Lindungi Anak Perempuan Kita dari Anemia Defisiensi Besi

anemia pada anak perempuan

Sejak tahun 2012, tanggal 11 Oktober ditetapkan oleh PBB sebagai International Day of the Girl, Hari Anak Perempuan Internasional. Tema tahun 2020 ini adalah “My Voice, Our Equal Future”. Dalam konteks negara kita Indonesia, saya ingin mengajak banyak orang menaruh perhatian pada satu hal yang penting diupayakan agar anak-anak remaja perempuan kita bisa menyuarakan dirinya seutuhnya: melindungi mereka dari Anemia Defisiensi Besi (ADB).

Apa itu ADB?

Para ibu, apalagi yang masih memiliki bayi, mungkin sudah pernah mendengar istilah Anemia Defisiensi Besi ini. Biasanya ketika bayi berusia 4 bulan akan mulai diberikan suplemen zat besi di puskesmas. Pemberian suplemen tersebut guna mencegah ADB. Bayi- bayi yang lahir cukup bulan memang mendapatkan cadangan zat besi dari ibu sejak trimester ketiga kehamilan hingga genap berusia 4 bulan. Namun setelah itu, kandungan zat gizi dalam ASI sudah tak lagi mampu mengejar kebutuhan bayi. Bahkan, setelah usia 6 bulan, cadangan zat besi yang dimiliki bayi mulai habis. Sedangkan ASI saat itu hanya mampu memenuhi tak sampai 5% dari kebutuhan zat besi bayi.

Zat besi adalah mineral penting untuk membentuk hemoglobin di dalam sel darah merah. Hemoglobin sendiri berfungsi mengikat dan mengirim oksigen ke seluruh tubuh. Bila cadangan zat besi bermasalah, maka kemampuan tubuh memproduksi sel darah merah pun bermasalah. Kemudian, seluruh sel dan jaringan tubuh tidak mendapat kecukupan oksigen. Akibatnya, metabolisme energi dan kinerja otak terganggu.

Anak dengan kekurangan zat besi dapat mengalami ADB, yaitu kekurangan sel darah merah dalam tubuh. Bila tidak segera diterapi dengan pemberian suplemen zat besi, pertumbuhan fisik dan perkembangan anak akan terganggu. Pada kasus-kasus tertentu bahkan perlu dilakukan terapi berupa tranfusi darah.

Data menunjukkan bahwa wanita mempunyai risiko terkena anemia paling tinggi. Hal ini dikarenakan wanita mengalami menstruasi setiap bulan, proses melahirkan dan masa nifas. Remaja putri khususnya memiliki risiko sepuluh kali lebih besar untuk menderita anemia dibandingkan dengan remaja putra. Selain setiap bulannya remaja putri mengalami haid, masa pertumbuhan membutuhkan asupan zat besi yang tinggi.

Manfaat Zat Besi dan Gejala ADB

Zat besi diperlukan dalam pertumbuhan dan perkembangan fungsi normal sel-sel tubuh, serta pembentukan hormon dan jaringan ikat. Tidak hanya itu, zat besi dibutuhkan untuk menghasilkan energi dari asupan yang bernutrisi. Zat besi juga berpengaruh dalam antaran sinyal listrik di sistem saraf tubuh, berperan dalam meningkatkan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, konsentrasi dan daya ingat.

Tampilan wajah pucat, mudah lelah atau lemas, serta kerap mengantuk adalah gejala yang paling sering dialami penderita ADB. Selanjutnya, sulit berkonsentrasi dalam waktu lama, mudah pusing, bahkan mungkin sering pingsan, serta kerap berkeringat dingin adalah kondisi yang dilaporkan pada remaja putri berstatus anemia. Gejala-gejala tersebut merupakan Kondisi Energi Kronis (KEK). Bila kondisi tersebut menetap, makaaktivitas serta kemampuan berprestasi akan terganggu.

Lingkaran Setan ADB

Remaja putri yang notabene adalah calon ibu, bila mengalami ADB yang tidak terkoreksi, maka tumbuh kembangnya sendiri akan terganggu dan mengalami Kondisi Energi Kronis (KEK). Lalu ketika ia hamil bila kondisi ADB-nya masih berlanjut, maka kehamilan dan proses melahirkan bisa jadi berisiko. Kelelahan yang berkepanjangan serta metabolisme tubuh yang terganggu akan mempengaruhi pertumbuhan janin. Dapat pula terjadi keguguran atau persalinan yang mengancam nyawa. Proses persalinan dengan KEK dapat mengakibatkan gagal nafas dan perdarahan hebat pada sang ibu.

Di lain pihak, bayi juga bisa lahir prematur. Bayi dari ibu semacam ini berisiko lahir dengan berat badan rendah, serta memiliki masalah cadangan zat besi. Siklus ADB tersebut akan terus berlanjut dari generasi ke generasi bila tidak mendapatkan perhatian yang serius.

Faktor-Faktor Penyebab ADB

Sebagian orang menganggap ADB yang dialami remaja putri hanya terjadi pada mereka yang berstatus sosial ekonomi rendah atau bermukim di wilayah terpencil atau pedesaan. Kenyataannya, pengetahuan gizi dan nutrisi secara umum di masyarakat kita sendiri seringkali rancu dan penuh misinformasi. Belum lagi serbuan tawaran aneka pola diet bersanding dengan pandangan body image ideal wanita adalah berbadan langsing dan berwajah tirus.

ADB pada remaja putri secara umum terjadi akibat pola diet masyarakat Indonesia masih menggunakan sayuran sebagai sumber utama perolehan zat besi. Sayuran memang merupakan sumber zat gizi yang baik, tetapi lebih sulit untuk dicerna dan diserap tubuh. Sedangkan bahan pangan hewani yang merupakan sumber zat gizi yang baik untuk perolehan zat besi, masih jarang dikonsumsi. Bahkan mungkin dihindari oleh kaum hawa dengan alasan takut gemuk. Para ahli gizi dan nutrisi menyebutkan bahwa daging, ayam, dan ikan memiliki kandungan zat besi yang tinggi. Serealia dan kacang-kacangan memiliki kandungan zat besi  sedang, sementara sebagian besar sayuran yang mengandung asam oksalat tinggi seperti bayam memiliki kandungan zat besi rendah.

Masyarakat Indonesia juga punya kebiasaan mengonsumsi teh dan kopi yang menjadi faktor lain penyebab ADB. Kopi dan teh mengandung polifenol yang berpengaruh pada proses penyerapan zat besi. Kalsium yang terdapat pada olahan susu dan keju juga dapat menjadi inhibitor penyerapan zat besi. Di lain pihak, penyerapan zat besi akan optimal jika difasilitasi oleh asam askorbat (vitamin C), seperti yang terkandung dalam buah-buahan kaya vitamin C. Semakin tinggi asupan protein hewani, vitamin A, vitamin C, dan zat besi seseorang, semakin tinggi pula kadar hemoglobin dalam tubuhnya.

Bila kita mengharapkan generasi penerus yang berkualitas dan sarat prestasi, sudah selayaknya kita memperhatikan secara serius kesehatan dan kesejahteraan perempuan, khususnya anak-anak perempuan di rumah kita. Pastikan mereka mendapat gizi yang cukup sehingga terhindar dari anemia defisiensi besi.

 

 

Image by Jess Foami from Pixabay

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *