PustakaUlasan

Menjelajah Dunia bersama Jared Diamond dalam Bedil, Kuman & Baja

Saya pernah dijadikan kelinci percobaan untuk praktikum tes Rorschach kakak angkatan zaman masih S-1. Dari jawaban-jawaban saya saat disodori lembar-lembar bernoda tinta yang konon mampu menyingkapkan kepribadian kita itu, dia menyimpulkan: “kamu tuh kurang perhatian pada detail ya?”

Meski validitas tes semacam Rorschach masih diperdebatkan dalam ilmu psikologi, tapi kali itu pengamatan si kakak angkatan sangat tepat. Saya selalu lebih tertarik pada garis besar, pada pola umum ketimbang mengurusi printilan (yang bagi saya) remeh. Itu sebabnya teman saya yang lain lagi kaget waktu saya sempat bekerja sebagai editor buku: “masa iya kamu cukup telaten membaca teks hingga detail?” Iya sih. Saya sendiri juga sama kagetnya dengan dia.

Pola-Pola Besar

Barangkali ini alasan utama kenapa saya terpikat dengan pendekatan Jared Diamond dalam buku “Bedil, Kuman, dan Baja.”  Berbeda dengan beberapa pendekatan lain terhadap sejarah dan kebudayaan manusia yang pernah saya baca (yang sebenarnya tidak bisa dibilang banyak juga sih haha), Jared seperti juga Yuval Harari memandang lintasan sejarah umat manusia dari sudut pandang yang sangat makro. Dia melihat pola-pola besar. Hitungannya bukan lagi dekade atau abad, tapi milenia, bahkan kadang jutaan tahun. Dia merunut peristiwa dari sejak zaman manusia muncul di bumi dan membandingkan hampir semua lokasi di bumi, bukan sekadar berkutat pada tempat atau masa tertentu.

Meneliti Hingga ke Akarnya

Yang bagi saya menarik juga, Jared tidak pernah puas dengan jawaban sederhana atau penyebab langsung dari suatu peristiwa. Dia jelas tidak puas dengan penjelasan rasis bahwa kualitas inheren atau genetis suatu kelompok bangsa atau individulah yang menyebabkan superioritas satu negara dari negara lain. Tapi dia juga belum puas ketika menemukan bahwa penyebab superioritas tersebut adalah keunggulan teknologi dan sumber daya suatu bangsa yang lantas menjadi judul bukunya: Bedil, Kuman, dan Baja. Dia terus bertanya: apa yang menyebabkan satu bangsa bisa mempunyai semuanya sementara yang lain tidak? Pola ini mengingatkan saya pada anak-anak saya yang kalau disuruh atau dikasih tahu sesuatu terus memberondong dengan rentetan pertanyaan: masa sih? Kenapa begini? Kenapa ga begitu?… Uh nyebelin pokoknya.

Tapi pada seorang akademisi, ini sikap yang tepat. Jawaban yang didapat jadi benar-benar mendasar dan sangat mencengangkan, minimal bagi saya yang baru kali itu membaca dengan detail bukti-bukti arkeologis, linguistik, dan genetis yang menopang argumen Jared.

Daya tarik lain buku ini bagi saya adalah keragaman pendekatan keilmuannya. Saya yang selalu labil, tak pernah istikomah mencintai psikologi, dan kerap tergoda bidang-bidang ilmu lain semacam antropologi, arkelogi, linguistik, biologi evolusioner, menemukan semuanya dalam satu buku itu. Masih ditambah geografi, genetika, dan sedikit ekonomi.

Duh, gimana saya tidak terpesona coba …

Beberapa Highlights

Namun, terus terang, cukup sulit menyarikan buku setebal 600-an halaman ini. Saya sebutkan saja beberapa hal menarik yang membuat saya sukses menuntaskan buku non fiksi tebal ini hanya dalam waktu 2 minggu, sebuah  pencapaian langka bagi saya.

  1. Orang Indonesia adalah keturunan para penjelajah Austronesia dari Cina. Ada 3 gelombang migrasi yang berbeda, menghasilkan tipe yang berbeda pula: orang Papua dataran tinggi, orang Jawa dan pulau non-papua lain, lalu orang papua dataran rendah. Jadi, kalau ada orang Indonesia yang anti Cina, apa ndak takut kualat sama nenek moyang? Eh.
  2. Pasukan suku Inka yang berjumlah ribuan orang kalah oleh kolonis Spanyol yang awalnya cuma berjumlah tak sampai 160-an orang gara-gara Spanyol punya bedil, sudah kenal tulisan, dan punya struktur organisasi/politik lebih kompleks yang sudah mengembangkan agama. Agama jadi faktor pemberi motivasi tentara Spanyol yang kalah jumlah itu. Detail ceritanya seru, bikin gemes-gemes gimana gitu dan kebayangnya kayak film Indiana Jones.
  3. Banyak suku asli di Amerika yang mati akibat kuman yang dibawa kolonis Eropa. Jadi kekalahannya bukan cuma karena terbunuh dalam peperangan. Ini juga berlaku untuk beberapa tempat lain. Jadi, ada peran “hal gaib” memang, dalam hal siapa yang berhasil mengolonisasi siapa (kuman kan termasuk gaib, enggak kelihatan hehe).
  4. Tidak semua penemuan penting didorong oleh kebutuhan akan teknologi baru. Banyak ciptaan dikembangkan semata-mata karena rasa ingin tahu, atau kegemaran mengutak-atik. Misalnya saja penciptaan kendaraan bermotor pada 1886 yang awalnya cuma iseng, bukan karena ada krisis ketersediaan kuda atau ada ketidakpuasan terhadap kereta api. Nah bapak-bapak dan ibu-ibu, biarkan anak-anak kita berbuat iseng dan gemar mengotak-atik ya. Kalau mereka terus bertanya dan kita bosan mencari jawaban, bilang saja: sana googling sendiri. Siapa tahu gedenya bisa jadi penemu.
Kesetaraan Umat Manusia

Jared Diamond sendiri merangkum bukunya seperti ini:  “Sejarah berbagai suku bangsa mengikuti alur berbeda-beda karena adanya perbedaan pada lingkungan berbagai suku bangsa itu, bukan karena adanya perbedaan biologis pada suku-suku itu sendiri.”

Jadi tidak perlu merasa inferior atau superior pada bangsa lain kan? Secara biologis kita semua setara.

Comment here