Memaknai Diri Sendiri Sebagai Perempuan

Pernahkah kamu berdiri di depan cermin sambil berfikir “aku bangga menjadi perempuan”, atau kamu sedang berfikir bahwa yang terlihat di depan cermin saat itu adalah Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin, seorang novelis perempuan Indonesia asal Semarang yang dalam karya novelnya begitu memberikan kisah yang menggetarkan jiwa. Atau pada saat itu yang terlihat adalah Peggy Lee, seorang perempuan penyanyi Jazz yang diriwayatkan oleh Truman Capote, atau jangan-jangan kita sejenak berfikir menjadi sosok Kartini masa silam yang penuh dengan perjuangan untuk perempuan.

Begitulah rasanya saat menyadari bahwa imajinasi kita terus bergerak untuk menjadi sosok perempuan yang luar biasa di masa lalu. Lalu kita jadikan cerminan bagi diri kita sendiri, utamanya kisah perempuan yang menjadikan kita perempuan merdeka. Sudahkah hari ini kita berucap syukur akan nikmat yang diberikan oleh Tuhan sebagai perempuan dan manusia merdeka?

Jika di masa silam sejarah Indonesia terlahir sebagai perempuan adalah hal yang memalukan, peran domestik menjadi peran paten bagi perempuan, kemudian di umur belasan tahun bagi perempuan Jawa harus melakukan proses pingitan hingga akhirnya berusaha untuk merelakan dirinya pada sebuah pernikahan pilihan orang tua. Hari ini lambat laun semuanya sudah berubah, sedikit sekali pengalaman semacam itu terjadi di masa kini. Perubahan sosial terus bergerak dinamis, pergeseran budaya disebabkan oleh faktor lingkungan, teknologi yang semakin berkembang hingga pola pikir masyarakat yang sudah terbuka membuat tradisi semacam itu sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat.

Namun, apakah pengalaman memilukan perempuan semacam itu sudah tidak ada lagi di masa sekarang? Faktanya masih banyak hal-hal buruk yang terjadi di masa sekarang dan belum bisa berlaku adil terhadap perempuan. Mulai dari kekerasan seksual pada perempuan yang pada akhirnya sang korban (red: perempuan) yang disalahkan, hingga stigma negatif yang dinobatkan kepada perempuan itu sendiri.

Bahkan dalam catatan tahunan Komnas Perempuan pada tahun 2020, dalam kurun waktu 12 tahun, kekerasan terhadap perempuan meningkat sebanyak 792% (hampir 800%) artinya kekerasan terhadap perempuan di Indonesia selama 12 tahun meningkat hampir 8 kali lipat. Diagram di atas masih merupakan fenomena gunung es yang dapat diartikan bahwa dalam situasi yang sebenarnya. Kondisi perempuan Indonesia hari ini mengalami kehidupan yang tidak aman. Tidak hanya itu, kekerasan pada perempuan pekerja juga terus melambung tinggi dan menjadi bayang-bayang yang selalu mengintai. Kasus ini rasanya tidak akan pernah hilang selagi kita masih merasakan kehidupan yang terus dinamis. Dengan kondisi demikian, tidak semua perempuan menyadarinya.

Berdasarkan fakta tersebut, selayaknya kesadaran yang muncul adalah bagaimana memaknai diri sebagai perempuan? Apakah hanya tetap memaknai peran domestik sebagai keniscayaan yang dimiliki oleh perempuan dan menjadi ketetapan paten? Seperti apa yang dikatakan oleh Najwa Shihab, tokoh perempuan yang paling dikagumi di Indonesia pada tahun 2020 versi YouGov. Ibarat sebuah pintu di sebuah rumah. Jika bagi laki-laki pintu tersebut terbuka lebar, maka bagi perempuan harus mendobrak pintu tersebut untuk bias masuk dalam rumah.

Bagaimana kesadaran itu bisa muncul? Banyak sekali ruang yang bisa kita manfaatkan untuk mengasah kemampuan diri dan skill yang dimiliki oleh kita sebagai perempuan. Titik tekannya, perempuan berdaya tidak hanya diberikan pada satu kemampuan semata, sebab setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda dan kita harus menemukan itu dalam diri kita sendiri. Sekelumit perjalanan perempuan mencari dirinya, sikap insecure dan tidak percaya diri seperti hal mutlak menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam pencarian tersebut.

Akan tetapi, zona seperti itu tidak baik jika terlalu lama hinggap dalam diri lalu menyebabkan keterpurukan. Kesadaran akan ketidaksempurnaan adalah sebuah keniscayaan. Tugas kita adalah dengan mensyukuri segala nikmat yang diberikanNya melalui asah potensi dan kemampuan yang sedikit menjadi luar biasa. Kita percaya bahwa potensi besar berawal dari potensi kecil yang terus diasah oleh seseorang. Melalui perjalanan panjang dalam pencarian, kita akan menemukan diri kita melalui potensi kecil itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *