Menjadi Perempuan Tangguh di Masa Pandemi

Pada saat ini, pada saat yang bersamaan, seluruh penghuni bumi sedang berada dalam keadaan tersulit. Kita menyebutnya sebagai “masa pandemi”. Kita sudah melewati masa sulit ini selama lebih dari setahun.

Mengapa masa pandemi ini disebut sebagai masa tersulit?

Karena kita semua tahu dan merasakan betul dampak negatif dari pandemi ini yang dapat menyerang berbagai sektor kehidupan, seperti sektor pendidikan, ekonomi, sosial, politik, pariwisata, ketahanan pangan, dan sebagainya. Namun, bukan berarti kita kalah telak dan dipukul mundur oleh keadaan.

Saya pribadi (dan mungkin juga seluruh perempuan di luar sana) sangat merasakan dampak akibat pandemi global ini. Pada masa pandemi ini, perempuan harus  menjadi penjaga peradaban manusia. Dengan satu raga dan seluruh jiwanya, perempuan di masa pandemi ini dipaksa harus memaksimalkan multi-perannya.

Perempuan terutama yang sudah menjadi seorang ibu, ia menempati posisi sentral dalam masyarakat, terutama keluarga. Dalam satu waktu, selain menjadi ibu rumah tangga, ia sekaligus menjadi pendidik, pengajar, bahkan menjadi tulang punggung keluarga demi menjaga ketahanan pangan serta keharmonisan keluarganya.

Perempuan dalam Islam menempati posisi yang istimewa. Menjadi perempuan saja sudah istimewa, apalagi menjadi seorang ibu. Dengan segala keterbatasannya, seorang ibu akan menjelma sebagai perempuan paling tangguh yang pernah ada. Diriwayatkan dalam sebuah hadis:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata; “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw, ia berkata; “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Rasulullah saw menjawab: “Ibumu.” Lalu ia bertanya lagi; “Kemudian siapa lagi, Ya Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa lagi?” Rasulullah saw menjawab lagi: “Ibumu.” Dia bertanya lagi; “Kemudian siapa?” Lalu Rasulullah saw menjawab lagi: “Kemudian ayahmu.”

Perempuan, terutama seorang ibu memiliki peran vital dalam skala mikro maupun makro. Ia menjadi tiang penyanggah untuk keluarganya. Rasulullah Saw yang sangat diagungkan oleh seluruh muslim di dunia pun tidak terlepas dari peranan seorang perempuan. Peran Siti khodijah, istri rasulullah mengerahkan seluruh harta jiwa dan raganya untuk mendukung dakwah Islam. Oleh sebab itu, kita sebagai perempuan yang menopang peradaban harus menjadi perempuan yang berpendidikan agar tidak kalah dengan keadaan.

Pentingnya pendidikan bagi perempuan sangat mempengaruhi masa depan akan lahirnya intelektual muda yang berkompeten. Berawal sejak kecil, gadis kecil yang sudah terbiasa hidup dalam lingkup yang terdidik akan tumbuh menjadi remaja yang berkompeten, berani, dan memiliki kemampuan intelektual yang baik. Oleh sebab itu, perempuan harus memiliki tabungan ilmu yang kelak akan digunakan mencetak generasi penerus yang intelek dan inspiratif.

            Ulama terdahulu menyatakan dalam bait syairnya :

الأُم مَدْرَسَةُ الْأُوْلَى, إِذَا أَعْدَدْتَهَا أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِبَ الْأعْرَاقِ

“Ibu adalah madrasah pertama, jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan lahirnya sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya”

Belajar tidak hanya bisa didapatkan dari bangku sekolah. Belajar bisa di mana saja, belajar apa saja. Tidak hanya belajar secara formal, belajar berorganisasi pun perlu, agar kita siap ketika menghadapi masyarakat yang heterogen. Lembaga dan organisasi-organisasi perempuan menempati posisi penting dalam masyarakat. Sebut saja misalnya Fatayat/ Muslimat bagi warga perempuan NU, Aisyiyah bagi warga perempuan Muhammadiyah, atau organisasi perempuan apapun dan manapun yang kalian ketahui.

Organisasi-organisasi perempuan tersebut bukan sekedar perkumpulan ibu-ibu yang hanya bergosip dan membahas sinetronnya Mba Andin dan Mas Aldebaran ketika sedang menggelar pertemuan. Organisasi perempuan tersebut justru menjadi ajang belajar dalam rangka mengembangkan diri. Di dalamnya, para perempuan akan ditempa menjadi perempuan yang tanggap, adaptif, serta inovatif.

Tanggap artinya kita peka terhadap keadaan. Kita tahu apa yang harus kita perbuat ketika dihapkan dalam sebuah masalah atau sesuatu yang tidak kita duga sebelumnya. Adaptif artinya kita sebagai perempuan harus pintar menyesuaikan diri terhadap keadaan. Sebagai seorang ibu yang membimbing anaknya sepanjang waktu, maka ia harus memahami perkembangan zaman. Seperti saat ini, keadaan seolah memaksa semua orang untuk memahami perkembangan teknologi. Anak sekolah daring (online), maka kita harus adaptasi dengan kebiasaan baru tersebut demi keberlangsungan pendidikan anak.

Poin selanjutnya adalah inovatif. Contoh, pada masa pandemi ini, suami tiba-tiba di-PHK karena pengurangan karyawan di kantornya, anak tiba-tiba harus sekolah dari rumah. Lalu sebagai seorang istri dan ibu, apa yang sebaiknya kita lakukan? Kita tidak bisa berdiam diri saja kan? Oleh sebab itu, kita sebagai perempuan harus inovatif agar roda kehidupan ekonomi keluarga tetap berjalan. Bagaimana caranya? Macam-macam. Bisa budidaya tanaman hias, tanaman hidroponik, budidaya ikan, membuka usaha seperti berjualan, baik di warung, rumah, maupun online, menjahit, menjadi vloger atau bahkan menjadi youtuber. Selama para perempuan mau mengmbangkan dirinya, maka ia akan menjadi perempuan tangguh untuk dirinya sendiri, untuk keluarga, masyarakat, bahkan bangsa.

Salam semangat dari seorang perempuan untuk perempuan..!

(sumber ilustrasi dari digtara-google)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *