Negosiasi dalam Pernikahan: ‘Sakinah’ dan Dinamika Relasi dan Peran (Bag III)

Kontrol Eksternal; Kawan sebagai Energi Positif

Seperti telah disinggung sebelumnya, selain kontrol internal terdapat kontrol eksternal yang membantu sebuah pernikahan bisa tetap bertahan dan hubungan dengan pasangan tetap baik. Kontrol eksternal ini bisa berupa energi positif yang dibagikan oleh kawan atau kolega kita.

Seorang kawan (K) bercerita tentang terhentinya ikatan pernikahannya dengan istrinya. Ia bekerja sebagai dosen dan cukup aktif dalam kegiatan akademik. Salah satu yang ramai diperbincangkan adalah bahwa teman saya (K) ini dikabarkan mempunyai kedekatan dengan koleganya sendiri di kampus. Hal ini diperkuat dengan candaan dari beberapa koleganya atas keseriusan hubungannya dengan kolega perempuannya yang baru.

Kedua kelompok penghembus kabar miring ini mendasarkan candaannya pada dugaan-dugaan dan dengan ketidaktahuannya tentang apa yang susungguhnya terjadi. Kabar-kabar miring ini kemudian terdengar oleh istri (K) yang juga bekerja sebagai dosen di institusi lain. Istri (K) kemudian mempercayai kabar angin tersebut dan memilih untuk mengabaikan penjelasan (K). Perselisihan demi perselisihan menjadi semakin runcing, pada akhirnya Istri (K) rupanya memahami itu sebagai kebenaran.

Menurut pemahaman (K), Istrinya sebenarnya meragukan kebenaran dari kabar-kabar miring kedekatan (K) dengan wanita lain, tetapi Istri (K) memilih untuk meyakini bahwa kedekatan suaminya dengan wanita lain sebagai sebuah kebenaran. Masih menurut (K), sikap Istri (K) itu disebabkan perasaan malu yang menghinggapinya terhadap kolega (K) yang meyakini kebenaran kabar tersebut.

Rasa malu itu kemudian berkembang menjadi rasa terhina dan ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan pernikahan untuk memperlihatkan kepada kolega (K) dan para penghembus kabar tersebut yang menganggap itu sebuah kebenaran bahwa ia seorang istri yang mempunyai prinsip dan harga diri.

Siapa yang berkontribusi pada terhentinya pernikahan tersebut? Saya tidak mau menjawab secara pasti tentang siapa yang harus disalahkan. Istri (K) mungkin dalam hal ini seharusnya menimbang penjelasan (K). Namun, ego dan rasa malu bahwa ia dihianati lebih kuat mendorongnya untuk memutuskan dan akhirnya memilih mengakhiri pernikahan. Baginya, pengkhianatan seperti itu merupakan, dalam istilah saya, seperti dosa besar ‘min al-kabāir’ yang tidak bisa dinegosiasikan.

Kita mungkin bisa menganggap Istri (K) terlalu sensitif dan egois. Namun, apakah karena kita memahaminya sebagai wanita sensitif dan egois, lalu kita tetap juga mempertahankan gaya candaan seperti itu? Atau mungkin kita justru harus memahami sikapnya, mengingat gencarnya isu kedekatan itu, sementara ia juga tidak tahu apa dan mana yang ia harus percayai.

Para kolega dekat si (K) mungkin juga tidak bisa disalahkan karena dalam hubungan pertemanan, terlebih di kantor, mereka memang terbiasa membuat candaan. Namun, mereka lupa bahwa candaan seperti itu bisa berakibat fatal, karena mereka tidak mengetahui sifat atau karakter istri koleganya tersebut.

Si suami, yang seharusnya memahami karakter istri, tidak kuasa menghentikan candaan itu dan tak bis menangkal bagaimana liarnya hembusan kedekatannya dengan wanita lain. Meskipun berkarakter ramah dan baik, (K) nyatanya juga tak mampu mengatur dan menjaga sikap serta perilaku yang bisa mengarah pada ‘kecurigaan’ para kolega tentang kedekatannya dengan wanita lain lain.

Tanpa mau mengatakan bahwa para kolega (K) tersebut merupakan energi negatif, dan juga bahwa (K) kurang memahami istrinya, saya ingin menekankan bahwa sebagai kawan kita harus selalu menjadi energi positif bagi kawan kita dalam segala hal, termasuk dalam hubungan pernikahan kawan kita.

Kita harus berusaha terhindar dari keterlibatan kita, meskipun setitik, dalam kehancuran pernikahan kolega atau kawan kita. Kita harus mengingat bahwa mungkin tanpa candaan seperti itu saja, pernikahan mereka sudah sering mengalami riak-riak dan guncangan. Artinya, mungkin tanpa candaan itu saja, mereka sudah merasa berat untuk mengurai riak-riak yang ada, terlebih dengan adanya hembusan candaan itu.

Energi positif, menurut pemahaman saya, akan terasa oleh kawan kita dan akan membantu memperkuat kerukunan dan kedamaian rumah tangga. Bagaimana kita bisa menjadi energi positif bagi kawan kita? dan perkawanan seperti apa yang berpotensi pada kebaikan kehidupan pernikahan mereka? Untuk pertanyaan tersebut, saya akan menguraikan tawaran jawabannya melalui sedikit catatan di bawah ini.

Sanjungan dan pujian kita terhadap kawan dan terhadap pasangan kolega baik laki-laki maupun perempuan menurut saya akan sangat bermakna. Seperti telah dipaparkan di catatan sebelumnya bahwa hampir tidak ada pasangan yang membawa standard (ekspresi) relasi dan hubungan yang sama dalam pernikahan. Hampir semua pasangan mempunyai angka kesenjangan yang harus diurai dan dinegosiasikan. Pasangan yang mempunyai keseimbangan kebutuhan satu sama lain akan dengan mudah melakukan negosiasi. Sebagai kawan kita bisa membantunya melakukan itu dengan baik.

Dalam keadaan di mana kita mengenal pasangan kawan kita dengan baik, kita bisa menyampaikan kebaikan, hal-hal positif dan kelebihan pasangan kolega kita. Kita bisa melakukannya dalam momen-momen yang relevan dan spesial atau momen biasa, misalnya dalam momen ulang tahun pernikahan mereka atau kesuksesan karir kolega kita.

Pesan dengan kalimat seperti ini misalnya,

Sampaikan salam saya ya kepada istri mas yang cantik, baik/pintar“,

Kalimat itu merupakan ungkapan yang menurut saya mampu memberikan energi kawan kita untuk menyadari kelebihan istrinya, yang mungkin sedang ia diamkan di rumah karena perselisihan yang terjadi. Ungkapan yang sama atau setara dengan itu bisa juga kita ucapkan untuk suami kolega kita. Jika kawan kita jujur, maka akan menyampaikan secara utuh titipan salam tersebut kepada pasangannya, dan ia akan mempunyai kebanggan yang bertambah tentang pasangannya.

Dalam bukunya, The Anxiety Toolkit, Alice Boyes mengatakan pujian dapat menguatkan ikatan positif, dan biasanya membuat perasaan penerima dan pemberi semakin lebih baik.

Dengan ucapan itu, kolega laki-laki atau perempuan diberi beban untuk menyampaikan salam kita dan untuk mengolah satu kata pujian kita terhadap istrinya. Apakah itu bisa berlaku? Bukankah manusia mempunyai sifat berbeda dan mungkin beberapa atau bahkan lebih banyak yang tidak suka itu. Mungkin! Namun tetap saja itu merupakan hal positif dan tidak salah kita melakukannya.

Menurut Zhao, seorang psikolog, secara umum orang baik perempuan maupun laki-laki suka dengan sanjungan dan pujian atau ucapan baik. ‘Pujian itu gratis,” kata Zhao. Ini cara yang sangat efisien untuk membuat orang lain merasa senang.

Menurut seorang profesor psikologi dari University of Massachusetts Amhers, Susan Krauss Whitbourne, seperti juga dikutip dalam sebuah web, kalimat yang dituturkan harus merupakan kalimat yang pas dan dengan ketulusan hati. ‘Komplimen yang tepat adalah yang tulus, penuh respek, dan dosisnya tepat, dan tidak memberikan kesan si pemberi mendapatkan untung’, pesannya.

Bagaimana jika kita tidak mengenal pasangan (istri/suami) kolega atau kawan kita? Kolega yang dimaksud di sini adalah kawan yang cukup dekat karena kesamaan tempat bekerja atau tempat beraktifitas secara umum. Untuk itu, meskipun dalam tingkatan yang beragam atau berbeda, mestinya kita mengenal pasangan kolega kita. Di sinilah mungkin letak pentingnya pasangan diperkenalkan kepada para kolega dan pentingnya pertemuan di tempat kerja yang melibatkan keluarga atau paling tidak pasangan kita.

Jika tidak sama sekali, karena jauhnya lingkungan dan atau tidak adanya lingkaran yang mempertemukan kita untuk mengenal para pasangan kolega kita, sikap yang bijak adalah menjaga kolega kita dari candaan-candaan yang mengarah pada munculnya ‘suara fitnah‘, demi mempertimbangkan ketidaktahuan kita tentang sifat dan watak pasangan kolega kita.

Perkenalan atau persahabatan kita dan pasangan kita dengan orang yang sama bisa, dalam pemahaman saya, memberikan energi positif bagi kita dan pasangan kita untuk tetap mempunyai relasi yang baik. Sapaan-sapaan dan titipan salam dari kawan di tempat kerja untuk pasangan kita bagi saya, yang biasa mengalami ini, yaitu menerima titipan salam untuk suami saya, membuat saya selalu memikirkan untuk tetap menjaga hubungan baik dengan pasangan saya. Ada perasaan yang muncul bahwa saya harus tetap bersamanya untuk tidak mengecewakan kawan saya yang jika saya bertemu dengannya akan mungkin kembali menitipkan salam dan ucapan baik untuk pasangan saya. Saya berharap bahwa cara berfikir saya itu dimiliki juga oleh pasangan saya yang juga sering menerima titipan salam dari kawannya untuk saya. Bahkan ketika sebuah pesan melalui email muncul dari para guru kami di luar negeri, mereka tidak pernah lupa menitipkan pesan salam untuk pasangan saya dan menuangkan do’a untuk kebaikan kami. Sebaliknya, saya tahu, juga demikian. Itu semua energi positif untuk kami supaya kami tetap menjaga hubungan baik, paling tidak sampai detik ini.

Jalinan Kuat dengan Orang Tua Pasangan: Do’a Mertua

Jika ada pasangan, baik istri maupun suami, mengatakan bahwa tinggal di rumah kontrakan sempit lebih indah dan menentramkan ketimbang di rumah mertua indah, ia mungkin dan memang benar. Namun, tinggal di kontrakan sempit tanpa menjalin komunikasi yang baik dengan mertua itu mungkin bisa membuat kita juga kurang bahagia.

Tinggal di rumah mertua memang mungkin membuat kita kikuk. Meskipun mertua baik, si menantu tetap saja merasa tersandera, tidak bisa bebas melakukan aktifitas yang ia ingin lakukan. Bayangkan menantu perempuan bisa saja langsung tergopoh-gopoh dari tempat duduk santainya ketika ia mendengar mertua perempuan mengadukan tanpa sengaja dua piring di dapur. Menantu juga akan merasa kurang nyaman tetap duduk ketika tiba-tiba mertua perempuan mengambil sapu untuk sekedar membersihkan sedikit kotoran di lantai. Untuk itu tinggal terpisah dari rumah mertua menjadi pilihan yang baik dan ber-maslahah.

Meskipun demikian, jalinan kita dengan orang tua pasangan kita harus diperkuat. Menimbrung dalam telponan pasangan kita dengan orang tua dan menanyakan keadaan serta mendo’akan mereka merupakan cara sederhana untuk medekatkan kita pada mertua. Semua orang tua termasuk orang tua pasangan kita tentu selalu menginginkan kebahagian anaknya, yaitu pasangan kita. Mereka akan selalu mendo’akan untuk kebahagian anak mereka. Mengetahui pasangan anak mereka merupakan pasangan yang mampu membuat anaknya bahagia, orang tua akan mendo’akan keberlangsungan ikatan pernikahan anak mereka dengan kita.

Tentu selain do’a yang diucapkan dalam kesunyiannya, do’a yang dimaksud di sini adalah do’a atau ucapan baik yang diucapkan secara langsung di hadapan kita.. Ucapan-ucapan baik dari orang tua pasangan kita, saya yakini, menjadi kunci bagi pasangan kita untuk tetap menjaga hubungan pernikahannya dengan kita. Pasangan kita akan berusaha mewujudkan do’a-do’a orang tua-nya demi kebahagian mereka, dan akhirnya kabahagian kita. Misalnya, mendengar petuah dan pesan ibu mertua kepada pasangan saya untuk selalu menjaga saya dan cucu-cusunya, saya merasa sangat tersanjung dan bahagia. Menurut saya, itu juga merupakan energi positif dan ‘instruksi keramat’ bagi pasangan saya untuk selalu menjaga hubungan pernikahan.

Secara singkat, kedua faktor eksternal ini melengkapi faktor internal, yang telah dituangkan dalam kedua catatan sebelumnya, untuk membawa pasangan mampu mempertahankan hubungan baik pernikahan. Catatan-catatan ini, yang sekedar merupakan refleksi berdasarkan pemahaman dan pengalaman, tentu bisa saja tidak berlaku secara umum dan bisa tidak relevan untuk semua pernikahan.

Wassalam!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *