EsaiPilihan Redaksi

Memaknai Kelahiran dan Kematian

Di akhir bulan Juni lalu saya berulang tahun. Banyak do’a, harapan dan hadiah yang saya peroleh di hari itu. Tidak ada yang berbeda ataupun spesial dari tahun-tahun sebelumnya, hanya saja lebih banyak do’a dan ucapan karena banyaknya tambahan pertemanan ditahun 2020 ini.

Senormalnya manusia semakin tambah hari, minggu, bulan hingga tahun tentu semakin banyak teman dan relasi yang dimiliki. Namun banyaknya do’a, ucapan dan hadiah tidak sepenuhnya membuat hati saya senang seperti tahun-tahun sebelumnya, dengan datangnya semua itu justru membuat saya merasa takut dan semakin takut.

Rasa takut yang saya alami berjalan lumayan lama dan berlanjut hingga hari ini. Jujur, saya menulis ini masih dengan membawa rasa takut dan saya harus mengatakannya itu. Ketakutan ini bukan sekali dua kali muncul dalam pikiran saya pun juga bukan muncul ketika berulang tahun saja, namun rasa takut ini muncul jutaan kali dalam pikiran dan hati walau terkadang tanpa dipungkiri hilang dengan sendirinya.

Alih-alih berbahagia mendapat do’a spesial di hari yang katanya juga spesial (hari ulang tahun sering kali dianggap sebagai hari spesial) hal tersebut justru membuat saya menangis sejadi-jadinya, alih-alih menjadi terharu atas pesan-pesan dan beberapa hadiah namun hal tersebut membuat saya merasa sedih sesedih-sedihnya. Rasa bahagia memang tidak bisa saya bohongi, namun rasa sedih juga tidak bisa dibendung apalagi saya sembunyikan.

Jika dulu saya menganggap yang berhubungan dengan hari lahir atau ulang tahun identik dengan hadiah, kejutan dan orang-orang mengirim pesan manis yang berdampak pada terciptanya kebahagian di hati seseorang yang sedang berulang tahun namun tidak dengan diri saya tahun ini.

Perasaan takut berulang tahun saya rasakan di tahun ini, sekalipun mendapat banyak do’a dan hadiah, beberapa list pencapaian yang biasanya saya tulis dan harus dicapai di usia berikutnya tidak terpikirkan lagi oleh saya waktu itu, berbalik 180 derajat dengan hanya memikirkan tentang kematian.

Apa yang mempengaruhi pikiran saya? Saya tidak tau persis, barangkali hal tersebut dipengaruhi oleh banyaknya kabar kematian yang saya dengar di tahun 2020 akibat Covid 19 atau karena pergaulan saya dengan teman yang selalu mengajari saya untuk selalu menulis self-reflection setiap hari hingga akhirnya menuntun saya untuk memikirkan tentang kematian.

Setiap kali bicara tentang nafas kelahiran selalu mengingatkan saya pada sebuah kematian, lahir – mati – lahir – mati – lahir lalu mati. Mati menjadi fokus dan terngiang dalam pikiran setiap saat, lama dan terus menerus yang akhirnya berdampak pada takutnya diri melakukan suatu hal apapun, aktifitas seperti pergi ke supermarket dan tidur saya merasa sangat takut.

Banyak drama dalam hidup saya waktu itu, segalanya seperti bergerak begitu cepat, tapi kadang terasa sangat lambat dan semuanya menjadi tidak jelas. Di tanggal ulang tahun bahkan beberapa hari setelahnya topik kematian mengambil porsi penuh pada otak saya, momen demi momen membuat saya panik dan sangat sedih.

Ya, tentang kematian tentu membuat banyak orang merasa takut, dalam 25 tahun usia saya jarang sekali saya memikirkan kematian, sangat telat bagi sebagian orang jika di usia tersebut baru saja memikirkan mati dan saya menyadari itu. Bukankah tentang kematian memang seharusnya dipikirkan semuda mungkin agar kita dapat kita persiapkan dengan baik? Begitulah rumus yang seharusnya dipakai namun tidak dengan saya.

Kematian adalah sesuatu yang kadang tidak kita pikirkan sepenuhnya, walaupun sebagian yang lain sangat siap dan sudah memikirkannya dengan matang. Saya tau mengapa hal itu tidak terjadi dan tidak dilakukan karena tidak lain kematian merupakan hal yang menyedihkan dan menakutkan hanya bagi sebagian orang termasuk saya yang belum cukup bekal amal.

Sebagai manusia pada umumnya tentu kita tidak pernah memikirkan atau sekedar membicarakan tentang apa yang tidak kita suka, kehilangan tentu bukanlah sesuatu yang kita sukai. Namun semestinya kita sadar bahwa ketidakkekalan adalah ungkapan pamungkas dari diri kita sebagai manusia.

Semua itu jelas dari apa yang telah diajarkan kepada kita. Jika kita mengetahui dan mempercayai hal itu, mengapa kita membenci dan tidak menyukai sebuah kematian? Saya tidak tau jawabannya, barangkali segala cerita seperti di atas hanya muncul kepada saya yang jelas kadar imannya naik turun dan lebih banyak turunnya.

Hari-hari berlalu begitu saja, saya tetap menjalankan aktivitas seperti biasa. Kesedihan, kepanikan, kecemasan dan sejenisnya yang saya alami sedikit surut dan memudar, walaupun tidak bisa dipungkiri ketakutan atas kematian masih saya alami sampai sekarang terlebih akhir-akhir ini kabar tentang kematian sering saya dengar bahkan lebih sering dari biasanya.

Bagi sebagian orang kematian adalah sebuah kelahiran baru, hal tersebut dapat diterjemahkan bahwasannya konteks akhir dari sesuatu adalah awal dari sesuatu yang lain. Sebagai contoh di Eropa, kematian musim dingin adalah sebuah kelahiran musim semi. Kematian ulat adalah kelahiran kupu-kupu dan segala sesuatu di dalamnya. Apakah bisa dianalogikan seperti itu? tergantung bagaimana orang memaknai kematian itu sendiri. Hal tersebut memberi pelajaran kepada kita bahwa sesuatu hal yang terjadi sesungguhnya belumlah selesai, semuanya akan teriring pada sebuah keberlanjutan.

Menyibukkan diri untuk melupakan kematian bukanlah metode yang sepenuhnya benar, seringkali kita merasa sibuk, menghabiskan begitu banyak waktu untuk merencanakan hari berikutnya yang biasa-biasa saja, kesibukan yang mengerucut pada membuang-buang waktu melakukan kegiatan yang tidak berarti barangkali bukanlah persiapan yang benar.

Seharusnya kita benar-benar dapat mempergunakan waktu kita untuk mempersiapkan sebuah kematian, kita tidak harus menunggu hari tua atau melihat kita kehilangan seorang teman kemudian kita memikirkan mati. Kita benar-benar bisa memulai untuk memikirkan mati dan memikirkan kehidupan kita setalah mati hari ini juga, dengan mulai sadar bahwa segala sesuatu pasti akan berubah.

Kita dapat menjadikan setiap kesempatan bahkan setiap saat bersiap untuk hal tersebut, pasalnya memang tidak ada tempat di bumi, di mana kematian tidak dapat menemukan kita bahkan jika kita terus memutar kepala kita ke segala arah.

Tentang hal ini, saya teringat dengan salah seorang teman yang usianya terpaut belasan tahun dengan saya. Dia tertarik studi tentang kematian, dia memutuskan untuk tidak menikah dan fokus mempelajari kematian. Aneh bagi sebagian diantara kita. Tapi begitulah nyatanya, dia fokus bertahun-tahun untuk mempelajari berbagai hal tentang kematian bahkan hingga hari ini.

Kami bertemu dan bercerita, pada sesi ini saya lebih banyak diam dan lebih memilih untuk fokus mendengarkan segala ceritanya. Saya hanya sedikit menceritakan bahwa saya meyakini setelah kematian akan ada kehidupan panjang yang akan saya lalui nanti.

Saya mengatakan padanya bahwasannya saya penasaran mengapa dia begitu tertarik dengan studi kematian, pasalnya sangat sedikit orang yang fokus mempelajari hal tersebut. Dia menjawab dengan singkat “saya ingin bebas, studi tentang kematian memang bukan untuk mencari kebahagiaan, namun mencari kebebasan dan kematian merupakan kebebasan yang sebebas-bebasnya, untuk mencapai kebebasan itu saya harus mempelajari dan mempersiapkannya dari sekarang dengan baik”.

Seketika menggertak hati saya, apa yang harus dipersiapkan untuk sebuah kematian, saya bicara lagi padanya? Dia menjawab dengan perasaan tenang “lebih sering mengapresiasi orang lain, berhati-hati dan waspada, lebih sering bersyukur, memperbanyak koneksi dengan orang lain. Saya menyadari pentingnya manusia dan koneksi, saya akan sering mengatakan kepada seseorang bahwa saya mencintainya dengan sungguh, berbelas kasih setiap saat, memaafkan diri sendiri dan orang lain setiap saat dan yang paling penting dan susah adalah menjadi tenang dan mengendalikan diri. Seringkali kita berfikir kita bisa mengendalikan diri kita dan mengendalikan banyak hal namun nyatanya tidak, semua itu hanyalah ilusi dan obsesi kita saja baik terhadap diri maupun organisasi atau tujuan produktivitas kita. Mengendalikan diri adalah perihal yang tidak mudah. Ketika seseorang mengatakan mengapa bunga asli itu lebih cantik dan lebih indah? Ini tidak lain karena bunga itu memiliki waktu yang singkat, ya waktu yang singkat dengan kita dan singkatnya kehidupan membantu kita untuk menghargai kecantikan itu selagi masih ada, kita tidak akan bisa melakukannya setelah kematian datang menghampiri kita”.

Barangkali ada benarnya dari apa yang sudah dia katakan, saya tentu mengambil banyak pelajaran dari apa yang sudah dia ceritakan, saya tidak melihat seseorang dari apa sukunya, negaranya bahkan agamanya. Sesuatu hal baik yang bisa saya ambil pelajarannya akan saya ambil dan saya terapkan. Jujur, saya merasa sangat malu terutama pada diri saya sendiri mengapa saya tidak pernah mempersiapkan hal tersebut dengan baik layaknya teman saya itu.

Saya berfikir dengan keras, bukan semakin cerah namun semakin takut dan puncak ketakutan saya terjadi setalah saya berulang tahun di bulan Juni kemarin. Sebuah hal yang wajar jika ada dua orang anak membuat bangunan di pinggir pantai, mereka berebut sekop dan bergiliran untuk membuat sebuah istana, tanpa disangka kemudian bangunan tersebut roboh karena tergerus ombak, mereka menangis sangat kencang. Sebuah hal wajar pula jika kita sebagai orang dewasa merasa biasa-biasa saja atas kejadian yang menimpa dua orang anak tersebut, karena kita orang dewasa tau sebelumnya bahwa ombak akan datang menerjang bangunan tersebut lalu bangunan itu akan runtuh.

Ini sangat mirip dengan sebuah kehidupan kita. Kita sudah tau semua yang akan terjadi, namun mengapa diri ini masih belum bisa menerimanya? Saya semakin takut, barangkali ini semua terjadi karena bekal saya belum cukup.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Alih-alih menggantungkan harapan kita pada masa depan yang lebih baik, kita justru harus berfokus pada masa kini, bersyukur atas segala sesuatu yang ada di depan kita, mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbaiki diri setiap hari dan menjadi taat. Barangkali tidak melulu harus menghabiskan waktu dan mencurahkan segala aktivitas kita di tempat ibadah setiap jam bahkan setiap detik, namun dengan memuliakan kehidupan kita yang sesungguhnya barangkali dapat menjadi bekal bagi kita. Selain itu dengan bersedekah dan berbelas kasih mungkin dapat mengubah hidup sehingga kita perlu mengingat bahwa hidup adalah tentang mengingat orang lain untuk berbelas kasih, bersyukur lebih banyak atas hidup. Pasalnya kita sering mengeluh tentang segalanya, meyakini bahwasannya hidup adalah suatu keajaiban dan sesuatu yang harus disyukuri. Dengan bersyukur dapat membuat kita semakin bahagia, bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur melainkan syukur itu membawa kita pada kebahagian sehingga belajar bersyukur tentang segala sesuatu dapat menjadikan kita kuat.

Hal lain yang saya pelajari adalah dengan menerima orang lain, tidak memaksakan orang lain harus menjadi apa yang kita cintai atau senangi dan mencoba menerima segala sesuatu untuk dapat menikmati waktu Bersama karena penerimaan ini memberikan efek baik untuk jiwa. Di masa pandemi ini, kita tidak dituntut untuk bekerja keras sebagaimana di masa masa normal. Menjaga dan menenangkan diri juga bentuk dari bagaimana kita menerima segala ketentuan ini. Semoga kita semua diberikan kesehatan dan ketenangan lahir batin, amin.

Comment here