EsaiPilihan RedaksiUncategorized

Keluar dari Echo Chamber Algoritma Digital

Mungkin suatu ketika kita menyadari bahwa sosial media mendadak menjadi membosankan, tidak ada isu seru untuk dikomentari atau kita mungkin mendapati berita terupdate yang berseliweran di beranda kita hanya itu-itu saja. Sebetulnya update yang muncul di beranda kita tidaklah sama, jika mau membuktikan, coba bandingkan beranda sosial media anda dengan sosial media suami, atau anak anda, atau siapa saja anggota keluarga anda. Tentu akan kita dapati perbedaan trending yang muncul di timelinenya.

Dan satu lagi, ketika setiap orang berseloroh dengan ungkapan, hindari hoax, hindari ujaran kebencian, cerdas bersosial media dan lainnya, tau ngga sih jika itu semua untuk kebanyakan orang tidak mudah. Kenapa tidak mudah? Karena sebetulnya berita-berita ter-update yang bersliweran di beranda kita itu sebetulnya hanyalah refleksi dari jejak digital yang kita buat sendiri. Dan itu berdasarkan pada intensitas/seberapa sering interaksi digital kita pada hal-hal yang kita sukai, kita ikuti atau kita cari. Ini pula yang menjadi penyebab kenapa iklan-iklan yang muncul di beranda juga seperti memahami apa yang kita inginkan.

Mungkin tidak banyak yang menyadari hal ini. Jargon bahwa digital society sesungguhnya semakin membangun konektivitas malah sebetulnya membangun kluster digital berdasarkan pada kecenderungan masing-masing orang. Dari sinilah sebetulnya kluster-kluster identitas itu menemukan momentum untuk terkoneksi pada kelompoknya masing-masing dan secara tidak langsung membentuk solidaritas digital. Saya sering menjadikan fenomena ini menjadi catatan digital saya.


Lantas apa dampaknya? Setidaknya disadari atau tidak kita dipaksa untuk menjadi “Figital“ -fisik dan digital- suatu istilah dimana semakin kaburnya batas antara dunia fisik dan digital. Saat ini kita menyaksikan banyak orang dengan kemampuan akses pengetahuan yang sangat mudah, luas dan sangat kompleks, tidak terbatas (unlimited), tapi masih saja sangat resisten untuk belajar.

Bagaimanapun media sosial telah membangun lingkungan ‘budaya narsistik’ yang membawa implikasi menantang pengetahuan yang sudah mapan. Dalam buku The Death of Expertise celah pemisah yang lebar antara ‘expert’ (ahli) dan ‘common people’ (awam) ini semakin lebar, tentu saja banyak sekali fenomena yang bisa kita saksikan, misalnya ketika kita sering saksikan bagaimana para ahli kebanyakan mengabaikan interaksi dan keterlibatannya dengan awam. Membangun kluster komunitas digitalnya sendiri yang secara tidak langsung terbentuk dari intensitas interaksi dengan sesamanya.

Sementara disisi lain, bagaimana masyarakat awam telah merasa sudah cukup mendapatkan informasi yang diinginkan, konektivitas digital telah meningkatnya kepercayaan diri masyarakat umum, dan semakin menegaskan bahwa hanya dengan bekal gadget di gengaman, siapapun dan dengan latar belakang apapun telah mampu menjadi ahli dalam segala hal.

Apa kemudian internet kita jadikan kambing hitam? Tidak juga. Dengan meningkatnya konektivitas dan interaksi pada semua segmen sosial, secara tidak langsung terbangun pula keyakinan irasional bahwa setiap orang adalah ‘smart’, semua orang adalah pintar. Keyakinan ini bukan tentang meningkatnya penghargaan pada pengetahuan ‘knowledge’ (yang itu menjadi tujuan utama suatu pendidikan, yaitu menjadikan manusia pembelajar sepanjang hayat). Akan tetapi, saat ini kita menghadapi masyarakat dimana pengetahuan yang sedikit dianggap menjadi endpoint (titik akhir), ketimbang dimaknai sebagai permulaan suatu proses pembelajaran. Sehingga tidak mengherankan jika saat ini kita jadi akan lebih mendengarkan kata-kata seorang digital influencer dengan pengikut lebih dari 1 juta K ketimbang analisa ahli yang hanya sedikit pengikutnya.

Jejak digital, apa yang kita cari, penelusuran mesin pencari, interaksi kita di sosial media dan media daring lainnya, dengan siapa kita sering komen atau meninggalkan jejak digital, sungguh secara tidak langsung telah membuat kita terjebak dalam pola identitas yang secara tidak langsung kita sendiri yang membangunnya. Dan fenomena ini akan menjadikan seseorang terkluster dalam lingkaran digital yang dia bangun sendiri.

Sebuah status seseorang di sosial media, me-repost status orang Amerika yang membagikan potret aparat polisi yang berlutut di hadapan aksi demonstran yang menuntut keadilan atas kematian Floyd. Foto ini diberi caption sepihak dan menggeneralisir jika demonstrasi ini berlangsung sangat santun. Padahal di saat yang sama saya cek berbagai media mainstream, cek tagar berita baik video, status, update netizen, hampir semua mengupdate jika demo massive sedang berlangsung bahkan sampai terjadi kekisruhan dengan aparat keamanan. Dan setelah saya telusuri saya mendapatkan gambar yang dibagikan tadi diambil dari peristiwa yang terjadi di salah satu negara bagian. Yang artinya seseorang yang membagikan foto tadi hanya melihat dari satu angle. Kenapa? Bisa jadi karena algoritma digital di timeline-nya telah terbentuk sedemikian rupa sehingga secara tidak langsung menyembunyikan sudut lain dari demonstrasi Amerika.

Terus, bagaimana sih biar menjadi netizen yang pintar sepintar ponsel pintar? Sebenarnya tidak sulit, tentu point utama adanya keingintahuan, dan kedua siap terima kenyataan bahwa apa yang terlanjur kita percayai itu bisa tidak benar. Yang kedua ini sulit, tentu saja.

Poin pertama keingintahuan, kunci pengetahuan berawal dari rasa ingin tahu. Nah, dalam kultur digital yang sudah terpetakan oleh algoritma digital bagaimana strategi termudah untuk memenuhi keingintahuan sekaligus keluar dari jebakan algoritma digital?

Bagi saya mengikuti akun media sosial dari media-media mainstream itu penting sekaligus menyalakan tombol pemberitahuan jika ada pembaruan terbaru. Setidaknya di tiga platform sosial media raksasa macam FB, Twitter dan IG, sekilas pantau komentar-komentar netizen di updatenya. Karena ketiga sosmed ini memiliki segmentasi audien yang berbeda. Tips lain, ikuti akun media sosial dari tokoh-tokoh penting, pemangku kebijakan, politisi, aktivis sosial, karena biasanya mereka akan membagi analisa-analisa mendalam yang tersirat dari status sosmednya, sehingga membantu membuka sudut pandang kita dan juga mengajak kita melihat dari angle yang berbeda. Ketiga, pantau trending topik, biasanya identik dengan hastag atau tanda pagar # dan diikuti dengan isu yang sedang hangat. Tagar ini bisa disetel sesuai kecenderungan kita, mau trending topik yang nasional atau internasional sehingga kita bisa ketik tagar tentang topik tertentu dan akan mendapatkan update terbaru dalam berbagai bentuk, baik yang berita, status update, video update baik dari breaking news atau yang dibagikan netizen.

Pencarian trending topik ini juga bisa juga dibantu mesin pencari seperti Google atau lainnya. Tiga strategi ini jika kita terapkan pada isu tertentu, pasti kita akan mendapatkan supply beragam warna informasi sehingga dari sini akan memaksa kita untuk menyaksikan, membaca dan memahami dari beragam sudut pandang.

Tetapi, strategi di atas juga akan menjadi nonsense jika tidak diimbangi dengan menyiapkan diri untuk siap mental menghadapi kenyataan berbeda atas apa yang telah kita percayai. Ini biasanya yang kebanyakan netizen tidak siap. Sehingga seringkali kita lihat umpatan-umpatan kasar bertebaran di medsos sebagai respon kebuntuan argumentasi karena tidak dibarengi oleh data atau bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.

Maka menjadi netizen yang pintar itu bukan semata dengan hp pintar, tapi juga kemampuan membaca dan menelaah beragam informasi, memilah-milah dan menjadikan massive-nya informasi itu sebagai sumber pengetahuan / knowledge sehingga menjadikan kita menjadi netizen +62 yang lebih bijak. Semoga catatan ini bermanfaat.

Comment here