Kisah Tentang Seorang Anak yang Sedih dan Ibu yang Lupa

Kematian dan kehidupan adalah dua hal yang beriringan di dunia ini. Setiap yang mati diawali dengan hidup dan setiap yang hidup akan menemui mati. Bahkan setiap yang mati tetap membutuhkan kepedulian dari yang masih hidup.

Satu di antara bentuk kepedulian yang dibutuhkan oleh mereka yang telah mati adalah doa & sedekah. Oleh sebab itu, siapapun yang rajin berdoa dan bersedeka, apalagi di bulan Ramadan seperti saat ini, akan sangat bermanfaat bagi para pendahulunya yang telah lebih dulu kembali ke rumah abadi. Hal ini dilandasi sebuah kisah yang terdapat dalam kitab Mawaidz al-Ushfuriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfury. Berikut kisah lengkapnya,

Pada suatu malam Jumat, Tsabit al-Bannani sedang berkunjung ke suatu kuburan. Ia bermunajat kepada Sang Pemilik Semesta hingga adzan subuh berkumandang. Ketika bermunajat, ia diserang rasa kantuk yang amat besar hingga akhirnya tertidur. Saat tidur inilah, Tsabit al-Bannani bermimpi bahwa semua ahli kubur keluar dari kubur dengan wajah yang cerah serta pakaian yang memesona. Tak hanya itu, setiap dari mereka juga tampak membawa makanan yang lezat-lezat. Hanya seorang pemuda yang tampak murung dengan pakaian lusuh dan tangan kosong tanpa makanan sedikitpun. Setelah beberapa saat, para ahli kubur kembali ke kuburannya dengan wajah senang kecuali pemuda tersebut yang kembali dengan wajah sedih.

Akhirnya, Tsabit al-Bannani memanggil pemuda tersebut dan bertanya, “Wahai pemuda, siapakah engkau di antara mereka? Sebab kulihat mereka semua kembali ke kubur dengan gembira, sementara engkau kembali ke kubur dengan bermuram durja?”

Sang pemuda pun menjawab, “Wahai imam kaum muslimin, sesungguhnya aku berbeda dengan mereka. Aku tidak mempunyai saudara yang berbuat baik atau berkirim doa untukku. Sementara mereka memiliki anak, saudara, dan teman yang mengingat mereka dan mengirimkan doa atau bersedekah setiap malam Jumat. Lalu kebaikan-kebaikan itu benar-benar sampai kepada mereka. Aku hanya seorang lelaki yang tengah menunaikan ibadah haji, namun takdir kematian menghampiriku di tengah-tengah pelaksanaan haji. Ibuku menguburkanku di kuburan ini. Setelah itu, ibuku menikah lagi dan melupakanku begitu saja. Tak pernah ada kiriman sedekah yang dihadiahkan untukku. Hal inilah yang membuatku sedih setiap waktu.”

Lalu Tsabit al-Bannani berkata, “Wahai pemuda, beritahu aku tempat ibumu tinggal. Aku akan menyampaikan kondisimu saat ini kepadanya.”

Sang pemuda kembali menjawab, “Wahai imam kaum muslimin, ibuku tinggal di suatu kampung yang seperti ini…. Jika ia masih tetap tidak ingin bersedekah untukku, maka sampaikan padanya bahwa di saku bajunya terdapat seratus mitsqal emas yang merupakan harta warisan ayahku dan itu menjadi hakku. Sampaikan agar ia bersedekah menggunakan uang itu.”

Tsabit terbangun dari mimpinya.

Esok harinya, Tsabit al-Bannani pergi ke alamat yang diberitahu sang pemuda di dalam mimpi. Di tempat tersebut, Tsabit al-Bannanu bertemu dengan ibu sang pemuda. Tsabit al-Bannani segera menceritakan keadaan sang anak di dalam kubur. Mendengar cerita Tsabit al-Bannani, sang ibu langsung pingsan. Setelah siuman, sang ibu segera mengambil seratus mitsqal emas dan menyerahkannya kepada Tsabit al-Bannani sembari berkata, “Aku wakilkan kepadamu emas ini untuk kau sedekahkan atas nama anakku.”

Tsabit al-Bannani menerima emas tersebut dan segera menyedekahkannya. Di suatu malam Jumat ketika ia mengunjungi saudara-saudaranya, ia tertidur dan bermimpi. Sebuah mimpi yang memperlihatkan wajah sumringah pemuda yang ia temui dalam mimpi beberapa hari yang lalu. Sang pemuda tiba-tiba berkata, “Semoga Allah menyayangimu sebagaimana engkau menyayangiku.”

Wallahu A’lam

Photo by Faseeh Fawaz on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *