Bahwa perjalanan manusia untuk mengenal hakekat Tuhan haruslah melalui tahapan² yang terus meninggi, hingga sampai kepada tujuan hakiki. Gunung adalah setapak yang menjadi simbol perantara langit dan bumi

Karya lukisan dan juga syair-syair sufistik menjadi populer di abad 12 hingga akhir abad 17 Persia dan India. Terlebih para seniman ini didukung sepenuhnya oleh penguasa setempat.

Selain Miskin di Mughal, di Herat dan Tabriz yang merupakan pusat kekuasaan Timurid dan Safavid, juga ada pelukis kenamaan Kamaludin Behzad (1450-1535). Behzad merupakan koordinator dan juga pemimpin studio seni yang berpusat di Herat. Karya Behzad sangat diagung-agungkan oleh pemerhati manuskrip dan iluminasi Persia yang karyanya bisa dilihat online di British Museum, London.

Lukisannya kental dengan karya sufistik, termasuk beberapa kali melukiskan sosok Jalaluddin Rumi. Behzad inilah yang dikenal pertama kali melukiskan sosok Rumi dalam sejarah tradisi dan seni Islam.

Behzad mendapat dukungan penuh dari Mir Ali Shir Nava’i (1441-1501) yang merupakan penyair, teolog, penulis, ahli sufi, pelukis, ahli bahasa dan juga politisi kenamaan yang hidup di Herat dibawah kekuasaan Timurid.

Nava’i Sangat mengagumi Attar, hingga kemudian menuliskan karya Lisanu Tayr, sebagai terjemahan dari Manthiq al-Tayr dalam bahasa Chagatai, atau bahasa Turki kuno yang menjadi linguafranca kawasan Uyghur, Uzbek dan sekitarnya. Nava’i menjadi simbol yang paling representatif dalam Chagatai literatur. Hingga sekarang Nava’i menjadi kebanggaan masyarakat Muslim Uzbek dan sekitarnya.

Behzad dan Nava’i inilah yang kemudian banyak menghasilkan karya karya seni dengan metafora sufistik yang naskahnya paling banyak ditemukan dan menjadi rujukan beberapa pelukis Persia di kemudian hari.

Dan dengan lahirnya karya lukisan, naskah dan syair-syair sufistik yang berkembang di akhir abad 15 ini oleh beberapa pakar studi Seni Islam dikatakan pada periode ini hubungan antara seniman yaitu seni lukis, penyair dan sufi tasawuf terjalin dengan erat dan kuat. Hingga tafsir tafsir sufistik direpresentasikan dengan sangat indah dalam balutan kanvas.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *