Penerus Perjuangan Sunan Gunung Djati dalam Acara Rakernas IKANU

Dalam Rakernas IKANU yang dilaksanakan di Cirebon tanggal 7-8 Maret 2020 saya dipertemukan dengan orang orang hebat. Ya, Cirebon haruslah berbangga memiliki tokoh penting juga ulama yang memiliki dedikasi tinggi terhadap umat, dan sangat concern dalam pengembangan keummatan.

Dalam acara tersebut turut hadir Prof. Dr. KH Asep Saifuddin Halim, KH Imam Jazuli Lc. MA, KH. Husein Muhammad, dan juga Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj MA.

Banyak pelajaran yang bisa kami ambil dari beliau semua. Kiprah Kyai Asep dalam dunia pendidikan sangat visioner dan out of the box, khususnya dalam dunia pendidikan pesantren. Dalam orasinya beliau ingin agar pesantren keluar dari zona nyaman, pesantren harus berdikari, berdiri di kaki sendiri, tidak mengharap bantuan dari siapapun dalam pengembangan pesantren. Bahkan beliau memiliki misi mendirikan universitas internasional yang para mahasiswanya berasal dari berbagai negara dan dibiayai oleh pesantren. Beliau sudah menggarisbawahi tidak akan meminta negara walau sepeserpun. Beliau merupakan pendiri Pesantren Modern Ammanatul Umah Pacet jawa Timur yang sudah berhasil memperoleh banyak sekali penghargaan.

KH. Husein Muhammad, ulama, pengasuh pesantren, penulis dan juga aktifis kelahiran Cirebon juga berkesempatan untuk menyampaikan pandangannya tentang wasathiyah, atau moderasi dalam Islam. Paparannya yang lembut namun tegas mencirikan pribadi yang memiliki idealisme yang kuat. Beliau memang dikenal sebagai ulama yang sangat vocal terhadap isu-isu keadilan perempuan, kemanusiaan dan juga moderasi dalam agama. Nama Kyai Husein sudah acapkali didengar dalam kajian-kajian pesantren.

Selanjutnya, tentu saja kyai Imjaz, kyai muda yang sangat humble, sederhana tapi menyimpan kekuatan luar biasa sebagai motor penggerak kader kader muda Islam. Beliau juga tak segan untuk mencurahkan segala kemampuan, daya upaya baik fikiran, waktu dan materi untuk kemaslahatan umat. Beliau merupakan pengasuh Pesantren Bina Mulia di Cirebon. Kami sempat berdiskusi tentang berbagai hal menyangkut pengembangan pesantren, sinergi kekuatan umat Islam dan berbagai persoalan keummatan lainnya setelah acara selesai.

Terakhir merupakan paparan Ketua Umum PBNU Kyai Said Aqil Siraj, nama yang tidak asing lagi di telinga saya. Inilah pertama kalinya saya mendengar dan melihat langsung beliau memberikan orasi ilmiahnya yang sangat luar biasa. Waktu satu jam terasa sebentar ketika beliau menyampaikan berbagai macam informasi tentang politik, agama, bahasa, pemikiran manusia, dan sejarah yang dikemas menjadi satu kesatuan. Tak lupa beliau menyampaikan tentang dasar pemikiran NU, kiprah dan langkah NU dan kontribusi NU untuk umat.

Dengan hadirnya tokoh-tokoh yang hadir di acara Rakernas IKANU tersebut seakan menjadi asupan tenaga dan semangat kami untuk tetap terus berjuang demi kemaslahatan umat. Dalam mengelola pesantren dan mengabdi kepada masyarakat kita tak boleh menyerah, karena menyerah hanya untuk orang yang kalah sebelum berjuang. Dimanapun saat ini kita berada, dimanapun kita berkiprah harus ada sisi perjuangannya karena umat membutuhkan kita.

Dan sekali lagi, masyarakat Cirebon harus berbangga karena memiliki kader umat dan juga ulama yang luar biasa. Saya yakin Sunan Gunung Djati walaupun secara jasad beliau sudah menyatu dengan tanah, tapi secara ruhani beliau pasti tersenyum bahagia karena dakwah yang sudah beliau mulai di bumi Jawa Barat akan tetap terus lestari dengan adanya para tokoh yang kiprahnya yang meluas tak hanya di tingkat nasional saja tapi juga internasional. Perjuangan keummatan yang dilandasi dengan keikhlasan pasti akan lestari, sebaliknya perjuangan yang dilandasi kepentingan pribadi lambat laun akan mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *