EsaiHikmahPilihan Redaksi

Kisah Mengharukan Syaima’ Bint al-Harits, Saudari Se-susuan Nabi

Setiap manusia memiliki kenangannya masing-masing, baik itu kenangan legit maupun kenangan pahit. Satu hal yang pasti dari kenangan adalah ia akan tetap abadi ̶ dalam arti majazi ̶ meskipun pemiliknya telah pergi. Beberapa kenangan terasa menyakitkan, beberapa yang lain terasa menenangkan, dan sisanya bisa menentukan keselamatan seseorang.

Bagian yang terakhir dibuktikan dengan kisah seorang perempuan yang bernama Syaima’ bint al-Harits yang selamat sebab ingatannya terhadap kenangan. Kisah mengharukan ini diceritakan oleh Nizar Abazhah ̶ seorang Guru Besar dalam bidang Sirah Nabawiyyah di Akademi al-Fath al-Islami Syria ̶  dalam kitabnya yang bertajuk Fi Bayt al-Rasul.

Dalam tragedi Perang Hunain, Rasulullah memerintahkan beberapa orang prajurit untuk menemukan seorang laki-laki yang bernama Bujad dari Bani Sa’d. Laki-laki ini telah melakukan tindakan yang memicu kekhawatiran bagi umat Muslim. Selang beberapa waktu, Lelaki tersebut ̶ beserta seluruh anggota keluarganya ̶ berhasil diringkus dan dibawa ke hadapan Nabi Muhammad.

Salah seorang perempuan dari keluarga lelaki tersebut ̶ yang bernama Syaima’ bint al-Harits ̶ memprotes perlakukan para prajurit Muslim yang terlalu kasar. Ia berkata, “Asal kalian tahu, Demi Allah, aku ini saudari se-susuan Nabi kalian!” Para prajurit Muslim hanya tertawa dengan nada mengejek melihat pengakuan tersebut. Mereka mengira bahwa itu hanya akal-akalan si perempuan agar bisa bebas dari hukuman.

Setelah berada di hadapan Rasulullah, perempuan itu terpesona dengan keindahan wajah Nabi Muhammad. Ingatannya berputar ke masa lima puluh tahun yang lalu. Terkenang ketika ia berjalan mengelilingi tenda Bani Sa’d dan bermain-main dengan Nabi Muhammad. Tak kuasa ia menahan rasa rindu atas kenangan itu.

Di tengah rasa lelah yang berlimpah, ia berteriak, “Rasulullah, aku adalah saudari sesusuanmu. Aku Syaima’, putri Halimah al-Sa’diyah.” Nabi terpaku mendengar ungkapan perempuan itu. Beliau pandangi perempuan itu dengan saksama guna memastikan kebenaran pengakuannya. Beliau berusaha mengingat-ingat masa kecilnya ketika masih diasuh oleh Halimah. Ada semacam rasa rindu yang perlahan tumbuh pada perempuan itu. Akhirnya, dengan anda penuh kasih Nabi bertanya, “Apa buktinya jika kau adalah saudari se-susuanku?”

Di tegah rasa letih yang berlebih, perempuan itu berusaha mengingat-ingat kenangan tentang masa kecilnya bersama Rasulullah. Ia terdiam beberapa saat untuk mencari kenangan yang telah tergerus oleh kekejaman waktu. Tetiba ia berkata, “Ingatkah kau wahai Nabi Allah, ketika aku memukul pangkal pahamu? Saat itu, kita sedang bermain di dekat tenda ̶ tenda keluarga Bani Sa’d ̶ lalu kau menaiki punggungku dan menggigitku dengan gigitan penuh kasih sayang.” Wajah Nabi Muhammad tiba-tiba bersinar cerah pasca mendengar penuturan perempuan itu. Dua mata yang indah itu kini berkaca-kaca, mengalirkan tetes-tetes bening tentang rindu dan kasih sayang yang telah lama terpendam.

Nabi Muhammad menghampirinya dengan penuh kegembiraan dan penghormatan. Dihamparkan pula ̶ untuk perempuan itu ̶ selendang keagungan beliau di atas tanah, lalu mempersilakan perempuan itu untuk duduk di atasnya.

Nabi Muhammad sendiri justru berdiri melihat perempuan yang sedang sangat bahagia itu. Kepadanya, Nabi berkata, “Jika kau berkenan, maka tinggallah bersamaku. Aku akan mencintai dan memuliakanmu. Namun jika kau ingin kembali pada kaum dan keluargamu, maka aku akan memberimu hadiah.” Rasa lega menyelimuti hati Syaima’ mendengar ungkapan Nabi Muhammad. Lelah, letih, dan lesu hilang saat itu juga.

Sesaat, Syaima’ bingung atas tawaran yang diberi oleh Nabi Muhammad. Ia juga ingin menghabiskan waktu bersama saudara se-susunya itu, tetapi ia juga rindu kepada kaum dan keluarganya. Dengan penuh rasa hormat, akhirnya Syaima’ berkata pada Nabi Muhammad, “Aku akan kembali pada keluarga dan kaumku, Rasulullah.”

Nabi Muhammad pun melepas kepergian saudarinya dengan memberikan hadiah empat orang budak ̶ seorang budak perempuan dan sisanya laki-laki ̶ . Budak-budak itu diberikan tugas agar melayani dan mengurus segala kebutuhan Syaima’.

Nabi Muhammad memang seorang yang penyayang. Selain itu, Nabi juga seorang yang mengerti akan arti balas budi. Cara Syaima’ juga mengajarkan kepada manusia tentang arti penting sebuah kenangan. Kenangan bukan hanya sekadar sejarah, sebab mereka yang beruntung akan mendapatkan kebahagiaan besar gara-gara sebuah kenangan.

Wallahu A’lam

 

Comment here