Harem dalam Kanvas Seniman Barat

The Slave Market dan Pool in a Harem merupakan dua lukisan populer di mesin google jika ingin mencari informasi terkait dengan dunia harem. Dua lukisan tersebut dilukis oleh seniman orientalis kenamaan Paris, Jean Leon Gerome. Ya, Gerome kerapkali mengangkat objek-objek Timur dalam lukisannya, tak terkecuali tentang perempuan dan kehidupan harem. Kedua lukisan itu sekarang berada di Cincinnati Art Museum, Ohio dan Hermitage Museum, Rusia.

Abad 19 menjadi puncak berkembangnya seni rupa Eropa khususnya seni orientalisme. Hal ini berangkat dari semakin terbukanya kesempatan para pelancong Eropa untuk pergi menjelajah ke kawasan Timur. Banyak hal dalam kehidupan masyarakat Timur yang masuk bidikan kanvas para orientalis, termasuk situasi souk (market), ragam karpet, lampu-lampu, tentara bersurban, kain-kain sutra, dan juga para harem.

Ketertarikan para seniman orientalis terhadap figur harem acapkali dilukiskan dengan postur-postur yang senonoh, bahkan tak jarang diimajinasikan dengan nudity (telanjang). Seperti yang dilukis oleh Gerome yang bertema The Slave Market (1866), dan The Harem (1860) oleh Frederick Lewis. Tak hanya mereka berdua, lukisan bergenre orientalisme memasuki era kepopuleran pada abad ini dan banyak mempengaruhi karya lain terutama bagi murid-murid Gerome.

Fantasi orientalis terhadap kehidupan harem berawal dari tertutupnya ruang harem bagi publik, terlebih oleh para seniman Barat. Hanya beberapa duta besar kenamaan yang diperbolehkan memasuki istana harem, terlebih jika ia perempuan. Seperti catatan tentang harem oleh seorang aristokrat Inggris Lady Mary Montagu yang terangkum dalam Letters from Turkey yang ditulis tahun 1689-1762.

Para seniman Barat mendengar kehidupan harem melalui cerita-cerita rakyat dan para pejabat setempat. Kehidupan perempuan harem sebagai sebuah ruang ‘terlarang’ membuat para orientalis mendefinisikan kehidupan harem menurut perspektif mereka sendiri. Eksotisme, erotisme, dan nudity merupakan unsur-unsur populer yang banyak mewarnai lukisan tentang dunia Timur di Barat yang kemudian membentuk imajinasi tentang perempuan Timur.

Imajinasi perempuan Timur di Barat menjadi sangat bias. Anggapan bahwa perempuan Timur sebagai perempuan tak bermoral dan terbelakang menjadi pandangan umum bagi masyarakat Barat. Perempuan Timur dianggap sebagai ‘alien’ yang hidupnya sangat tergantung dengan pria. Mereka akan mencampakkan perempuan-perempuan itu jika sudah bosan, mereka akan dengan mudah dipoligami, mereka hidup dalam bayang-bayang tuan-nya. Ya, perempuan Timur dianggap sebagai budak belaka yang tak punya harga diri sebagai manusia seutuhnya. Anggapan itulah yang terus menerus disematkan bagi perempuan Timur, tak terkecuali bagi mereka yang ada di harem.

Bagaimanapun bayangan dan imajinasi masyarakat Barat ini tidaklah sepenuhnya nyata dan benar. Dalam beberapa catatan sejarah lain dituliskan bahwa pengalaman para harem justru menjadi sebuah keistimewaan tersendiri bagi perempuan Timur kala itu. Menjadi salah satu penghuni di institusi harem merupakan sebuah priviledge yang banyak diinginkan.

Lady Mary Montagu dalam catatannya memandang bahwa perempuan-perempuan inilah yang justru mendapatkan kebebasan sepenuhnya, tidak seperti wanita-wanita di Eropa saat itu. Perempuan di harem bebas untuk melakukan apa saja dalam istana, mereka juga mendapatkan pendidikan yang sangat maju, bebas bersenda gurau dan menikmati secangkir kopi bahkan hingga larut malam dan juga berbincang tentang apa saja di hamam. Perbincangan para jawari di istana harem sangat kaya, dari politik, sosial, budaya hingga ke sastra. Lady Mary Montagu begitu takjub melihat secara langsung pengalaman para harem yang jauh berbeda dari apa yang dilukiskan para pelancong Barat saat itu. Dari sinilah ia mencatat kehidupan harem dengan perspektif yang sangat berbeda dari orientalis lainnya. Catatan ini kemudian banyak dirujuk oleh sarjana modern terkait dengan kehidupan para harem awal abad 19 di Istanbul.

Namun, dari sekian lukisan tentang harem oleh seniman orientalis, lukisan Edouard Louis Dubufe yang bertema ‘Lady of the Harem’ tahun 1819-1883 merupakan ilustrasi harem dalam kanvas yang paling penulis suka. Dalam lukisan tersebut digambarkan seorang perempuan harem berkulit putih sedang membaca buku dibalut dengan kain mewah dan ditemani secangkir kopi. Lukisan ini membawa pesan yang kuat bahwa perempuan-perempuan harem juga mendapatkan keistimewaan untuk mengarungi luasnya pengetahuan. Ya, buku pada awal abad 19 menjadi barang yang sangat istimewa. Hanya para elite yang bisa mengakses dan membaca buku.

‘Lady of the Harem’ pada akhirnya menjadi semacam pamungkas kekecewaan imajinasi perempuan dalam institusi harem yang terekam dalam kanvas seniman Barat. Ia dilukiskan begitu apik dan menarik.

Artikel ini ditayangkan pertama kali di ALIF.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *