Menilik Singkat Pemikiran Qasim Amin tentang Emansipasi Perempuan

Qasim Amin lahir pada tanggal 1 Desember 1861 M  di Negeri Thurah wilayah pinggiran kota Kairo. Ayahnya bernama Muhammad Bek Amin  merupakan keturunan Turki Utsmani dan berprofesi sebagai seorang tentara Irak. Ibunya  adalah seorang perempuan berdarah Mesir dari Al-Sa’id. Awal pendidikan Qasim Amin bermula dari tingkat dasar di Madrasah ra’s al-tin di wilayah Iskandariah, kemudian melanjutkan ke sekolah menengah madrasah al-Tajhiziyyun di Kairo. Setelah tamat kemudian melanjutkan lagi studinya ke sekolah tinggi hukum (madrasah al-huquq). Berhasil memperoleh ijazah lesence pada tahun 1298 H/1881 M. Setelah pendidikan di perguruan tinggi tersebut selesai, ia kemudian bekerja di sebuah kantor pengacara milik Mustafa Fahmi di kota Kairo. Tidak lama kemudian, ia berangkat lagi ke Perancis untuk mendalami ilmu di bidang hukum pada Universitas Montpellier. Di sana Qasim Amin berhasil meraih gelar sarjana hukum.

Qasim Amin selain berkawan dengan Muhammad Abduh, juga sempat berkenalan dengan tokoh pembaru Islam populer, salah satunya Jamaluddin al-Afghani. Qasim Amin juga sempat menerbitkan majalah Islam populer al-‘Urwah al-Wuthqa yang berpusat di Perancis. Sayangnya, majalah ini hanya terbit beberapa bulan saja, sebab dibredel oleh penguasa penjajah. Setelah itu Qasim Amin kembali ke Mesir tahun 1885 M. Diangkat menjadi hakim pada sebuah lembaga kehakiman al-Mahkamah al- Mukhwalatah. Kemudian diangkat pula menjadi Hakim Agung pada mahkamah al- Isti’naf pada tahun 1892 M.

Pada tahun 1899 M, Qasim Amin menerbitkan buku kontroversialnya yang berjudul Tahrir al- Mar’ah (Emansipasi Perempuan) yang menuntut penghapusan “adat hijab” yang berbeda dengan hakikat hijab dalam ajaran Islam. Tuntutannya adalah agar kamu perempuan di Mesir mendapat pendidikan dan pengajaran yang layak.

 

Pemikiran Qasim Amin tentang Emansipasi Perempuan

 

Emansipasi perempuan menurut Qasim Amin merupakan gagasan yang berlandaskan pada semangat pembebasan dan pemberdayaan kaum perempuan yang mempunyai cita-cita sosial. Gagasan ini muncul sebagai wujud kepedulian intelektualisme Qasim Amin terhadap realitas perempuan Mesir, yang menurutnya sudah benar-benar melewati batasan toleransi. Dia melihat perempuan Mesir tidak saja terpinggirkan dalam relasi laki-laki, tetapi hak-hak mereka sebagai individu telah terenggut oleh keyakinan tradisional dan berbagai praktek mengatasnamakan agama.

Pengaruh dan nuansa pemikiran Muhammad Abduh juga tidak dapat dipisahkan dari gagasan pembaruannya, terutama gagasan tentang pendidikan dan pemberdayaan kaum perempuan.

Beberapa ide pokok yang dicetuskan oleh Qasim Amin. Pertama, pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan. Qasim Amin berpendapat bahwa pendidikan perempuan itu merupakan salah satu alat untuk membebaskan kaum perempuan dari praktek-praktek yang dapat menyiksa mereka. Adanya pendidikan ini, perempuan dapat mempertinggi perannya selain di bidang domestik sebagai pendidik pertama terhadap anak-anak, mitra dialog suami, perempuan juga punya kesempatan baik untuk berperan besar di bidang publik.

Kedua, perempuan dan hijab. Terkait ini Qasim Amin memandang hijab dalam tiga tingkatan berurutan. Ia mendasari dari syariat. Hijab pertama diartikan sebagai sesuatu yang dibatasi oleh dinding dan ruangan khusus bagi perempuan. Ini mencakup pakaian, perhiasan, wajah, telapak tangan, dan anggota tubuh lainnya yang tidak terlihat. Kedua, menurut syariat yang dibacanya, hijab ini kemudian dimaknai pula sebagai diperbolehkannya para perempuan keluar namun dalam keadaan tubuh tertutup rapat. Sedang pemaknaan hijab ketiga dikatakan bahwa perempuan yang keluar rumah hendaknya menutup seluruh tubuhnya mulai dari kepala hingga ujung kaki, namun wajah dan dua telapak tangannya itu boleh ditampakkan.

Ide-ide Qasim Amin dalam pembaruan yang bertujuan untuk merombak tradisi menyangkut masalah kehidupan kaum perempuan ini menuai banyak kritikan dari masyarakat Mesir kala itu, meskipun tak sedikit pula yang memberikan dukungan kepadanya. Ide-ide Qasim Amin ini populer lantaran dianggap mengagumi kebudayaan Barat sehingga dapat berpengaruh pada kemajuan perempuan dan bangsa Mesir. Sebelum Qasim Amin menempuh perjalananan intelektualnya ke Perancis, ia adalah orang yang anti terhadap orientalis yang menuduh Islam telah meremehkan perempuan melalui ajaran-ajarannya.

 

 

(sumber gambar ilustrasi invaluable.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *