Meniti Agama dengan 40 Hadits dan Kisah

 Judul         : Kitab Ushfuriyyah (Terjemahan dari Mawaidz al-Ushfuriyyah)

Penulis            : Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri

Penerjemah      : Muhammad Alwy Amru Ghazali

Penerbit           : Diva Press

Cetakan           : I, Juli 2019

ISBN               : 978-602-391-658-0

Agama adalah urusan keyakinan, sehingga terkadang seseorang membutuhkan kemantapan untuk menguatkan hal yang diyakini tersebut, sebab tak semua agama dimiliki atas dasar pilihan. Beberapa di antaranya merupakan sebuah warisan turunan, sehingga masih dibutuhkan beberapa dorongan ⸻secara internal maupun eksternal⸻ untuk ‘membenarkan’ warisan tersebut.

Salah satu bentuk dorongan untuk menguatkan keyakinan adalah pengalaman, baik yang bersumber dari diri sendiri maupun bersumber dari orang lain (kisah hikmah). Lewat cerita, manusia lebih mudah memaknai maksud dari sebuah hal. Sederhananya, kejujuran lebih sulit dimaknai ketika hanya disampaikan dalam wujud ‘kultum penyejuk hati’, namun kejujuran akan lebih mudah dimaknai ketika disampaikan dalam bentuk kisah penuh hikmah.

Atas dasar inilah, buku Kitab Ushfuriyyah yang merupakan terjemahan dari kitab Mawaidz al-Ushfuriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri menjadi bacaan yang direkomendasikan untuk meniti keyakinan dalam menjalankan perintah-perintah agama.

Buku Kitab Ushfuriyyah merupakan buku keagamaan yang berisi tentang 40 hadits pilihan (dengan sanad yang sambung kepada Sang Empu Hadits, yakni Nabi Muhammad) beserta kisah penuh hikmah yang menunjang isi dari setiap hadits yang tersedia.

Alasan di balik pemilihan hadits yang ‘dibatasi’ hanya 40 ⸻sebagaimana yang telah disebutkan oleh Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri dalam muqaddimah-nya⸻ adalah janji ampunan bagi siapapun yang berhasil mengumpulkan 40 hadits (halaman 5).

Mutiara hikmah telah menyebutkan bahwa manusia adalah gudang kesalahan, sehingga satu-satunya yang bisa diharapkan adalah sebuah ampunan. Oleh sebab itu, membaca Kitab Ushfuriyyah merupakan sebuah perjalanan suci menapaki 40 hadits Nabi beserta kisah-kisah hikmah yang menaungi dengan harapan mendapatkan ampunan atas segala kekhilafan yang telah terjadi.

Dari 40 hadits yang tersedia, terdapat beberapa kisah unik yang lazimnya berbanding terbalik dengan persepsi yang beredar di tengah masyarakat bumi pertiwi ini. Beberapa di antaranya adalah persepsi bawah pelaku shalat Jumat hanyalah manusia yang sejatinya tak hanya manusia, anggapan umum tentang rasa takut tidak mendapatkan rezeki padahal urusan rezeki sudah dijamin, dan stigma negatif tentang ujian sakit adalah sebuah musibah. Agaknya akan menarik jika diungkap sekilas (sebab haram mengungkap seluruhnya) setiap dari tiga kisah unik tersebut.

Kitab Ushfuriyyah berhasil mengungkap tabir tersembunyi bahwa pelaku shalat Jumat tak hanya para manusia, tetapi juga dilakukan oleh para malaikat. Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri menuturkan bahwa Malaikat Jibril merupakan muadzin (yang bertugas mengumandangkan adzan), Malaikat Israfil merupakan Khatib (yang bertugas menyampaikan khotbah), dan Malaikat Mikail merupakan imam shalat Jumat.

Ditambah lagi, seluruh pahala dari masing-masing malaikat dihadiahkan kepada para manusia yang melakukakannya di dunia (halaman 54-55). Berlanjut pada pandangan tentang ketakutan masalah rezeki yang juga dijelaskan oleh Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri lewat kisah Ibrahim bin Adham yang melihat seorang laki-laki korban dari para penyamun di tengah-tengah hutan. Laki-laki tersebut terikat di sebuah pohon, sendirian, dan tak bisa mengincip makanan maupun meneguk segelas minuman. Apakah lelaki ini akan mati kelaparan karena tak ada jaminan mendapatkan makanan maupun minuman? Ternyata lelaki malang ini ditolong oleh seekor burung gagak atas kuasa Sang Pemilik Semesta (halaman 62-63). Lalu, masihkah manusia ragu atas urusan rezeki yang konon katanya tidak pasti?

Kisah terakhir menceritakan tentang seorang mukmin yang sedang sakit dan Allah memerintahkan empat malaikat untuk mengambil kekuatan dari tubuhnya, mengambil rasa lezat makanan dari lidahnya, mengambil senyum sumringah dari wajahnya, dan mengambil semua dosa-dosanya.

Saat seorang mukmin tersebut telah sembuh dari sakitnya, Allah memerintahkan semua malaikat untuk mengembalikan hal-hal yang telah diambil kecuali malaikat yang mengambil dosa. Allah tidak memerintahkan malaikat pengambil dosa untuk mengembalikan dosa-dosanya, sebab kesusahan dan kesabaran seorang mukmin ketika diuji dengan rasa sakit (halaman 132-133). Jika memang rasa sakit ternyata semulia ini, layakkah manusia menganggap sakit adalah sebuah musibah?

Sebagai sebuah buku terjemahan, pilihan kalimat dalam Kitab Ushfuriyyah lebih mudah dipahami dari karya-karya terjemahan pada umumnya (yang cenderung termasuk ke dalam kategori sastra berat). Hal ini menunjukkan penerjemah memiliki kemampuan bahasa Arab yang ‘lumayan’. Akhir kata, mari bersama-sama meniti agama dengan yakin lewat kisah-kisah penuh hikmah dalam Kitab Ushfuriyyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *