EsaiPilihan Redaksi

Mengapa Virus Itu Membunuh Kami?

Sebenarnya, SARS-CoV2 tidak berniat membunuh manusia. Dia cuma ingin bereproduksi.

SARS-CoV2, virus penyebab COVID-19, sejatinya adalah sepotong kalimat yang dibungkus. Kalimat itu pada dasarnya terbaca “Buat salinanku”. Itu adalah kalimat dasar kehidupan, semua bentuk kehidupan memilikinya. Saya dan Anda juga punya. Semua kehidupan punya kecenderungan membuat salinan dirinya, menggandakan diri, bereproduksi. Tidak bisa tidak: bentuk kehidupan yang tidak menggandakan diri akan musnah karena hancur diurai hukum fisika, tanpa keturunan.

Virus bukanlah bentuk kehidupan lengkap, karena tidak bisa bereproduksi secara mandiri. Virus hanya kalimat “Buat salinanku” (materi genetis berupa DNA atau RNA)* tanpa peralatan pengganda. Dia harus mencari sel hidup untuk bisa bereproduksi.

Pernah lihat penggambaran bentuk SARS-CoV2 yang mirip bola dengan batang-batang mencuat itu kan? Batang itu adalah protein yang bisa menempel ke satu enzim yang ada di sel paru-paru (dan beberapa organ lain). SARS-CoV2 yang masuk lewat hidung ke paru-paru bisa menempel dan masuk ke sel paru-paru. Lalu di dalam sel paru-paru, peralatan pengganda dalam sel membaca kalimat “Buat salinanku”. Mulailah sel paru-paru membuat salinan virus SARS-CoV2. Sampai jutaan… dan sesudah sel paru-paru penuh virus, akhirnya dia pecah. Jutaan virus SARS-CoV2 keluar dari paru-paru, sementara sel yang pecah itu jadi lendir.

Tiap virus yang lahir dari sel yang pecah, bisa menginfeksi sel-sel lain di sekitarnya, mengulangi proses yang sama: mengubah sel menjadi pabrik virus, sampai akhirnya pecah lagi, menghasilkan banyak virus, dan menambah lendir.

Lendir itu membuat orang yang terinfeksi SARS-CoV2 batuk dan sesak, penyakit COVID-19. Makin banyak sel terinfeksi, makin banyak lendir. Lendir berisi virus juga menjadi sarana penyebaran ke manusia lain, ketika keluar karena batuk atau bersin, lalu terhirup dan menempel di sel paru-paru.

Dan apabila manusia lain terinfeksi virusnya, makin banyaklah sel yang dipakai menggandakan virus. Memang itulah tujuannya. Virus itu hanya punya satu tujuan: bereproduksi sebanyak-banyaknya di sel manusia. Makin banyak manusia terinfeksi, makin banyak sel yang dijadikan pabrik pengganda virus.

Keberadaan lendir dalam paru-paru bisa bahaya bagi manusia. Kalau paru-paru terisi terlalu banyak lendir, manusia sesak dan sulit bernafas dan ujung-ujungnya bisa meninggal. Itu satu cara virusnya membunuh manusia.

Tubuh manusia tidak diam saja. Kita punya sistem kekebalan tubuh yang siap melawan segala kuman yang masuk. Jika virus masuk dan berusaha membajak sel kita menjadi pabriknya, sistem kekebalan tubuh menghasilkan antibodi yang bisa menonaktifkan virus. Selain itu ada reaksi standar tubuh jika terinfeksi, yaitu demam: menaikkan suhu tubuh agar kuman “terpanggang”. Di orang dengan kondisi tubuh normal/sehat, sistem kekebalan ini bisa membendung kegiatan virus, sehingga tidak sampai menimbulkan gejala, atau hanya menimbulkan gejala ringan. Bahkan bisa sampai menghilangkan infeksi virus. Makanya ada orang sembuh dari infeksi SARS-CoV2.

Namun di orang yang sistem kekebalan tubuhnya tidak optimal, misalnya karena sudah lanjut usia, atau sudah ada penyakit lain yang melemahkan kekebalan, kemampuan menahan aktivitas virus berkurang. Belum lagi kalau infeksi lain muncul. Inilah penyebab meninggalnya banyak orang lanjut usia atau orang berpenyakit lain ketika terinfeksi.

Dan sistem kekebalan tubuh bisa juga bereaksi berlebihan. Dalam upaya mengusir virus, sistem kekebalan tubuh bisa malah jadi menyerang semua jenis sel tanpa pandang bulu, virus maupun sel tubuh sendiri. Akibatnya: sistem kekebalan tubuh merusak tubuh sendiri. Bisa menyebabkan kematian juga.

Begitu caranya SARS-CoV2 membunuh manusia. Tapi mengapa dia membunuh manusia?

Ada makhluk hidup yang sengaja membunuh makhluk hidup lain. Misalnya, jika saya menyembelih ayam untuk memakannya, itu berarti saya sengaja membunuh ayam itu., agar bisa saya makan. 

Ada juga yang tidak sengaja. Misalnya saya sedang naik mobil ke tempat kerja, lalu melindas ayam yang kebetulan ada di jalan. Saya tidak sengaja membunuh ayam itu. Tidak ada manfaat yang saya dapat dari kematiannya.

Kalau manusia yang jadi inang SARS-CoV2 mati, virus itu rugi! Jutaan salinannya yang ada di dalam tubuh si manusia akan mati juga. Padahal tujuannya bukan itu. Tujuan SARS-CoV2, sebagaimana tujuan semua bentuk kehidupan, adalah bereproduksi dan bertahan selama-lamanya. Sebenarnya kalau mau begitu, ada cara lebih ampuh bagi SARS-CoV2. Bajak saja sel manusia, bikin jadi pabrik virus dan alat penular, tapi jangan sampai manusianya mati. Dalam jangka panjang akan lebih banyak salinan virus yang dihasilkan.

Tapi, ya, virus tidak bisa berencana jangka panjang. Dia cuma bisa berevolusi tanpa merencanakan akan jadi apa.

Dan sebenarnya, ada banyak virus lain yang sudah menemukan solusi itu. Mereka sekarang sudah tidak jadi virus lagi… mereka sudah jadi bagian DNA manusia. Banyak bagian DNA manusia yang punya kemiripan dengan DNA/RNA virus, dan tidak membuat protein yang diperlukan manusia. Mereka memenuhi tujuan kehidupan dengan berintegrasi dengan DNA manusia, ikut berkembangbiak bersama kita. Tentu prosesnya melibatkan evolusi, dan mungkin wabah yang makan banyak korban juga tapi tak tercatat dalam sejarah.

Jadi, mengapa virus itu membunuh kita?

Virusnya tidak berniat membunuh kita. Dia cuma melakukan usaha mencapai tujuan utama makhluk hidup: bertahan hidup dan bereproduksi. Sama saja dengan kita.

Toh manusia juga membunuh makhluk hidup lain dalam usahanya bertahan hidup dan bereproduksi.

* Untuk penjelasan apa itu DNA dan RNA, bisa ke https://saintif.com/materi-genetik-dna-dan-rna/

Referensi:
Lee, B.Y. “How Does The COVID-19 Coronavirus Kill? What Happens When You Get Infected”, Forbes (https://www.forbes.com/…/how-does-the-covid-19-coronaviru…/…)

Richard Dawkins, Selfish Gene. (https://siapabilang.com/buku-the-selfish-gene/)

Jared Diamond, Guns, Germs & Steel (https://siapabilang.com/buku-guns-germs-and-steel)

Sumber gambar: pixabay.com

Comment here