Gelaran Academy Award membuat sejarah baru tahun ini. Untuk pertama kalinya, penghargaan “best picture” alias film terbaik dianugerahkan pada film yang tidak berbahasa Inggris. Film besutan sutradara asal Korea Selatan, Bong Joon-ho, berjudul Parasite dianugerahi 4 piala oscar.

Saya bukan penggemar drakor, tapi harus diakui Korsel tidak hanya berhasil memproduksi drama dan komedi romantis menye-menye. Negara ini juga berhasil menyuguhkan film disturbing macam “Parasite.” Dari beberapa ulasan mengenai “Parasite” saya tahu film ini menampilkan kritik sosial yang cukup tajam. Hanya saja, saya tak mengira eksekusinya bisa semulus ini.

Peringatan yaa… akan ada sedikit spoiler. Tetapi menurut saya film ini tetap dapat dinikmati meski kita tahu alur ceritanya.

Secara garis besar, alur ceritanya mungkin tampak biasa: satu keluarga miskin berhasil masuk dan “menguasai” rumah sebuah keluarga kaya. Tetapi kekuatan film ini memang bukan sekadar pada alur ceritanya, melainkan pada kemampuan menyuguhkan metafora visual yang sungguh memukau. Bila Anda hendak menontonnya, saya sarankan untuk memerhatikan dengan seksama segala suguhan film ini, seremeh apa pun kelihatannya. Karena tak ada satu bagian pun yang dibuat ala kadarnya di film ini. Segala sesuatu: dialog, tempat, adegan, telah dipilih dan dirancang dengan cermat untuk mendukung jalinan cerita dan kritik sosial yang saya sebut tadi.

Kritik sosial tergambarkan dengan apik misalnya saja pada adegan ketika si kaya yang dengan anggun memilih-milih baju dalam lemari pakaian maha luas disusul oleh adegan guru les yang harus memilih baju di tumpukan pakaian awul-awul hasil donasi. Atau ketika si majikan dengan ringan nan ceria membicarakan betapa indahnya langit biru yang cerah berkat hujan lebat semalam, sementara dari adegan sebelumnya penonton tahu si sopir malam tadi harus menginap di GOR bersama keluarga. Rumahnya kebanjiran akibat hujan yang sama. Semuanya ditata dengan pas, tanpa menimbulkan rasa diceramahi. Yang tertinggal hanya rasa lucu yang getir.

Meski sarat kritik sosial, ini bukan film yang membuat kening berkerut karena terlalu serius dan penuh petuah. Jangan pula berharap film ini memberikan gambaran hitam putih mengenai si kaya dan si miskin. Tokoh kaya tidak ditampilkan jahat dan nyebelin semacam di sinetron-sinetron. Tokoh miskin juga tidak digambarkan polos, lugu, dan selalu teraniaya. Meski begitu, kita dibuat mengakui bahwa apa pun itu, ketimpangan sosial tak pernah cantik. Jurang ekonomi yang terlalu lebar tak layak menjadi sesuatu yang harus dimaklumi begitu saja keberadaannya.

Ini film yang lumayan komplet. Ada kritik sosial seperti saya bilang tadi, ada komedi, juga ada gore-nya. Asyik kan? Ya tapi kalau tidak kuat nonton lumuran darah, mending skip saja.

Bagi saya pribadi, hikmah yang saya dapat dari film Parasite adalah: Kebohongan itu ribet dan melelahkan. Ia meniscayakan kebohongan-kebohongan lain tak berkesudahan. Mending selalu bersikap jujur dan apa adanya.

Subhanallah, rasanya jadi agak lebih salihah setelah nonton film ini.. 😀

One reply on “PARASITE (Semacam Ulasan Film)”

Cerdas bingitt sih, mbak….auto jeles smart x…hhh, lam kenal.
Betewe, syukaaa lohh pd tiap ulasannya, lugas, cerdas, bebas, gapake culas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *