EsaiHikmahPilihan Redaksi

Kekuatan Jiwa Perempuan

Tak perlu membahas feminisme, gender equality, atau matriarki. Kekuatan jiwa perempuan sudah swabukti. Dirinyalah yang membuktikan kekuatannya. Pemaparan tak akan sanggup untuk menjelaskan kekuatan itu. Ketika dipaparkan yang terdengar hanyalah tangisan. Ini adalah kesimpulan saya setelah mengikuti forum diskusi ibu dan istri bersama teman-teman kajian filsafat.

Tentu saja melalui daring karena lokasi kami dari Sumatra sampai Maluku. Satu per satu dari kami bercerita tentang kehidupan pernikahan. Ada yang belum siap menikah, karena usia masih muda dan berbagai macam faktor. Namun suami sudah cukup matang usianya dan siap menikah. Setelah menikah langsung hamil, kemudian kaget dengan segala kondisi yang sangat berbeda.

Ada yang tidak diterima oleh keluarga suaminya, mirip dengan saya. Dia yang aslinya dari Jawa ikut suami ke Sulawesi, tak ada saudara dan teman, namun sampai disana malah tidak diterima dengan baik. Bukannya kebahagiaan, tapi malah luka yang ditorehkan. Sudah 9 tahun pernikahannya dan beliau bercerita sambil menangis. Tentu saja, luka tidak akan mudah disembuhkan oleh waktu.

Gus Dur pernah menjawab ketika ditanya tentang orang yang mengkhianati beliau “Memaafkan iya, tapi lupa tidak.” Memaafkan itu mudah, tidak membalas itu mudah, tapi melupakan itu sulit. Saya sendiri tidak pernah berharap diperlakukan dengan baik oleh mertua. Tidak ikut campur dan mengganggu rumah tangga saya itu sudah cukup.

Ada pula yang menikah di usia sangat muda, awalnya mau kuliah tapi diajak nikah dengan janji akan didukung untuk mencapai cita-cita. Sebaliknya, ia tidak dinafkahi, ditinggal setiap hari untuk hal yang tidak jelas, bahkan KDRT. Sementara ia harus mengurus segala pekerjaan rumah bersama bayi dan jahitan operasi yang belum sembuh. Ia bersabar 5 tahun berharap ada secercah harapan, perceraian mejadi solusi ketika tidak ada perubahan.

Ada yang menikah kedua kalinya setelah bercerai. Ada juga permasalahan klasik dengan suami tentang bangun pagi. Ya, sudah bukan rahasia jika tiap pagi kebanyakan istri harus membangunkan suaminya. Ada yang menikah dengan orang yang tidak sama pemikirannya, kurang dewasa dan melibatkan orang tua dalam permasalahan rumah tangga. Orang tua terlibat dan berakhir dengan perceraian.

Perceraian seringkali dianggap sebagai suatu akhir dari perjalanan menyakitkan. Memang banyak perempuan merasa lega dengan keputusan itu, namun ia akan mengalami perjalanan baru. Ya, sebagai single mom, yang harus bekerja menafkahi anak dan dirinya sendiri, mengasuh dan mendidik, berperan sebagai ibu sekaligus ayah. Tentang nafkah ini, tidak sedikit laki-laki yang lari dari tanggung jawab nafkah setelah bercerai. Belum lagi stigma masyarakat tentang janda yang selalu negatif.

Dari forum kemarin kami juga berbagi kisah tentang bagaimana agar janda tidak minder. Padahal harus kita sadari bahwa perempuan adalah makhluk yang sangat dimuliakan Tuhan. Rahim Tuhan hanya ada pada perempuan, surga hanya ada di telapak kaki ibu. Sampai kapanpun laki-laki tidak bisa menyamai status kemuliaan perempuan di hadapan Tuhan.

Sementara, status janda selalu dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Namun juga sasaran empuk para laki-laki yang ingin main-main. Padahal mereka perempuan terhormat, yang memilih bercerai untuk menyelamatkan dirinya dan anaknya.

Kemarin saya mematikan kamera sambil mendengarkan cerita teman-teman. Sebenarnya, saya larut dalam tangisan, betapa sedih dan tercabiknya hati saya ketika mendengar kisah teman-teman. Dan forum yang berlangsung hampir 4 jam via zoom tersebut masih berlanjut di grup chat. Ternyata bukan hanya saya, tapi semuanya menangis. Satu per satu dari kami bercerita, dan merenungi permasalahan satu sama lain.

Dari sini saya berpikir betapa kuatnya seorang perempuan. Mereka harus berjuang dalam rumah tangga, me-manage rumah tangga, mengurus dan mendidik anak. Berhadapan dengan suami yang kadang tidak paham dan tidak bisa menempatkan diri.

Menghadapi mertua yang tidak menerima dengan baik atau kadang ikut campur, mengikuti suami dengan meninggalkan seluruh kehidupan pribadinya. Tetap melakukan seluruh kewajibannya meski  meski fisik dan jiwa lelah serta menangis setiap hari. Dalam kajian kosmologi perempuan, berkali-kali disebutkan bahwa kekuatan perempuan itu terletak pada jiwanya.

Selain kekuatan fisik ketika hamil, melahirkan, dan membersamai anak, kekuatan yang paling besar ada pada jiwanya. Jiwa ini adalah lokus yang mampu menampung seluruh tekanan dari segala sisi. Sebagaimana yang dikatakan Sachiko Murata dalam The Tao of Islam (yang sebagiannya merupakan syarah dari Ibnu Arabi) bahwa perempuan diibaratkan sebagai bumi. Bumi adalah yang menerima, yang memelihara, yang diinjak, menerima dari segala sesuatu yang berasal dari langit.

Sementara sesuatu dari langit ini tidak hanya hujan, badai, dan terik mentari. Masih ada meteor dan asteroid yang bisa menabrak bumi. Di dalam bumi sendiri masih ada gempa, tsunami, dan gunung meletus. Tapi meski diterpa begitu banyak hal, bumi tetap baik-baik saja, tetap memelihara alam ini dengan seimbang.

Begitu pula dengan perempuan yang mampu menampung segala hal yang berasal dari dalam dirinya, anaknya, suaminya maupun dari luar keluarganya. Mertua, orang tua, tetangga, atasan di kantor, dsb. Mereka masih mampu memelihara keseimbangan keluarga meski hati mereka terluka. Kesedihan perempuan adalah kekuatan, tangisan perempuan adalah kebangkitan.

Setelah disakiti, perempuan tidak diam dan menyerah. Mereka bangkit menjadi pribadi yang jauh lebih kuat, bangkit untuk sebuah harapan, sebuah kehidupan dengan imajinasi yang kuat. Mereka akan membenahi diri, membenahi emosi, bekerja lebih baik untuk menjadi manusia yang lebih baik,

Ada yang bangkit dengan mempertahankan keutuhan rumah tangga. Ada yang bangkit dengan berpisah untuk menyelamatkan diri dan anaknya. Ada yang bangkit dengan mengaktualisasikan dirinya. Belajar lebih banyak lagi, ikut berbagai macam komunitas, agar menjadi perempuan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Feminitas atau jiwa perempuan adalah menerima lalu mengaktual. Perempuan sebagai lokus penerima, menerima cinta Tuhan, lalu mengaktualkan cinta itu untuk keluarganya. Perempuan diberi rahim oleh Tuhan untuk mencintai, sesulit apapun, sesakit apapun. Secara fisik, perempuan sudah memiliki manifestasi cinta Tuhan, secara jiwa, perempuan adalah manifestasi Tuhan bagi keluarganya.

***

Comment here