Florentino Ariza adalah Qays Sang Pemuja Layla

Judul               : Cinta Sepanjang Derita Kolera (Terjemahan dari Love In The Time of Cholera)

Penulis             : Gabriel Garcia Marquez

Penerjemah      : Ermelinda

Penerbit           : Amadeo Publishing

Cetakan           : I, 2019

Tebal               :  642 halaman

ISBN               : 978-602-1527-83-2

 

Jika muncul sebuah pertanyaan tentang kisah cinta yang melegenda dalam khazanah kesusastraan, maka jawaban yang tersedia lazimnya hanya ada dua, yakni Romeo-Juliet milik William Shakespeare (sebagai perwakilan dunia Barat) dan Qays-Layla milik Nizami Ganjavi (sebagai perwakilan dunia Timur).

Jika Romeo-Juliet terkenal dengan drama tragedinya, maka Qays-Layla melegenda karena kegilaannya (sehingga diberi judul Layla Majnun). Kegilaan Qays terjadi karena cinta yang terlalu tinggi kepada Layla, hingga setiap hal mengingatkannya pada sang kekasih dan keberadaan dirinya tidak lebih penting dari keberadaan sang kekasih. Kondisi yang dialami Qays agaknya mirip, disebut mirip karena memiliki kesamaan tema, sementara sisanya jauh berbeda dengan keadaan yang diderita oleh Florentino Ariza dalam Love In The Time of Cholera karya Gabriel Garcia Marquez.

 

Love In the Time of Cholera secara garis besar bercerita tentang cinta seorang pemuda bernama Florentina Ariza kepada seorang gadis cantik bernama Fermina Daza mulai dari usia remaja hingga tua renta. Bahkan diceritakan mulai dari Fermina Daza masih sebagai gadis perawan hingga menjadi perempuan tua beranak dua.

Memang benar, cinta adalah kunci yang membuat hidup benar-benar terasa hidup. Senada dengan ungkapan Sujiwo Tejo, bukankah hidup lebih mati jika tanpa cinta? Saking cintanya kepada Fermina Daza, Florentino Ariza pernah melakukan beberapa ‘hal gila’ sebagaimana Qays sang pemuja Layla.

Beberapa di antara kegilaan Florentino Ariza adalah melahap bunga mawar sebab kegembiraannya mendapatkan surat balasan dari sang kekasih, siap merasakan mati lebih dini asalkan demi sang kekasih hati, membeli cermin kuno hanya sebab pantulan sang kekasih pernah terlihat dari cermin tersebut, kebahagiaan yang cukup diperoleh dengan melihat sang kekasih masih ada di dunia, dan masih banyak lainnya yang hanya dapat diketahui dengan membacanya sendiri.

Kegilaan Florentino Ariza melahap bunga mawar terjadi di hari Jumat terakhir bulan Februari. Dan uniknya tulisan ini juga tercipta di bulan Februari ketika Bibi Escolastica mengunjungi tempat Florentino Ariza bekerja dan berpura-pura meninggalkan kitab doa yang di dalamnya terselip sehelai amplop dengan tanda nama kekasih di dalamnya.

Saking gembiranya karena sebuah balasan surat dari sang kekasih, Florentino Ariza menghabiskan sisa sorenya dengan melahap habis bunga mawar dan mengulanginya di tengah malam setiap membaca surat tersebut berulang-ulang. Kegilaannya diungkapkan oleh Gabriel Garcia Marquez lewat kalimat semakin sering dia membacanya, semakin banyak juga mawar yang dimakannya (halaman 124).

Tak cukup hanya dengan menyantap mawar, Florentino Ariza bahkan pernah membeli sebuah cermin antik yang diukir oleh tukang lemari Wina yang dipercayai oleh pemiliknya sebagai bagian dari legenda. Florentino Ariza rela membelinya dengan harga berapapun, bahkan dengan permintaan apapun yang diimpikan oleh pemiliknya.

Padahal alasan Florentino ingin memiliki cermin tersebut adalah karena pantulan sang kekasih yang pernah mengisi cermin tersebut selama dua jam ketika Fermina Daza mengunjungi restoran tempat cermin tersebut berada. Alasan ‘sederhana’ ini diungkapkan oleh Gabriel Garcia Marquez dengan kalimat “Florentino Ariza menggantungkan cermin itu di dalam rumahnya, bukan karena keelokan bingkainya, tapi karena ruang di dalamnya yang selama dua jam telah diisi oleh pantulan kekasihnya” (halaman 421).

Jika kegilaan-kegilaan yang telah disebutkan masih berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, maka Florentino Ariza juga pernah rela dihabisi dengan pistol atas nama cinta kepada Fermina Daza. Kejadian ini terjadi ketika Lorenzo Daza, ayah dari Fermina Daza menyuruh Florentino Ariza untuk menjauhi putrinya. Florentino Ariza menjawab dengan tegas bahwa ia akan melakukannya jika Fermina Daza memang menyetujuinya, karena menyanggupi tanpa seizinnya sama saja dengan mengkhianatinya.

Penolakan Florentino Ariza membuat Lorenzo Daza terpaksa mengancam akan menembaknya jika Florentino Ariza masih kekeh dengan pendiriannya. Akhirnya, dengan penuh keyakinan Florentino Ariza membeli penawaran Lorenzo Daza dengan jawaban seorang pecinta sejati bahwa tak ada yang lebih mulia daripada mati demi cinta (halaman 151).

Cinta memang memiliki jalannya sendiri. Menjauh tak berarti terpisah dan mendekat tak selalu terikat. Selamat menikmati hari-hari penuh cinta lewat sebuah novel setebal kamus yang mampu membuat pembacanya tersenyum tulus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *