Pilihan RedaksiUlasan

Nonton Film Pendek ASA: Biar Gak Dikit-dikit Langsung Dinikahkan

Film pendek berjudul “Asa” yang diproduksi Rifka Annisa sangat menarik untuk ditonton dan perlu direkomendasikan kepada masyarakat, pasalnya film pendek ini terilhami dari kisah nyata seorang perempuan yang masih duduk di bangku SMA di mana ia mengalami kekerasan seksual hingga hamil, sedang pelakunya sendiri adalah seorang laki-laki yang sudah beristri dan tidak bertanggungjawab.

Film ini perlu ditonton karena hal-hal yang dirasa tabu di mata masyarakat dibahas di film ini. Seperti yang kita lihat akhir-akhir ini baik secara langsung maupun hanya di media bahwa kekerasan yang terjadi pada perempuan terus meningkat sedangkan masyarakat masih merasa tak perlu membahasnya. Dan melalui film ini hal-hal tersebut tersampaikan dengan apik, misalnya bagaimana masyarakat perlu mengetahui apa itu kekerasan seksual, bagaimana penanganan kasus kekerasan seksual sampai lelucon seksis yang biasa masyarakat pakai tetapi sebenarnya tidak lucu sama sekali.

Sebab kita sudah tidak bisa memungkiri lagi bahwa hal yang menimpa pada sosok Al yakni tokoh utama dalam film tersebut juga menimpa pada Al Al yang lain di sekitar kita. Berkenalan lewat sosial media, kemudian semakin hari komunikasi semakin intens berlanjut pada pertemuan dan dipaksa berhubungan badan lalu akhirnya perempuan hamil. Tidak lama setelahnya si laki-laki obral janji manis tetapi setelah tau bahwa kekasihnya hamil ia tiba-tiba tidak bisa dihubungi dan menghilang, setelah menghilang video saat berhubungan badan tersebar. Ini sih gila.

Dan yang lebih gila terkadang masyarakat justru memberi pertanyaan yang hanya menyudutkan korban, “Kok mau diajak begituan?” “Kamu perempuan kenapa tidak bisa menjaga diri?” “Memang tidak tau kalau dia punya istri?” Sesekali kita perlu bertanya tentang pelaku, “Kenapa ada laki-laki yang mengaku single padahal sudah ada istri di rumah dan mengajak perempuan lain melakukan hubungan badan?”, sementara kondisi korban sedang hancur-hancurnya.

Di film ini Al bermain dengan totalitas dan pesan utamanya sampai kepada penonton. Bagimana ia merasa bodoh sekali sampai mengenal laki-laki tersebut, menjadi bahan pembicaraan di sekolah, bahan pembicaraan di masyarakat, dikeluarkan dari sekolah bahkan sampai keluarga laki-laki datang membawa uang dengan maksud meminta berdamai secara baik-baik dan kemudian menjanjikan bahwa keduanya akan segera dinikahkan.

Namun apa yang dilakukan oleh keluarga Al berbanding terbalik dengan apa yang biasa dilakukan oleh masyarakat. Ibunya selain menyuruh Al bersabar ia juga menanyakan apa yang diinginkan oleh anak perempuannya saat itu, Al menjawab bahwa ia tidak ingin menikah dan ia ingin kembali melanjutkan sekolahnya. Dan apa yang terjadi ketika keluarga laki-laki tersebut datang ke rumahnya, bapaknya menolak uang yang diberikan olehnya dan ia berkata dengan tegas akan menyelesaikan masalah ini lewat jalur hukum.

Wow part tersebut bikin terharu penonton karena umumnya yang terjadi di masyarakat si perempuan pasti dinikahkan dengan laki-laki tersebut meskipun sudah memiliki istri ataupun belum tanpa tau apa yang sebenarnya anaknya inginkan. Kemudian keluarga terutama orang tua Al yang begitu memahami kondisi Al bahkan bapaknya menolak pernikahan tersebut karena tidak ingin anak perempuannya akan disia-siakan lagi di kemudian hari. Ditambah dengan bagaimana orang tua menjaga harga diri keluarganya, meskipun kondisi ekonomi keluarganya pas-pasan tidak akan bisa dibeli oleh keluarga pelaku meskipun dengan uang yang melimpah.

Selain itu korban juga harus berani speak up apa yang menjadi keinginannya. Jangan sampai apa yang dipikirkan oleh bapaknya Al terjadi, misalnya terjadinya ketidakcocokan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), belum lagi dengan beban membawa embel-embel istri kedua di dalam sebuah keluarga.

Tak hanya itu, korban pelecehan verbal dengan memakai lelucon yang mereka pikir lucu padahal tidak lucu sama sekali itu juga harus berani speak up, misalnya dalam film pendek ini disampaikan melalui adegan sekelompok laki-laki yang sedang membicarakan tubuh perempuan dengan lelucon seksis, “Kelihatan montok gak?” “Sudah dicicipi belum?”. Kita sebagai perempuan harus berani speak up dan memberi sedikit penjelasan bahwa tubuh perempuan itu memang tidak pantas dijadikan bahan leluconan.

Akhir dari film tersebutditutup dengan Al sebagai tokoh utama juga sebagai korban menjadi single parent dan bisa melanjutkan pendidikannya dengan mengambil sekolah paket C. Salah satu kutipan Al yang begitu mengena adalah “Aku harus bangkit, masa depanku masih panjang, apalagi aku sudah punya anak.”. Sebuah adegan penutup yang patut menjadi acuan serta kekuatan bagi Al Al diluar sana.

**

Comment here