Uncategorized

Konsep Poligami di Sinetron Inayah yang Absurd

Judul Inayah diambil dari nama tokoh utama dalam sinetron tersebut. Inayah diperankan oleh artis cantik, Shandy Aulia. Sepertinya ini sinetron lawas, tapi sayanya aja yang baru mengikuti sinetron ini. Awal saya menonton sinetron ini karena saya mendengar panggilan umi (yang kemudian berganti ami) kepada beberapa perempuan dalam satu rumah di sinetron tersebut. Lalu saya curiga, apakah ini sinetron tentang poligami? Ternyata benar. Inayah adalah salah satu istri Pak Doso yang biasa dipanggil “Romo” dalam sinetron tersebut.


Inayah ini digambarkan sebagai tokoh protagonis, sedangkan istri keempat Pak Doso yang bernama Sarah digambarkan sebagai tokoh antagonis dan licik. Pak Doso sendiri digambarkan sebagai tokoh yang kaya raya. Bondone turah-turah, kalo kata orang Jawa. Tapi tunggu dulu. Apakah kekayaan yang dimiliki Pak Doso tersebut lantas ia mampu bersikap adil kepada keempat istrinya?


Dari awal saya menonton sinetron tersebut, saya sama sekali tidak melihat sikap adil yang ditujukan Pak Doso terhadap keempat istrinya. Saya kira saya salah karena baru menonton satu episode. Namun setelah saya ikuti hampir sebulan lamanya, ternyata dugaan saya masih sama seperti awal saya menonton sinetron tersebut. Bahwa Pak Doso sebagai kepala keluarga, tidak bisa bersikap adil sama sekali terhadap semua istrinya.


Bahkan salah satu scene menunjukkan terang-terangan tentang hal tersebut yang dapat dilihat dari ucapan Ami Ratna (Istri ketiga Pak Doso), “Romo, harusnya Romo bersikap adil, dong. Sarah juga harus dihukum. Romo itu diperbolehkan beristri lebih dari satu asalkan harus adil!”. Ucapan Ratna tersebut diiyakan oleh Ami Ita ketika ia terlibat cekcok dengan Sarah.

Lalu bagaimana sikap Romo ketika mendengar bantahan tersebut? Ia abai, bahkan memberikan hukuman yang lebih berat kepada Ami Ratna dan Ami Ita. Lah terus di mana Ami Inayah? Dalam scene tersebut, Inayah sedang dihukum dengan cara dikurung di gudang oleh Romo, karena hasutan Sarah.


Entahlah, dalam sinetron tersebut, saya justru menyimpulkan bahwa Romo ini mudah sekali termakan hasutan dari orang lain. Selain itu, ia selalu mengandalkan hartanya ketika memecahkan suatu masalah. Saya pun belum “ngeh” kenapa si Romo ini bangga sekali memiliki empat istri sedangkan istrinya merasa bahwa Romo tidak adil terhadap mereka.


Dalam adegan lain, Pak Doso pernah berkata kepada Aryo (anaknya) ketika Aryo menolak untuk menikah lagi setelah memiliki dua istri, ”Semua orang itu kan tahu kamu anak Romo. Romo ini sudah terkenal sebagai lelaki yang kuat dan tangguh, makanya punya istri lebih dari dua. Jadi kamu harus bisa mengikuti jejak Romo.”


Pak Doso memiliki empat istri karena ia bangga disebut sebagai pejantan tangguh. Entah dalam hal apa yang dimaksud. Tapi jika saya boleh berpendapat, sepertinya kuat dan tangguh yang ia maksud adalah persoalan “kejantanan” di atas ranjang. Karena yang saya ikuti ceritanya, Romo ini tidak memegang kendali yang seimbang dalam rumah tangganya. Ia menyerahkan beban dan tanggung jawab sepenuhnya kepada istri-istrinya dalam mengasuh anaknya.

Saya kira si romo ini tidak ikut andil sama sekali dalam perihal parenting. Ia hanya tahu cara memproduksi anak. Setelah lahir, maka akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab istrinya. Ia hanya akan terlibat ketika salah satu anaknya berbuat salah yang kemudian akan ia hukum.


Saya jadi penasaran sama penulis naskahnya. Saya penasaran, sebenarnya apa yang dipikirkan oleh penulis naskahnya? Apa tujuan dari sinetron tersebut? Untuk menyampaikan pesan moralkah, atau hanya untuk membuat penonton menjadi terbawa emosi ketika menontonnya?.


Inayah digambarkan sebagai sosok yang paling baik hati dan lemah lembut. Tapi uniknya, Inayah yang paling sering didzolimi oleh Pak Doso, walaupun di beberapa scene, Pak Doso mengaku sangat menyayangi Inayah. Namun saya percaya, semua penonton pasti sadar kalau porsi dzolimnya itu lebih besar daripada ucapan sayangnya Romo ke Inayah.


Ini bukan karena saya baper, ya. Kalau pun ada yang berkomentar, “Lha namanya juga sinetron, ya biar seru lah”. Bukan itu masalahnya, Bos.


Saya justru khawatir kalau ternyata masih banyak lelaki yang melakukan poligami hanya karena merasa dirinya mampu menafkahi dan hanya karena mengikuti nafsunya saja, tanpa ia berpikir bahwa ia harus berbuat adil. Ini memang sinetron, tapi bagaimana jika gambaran tersebut menjadi stigma dalam masyarakat yang selama ini kental akan patriarki?


Mampu berbuat adil dalam urusan harta atau materi, bukan berarti secara otomatis ia bisa adil dhohiriyah wa bathiniyah. Istri cemburu dan berusaha mencelakai istri lainnya, itu justru yang berbahaya. Sinetron Inayah tersebut justru menggambarkan betapa suami tidak bisa berlaku adil kepada istri-istrinya, dan kekayaan yang dimiliki tidak menjamin keadilan itu ada. Jadi, pertimbangkan banyak hal dulu sebelum memutuskan untuk poligami.

Comment here