Kartini ; Perempuan Bermukim di Literasi

Judul : Antologi Puisi Kartini ; 50 Puisi Terbaik Sayembara Puisi Kartini

Penulis : 50 Pemenang Sayembara Puisi Kartini Tahun 2021—Perpustakaan Nasional RI

Editor : Edi Wiyono

Cetak : 2021

Penerbit : Perpusnas Press

ISBN : 978-623-313-189-6                               

“Merayakan Kartini adalah merayakan pikiran-pikirannya, membaca dan mengkaji tulisan-tulisannya,  menggunakannya untuk permasalahan hari ini”. Begitu Okky Maddasari menulis dalam Teori Kartini untuk Silicon Valley (Jawa Pos, 18 April 2021). Di setiap 24 April kita selalu diingatkan dengan momentum perayaan agung Raden Ajeng Kartini. Sekadar perayaan pun tak cukup, ia mesti berlanjut ke pemuliaan. Merayakan sesosok Kartini berarti memuliakan segenap yang melekat pada dirinya. Baik kristalisasi gagasannya maupun etos perjuangannya.

Ada ikhtiar kecil terhadap pemuliaan itu. Salah satunya dilakukan Perpustakaan Nasional RI yang menginisiasi sebuah sayembara puisi bertemakan Peran Kartini Masa Kini dalam Meningkatkan Budaya Literasi. Hasrat mengadakan sayembara berpamrih menimba percikan ide-ide Kartini yang bertungkus lumus dengan budaya literasi. Mengapa mesti puisi? Bagi Syarif Bando, Ketua Perpustakaan Nasional RI yang menjadi aktor di balik sayembara ini, puisi menjadi sarana komunikasi berkelanjutan untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran Kartini yang relevan dalam peningkatan budaya literasi masa kini.

Perempuan pemikir bumiputera pertama yang hidup di masa peralihan itu jauh hari telah mendedah jalan keluar atas persoalan pelik yang relevan hingga kini, sebuah persoalan literasi. Kartini ingin mengungkap tabir makna di balik semesta hidup yang kian berjejal dengan kerangkeng tradisi. Maka ia berjibaku dengan kenyataan hidup yang begitu getir. Berulang kali menaja jalan terjal, berduri, dan berbatu demi sebuah tujuan mulia mencerdaskan anak bangsa.

Atma kesungguhan mencerdaskan kehidupan anak bangsa terlihat jelas ketika Habis Gelap, Terbitlah Terang menjadi inspirasi perjuangan kaum perempuan. Sebuah buku monumentalnya yang menjadi suluh di inti perjuangan kaum pribumi, terutama perempuan. Lewat buku itu, gerakan emansipasi didendangkan. Tulisan-tulisannya di kemudian hari menjadi sumber rujukan mengolah pikiran yang perlahan membebaskannya dari belenggu alam pikir Kolonial.

Tulisan Kartini kuat ditopang dengan ibadah mencumbui buku di saban harinya. Buku selalu menjadi teman setia yang mengakrabinya. Pikirannya ingin bebas mengarungi samudera ilmu pengetahuan. Maka ibadah membaca tak boleh ditanggalkan. Ia mesti segera ditunai dengan sungguh-sungguh. / Ketika debu menyelimuti benda berharganya / dibersihkan dan dirawatinya / mungkin tak pernah tersentuh dan semakin lupa / Pikirannya berkecambuk membuat rencana.  

Penggalan puisi “Perempuan dan Buku-bukunya” anggitan Dahliatul Sofyana di atas dengan subtil menafsiri kecintaan Kartini pada laku membaca. Menilik Kartini berarti menautkan sosok perempuan itu dengan buku-buku. Kartini dengan buku-buku juga menjadi bagian dari laku literasi yang patut diteladani kawula muda.  Literasi Kartini telah mengajarkan bahwa membaca itu membuka jendela dunia, membuka diri pada kesempatan. Sedangkan menulis adalah menyusun ide. “Menjadi gagasan yang mendobrak tradisi”, dalam penggalan puisi Literasi Kartini, karya Maorit (Hal-16).

Literasi telah menghantarkan seorang perempuan macam Kartini menerabas sekat-sekat tradisi. Perihal tradisi yang mendudukkan derajat perempuan di bawah hegemoni laki-laki. Kartini membikin sejarah sebuah perjuangan emansipasi melalui literasi. Menulis keresahan hatinya tentang perbedaan hak laki-laki dan perempuan. Dengan kata lain, melalui tulisanlah Kartini mengulik kepekaan jiwanya tentang ketidakadilan yang dirasakan kaum perempuan.    

Kartini Hari ini

Mata air keteladanan Kartini tak akan lekang dihempas zaman. Ia terus abadi di ingatan. Ingatan kepada Kartini akan membawa kita beranjangsana ke masa silam, menyusuri tiap lorong ide dan pemikiran ihwal literasi yang diperjuangkan oleh seorang perempuan. Kita merindukan sebuah investasi nilai-nilai keadaban literasi yang terpacak kuat di segenap kehidupan berbangsa kita. Maka menginternalisasi spirit literasi Kartini ke dalam asas perjuangan perempuan kudu ditilik sebagai sebuah paradigma historis yang menemukan pijakannya dengan kehidupan di masa mendatang.

Kontekstualisasi paradigma historis literasi Kartini di masa lalu akan terus mengumandang menjadi pelajaran berharga. Perempuan hari ini adalah penerus estafet perjuangan Kartini. Sebagaimana Kartini, kaum perempuan hari ini seyogyayanya memiliki kegairahan mengajarkan baca tulis bagi anak-anaknya.  Mengabdikan hidupnya berjuang mengantarkan bacaan-bacaan hingga ke pelosok terpencil pedesaan. Inilah yang berulang kali disuarakan para pemenang sayembara puisi dalam buku.

Dari 46 puisi yang termaktub, secara representatif berusaha mengurai kembali konteks dinamika perjuangan Kartini masa lalu untuk Kartini hari ini. Judul-judul puisi yang merujuk terhadap kelindan perjuangan perempuan hari ini dihubungkan dengan perjuangan Kartini di masa lalu. Nuansa nostalgik sesekali bercampur aduk dengan kemelut riang di tiap bait puisi para pemenang.   

Ada semacam kegelisahan di relung para pemenang sayembara puisi dalam buku. Puisi-puisi mereka banyak menilik dinamika intelektual dan tanggung jawab sosial perempuan mutakhir yang sebagian besar disibukkan mengejar pesolek diri di ruang publik. Seolah menampik nilai-nilai ke-Kartini-an. Mereka justru lebih senang pergi ke pusat perbelanjaan dari pada harus menghabiskan uang ke toko buku. Aktivitas pemenuhan hasrat semacam itu suatu waktu akan terus menihilkan kerja-kerja kreativitas.

Maka serupa adagium Latin Historia Magistra Vitae, mereka ingin perempuan hari ini berguru pada sejarah, sejarah hidup Kartini. Pertautan emosional Kartini dengan dunia literasi tidak hanya sekadar pamrih pemenuhan dimensi intelektual diri, tapi juga selebrasi ke arah pemuliaan adab literasi kita. Literasi yang mengajarkan kepekaan, peka terhadap kondisi sekitar, serta ikut merasakan apa yang orang lain rasakan.     

Dengan demikian glorifikasi nilai-nilai Kartini lewat puisi merupakan ikhtiar sublim merawat ingatan, serta niat menghidupi kembali cahaya literasi yang mulai redup. Pada intinya, secara garis besar puisi-puisi para pemenang sayembara berkelindan di seputar tiga frasa waktu,  “masa lalu” (historisitas Kartini), “hari ini” (peran perempuan kekinian), dan “masa depan” (investasi keadaban literasi). Untuk memulai etos literasi bangsa yang kuat di masa depan, harus dimulai hari ini, tentu dengan memungut inspirasi di masa lalu, inspirasi dari sesosok perempuan yang bermukim di literasi, ibu kita Kartini.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *