EsaiPilihan Redaksi

Emosi dan Derajat: Antara Lelaki dan Perempuan

Ini sekadar pengamatan dan luahan pribadi aku sebagai seorang lelaki. Barangkali ada juga lelaki yang tidak setuju, tetapi jika ada yang bermanfaat, terima dan gilaplah ia.

Sebagai seorang lelaki, aku ketahui bahawa sifat marah dan/atau panas baran itu banyak dimiliki lelaki. Mereka (lelaki) tidak sadar bahwa marah/panas baran adalah emosi juga, dan di anggap sebagai siuman/rasional. Oleh karena itu, mengatakan perempuan sebagai ‘terlalu emosi’ dan ‘ikutkan emosi’ adalah sesuatu yang tidak tepat. Lelaki kerap emosi dan itu membawa dampak terhadap diri sendiri dan orang lain. Bolehlah dikatakan ego adalah emosi paling tertinggi lelaki, yang menimbulkan emosi macho, pantang ditegur, tidak memperbaiki diri, panas baran, marah, dan sebagainya.

Jika ada orang mau menolak kebenaran pahit ini dengan hujah agama bahwa ada ‘hadis’ mengatakan perempuan emosi dan akal lemah. Sebenarnya itu bukan hadis tetapi sebenarnya riwayat palsu rekaan ulama atau pencerita dulu kala yang berjenis kelamin lelaki yang sudah semestinya ada bias atau cenderung sikap sifat ingin mendominasi dan anggap diri tinggi (patriarki)

Dalam riwayat sufi, atau ahli ilmu yang warak dan zuhud, Rabiah Al Adawiyah adalah contohnya. Perempuan yang alimah (berilmu) dan sufi tasawuf tinggi. Dia pernah dilamar oleh ulama atau tabi’ tabi’in yang masyhur tetapi menolak lamaran tersebut. Kisah-kisah Rabiah Al Adawiyah menunjukkan dirinya bukan kelas kedua atau bawah walaupun dirinya perempuan. Dia berkhidmat hidupnya semata-mata demi sesuatu yang lebih tinggi dari menjadi isteri (walaupun laki-laki itu adalah ulama besar sekalipun)

Tidak lupa juga contoh-contoh tidak jauh kerap kita dengar, seperti para pendebat hebat datang dari para perempuan. Di mana, kerap kali lelaki yang emosi dan marah dalam berdebat, lantas coba merendah-rendahkan perempuan dengan berbagai alasan dari sudut biologis maupun agama.

Sungguh laki-laki makhluk emosi, emosinya kadang-kadang merusakkan pemikiran dan kesehatan hubungan kita (laki-laki). Emosi ego atau egoisme membuatkan kita sukar menerima pikiran dari orang lain (sesama lelaki) bahkan apalagi dari perempuan. Justru ego membuat kita (lelaki) tidak merendahkan hati untuk terus belajar dan menjadi perangai lebih elok, dan berperasaan terbuka dan kesalingan.

Sudah tentu, manusia ini setara, dari sudut manusiawi dan agama Islam yang aku pahami. Oleh kerana itu, egoisme yang negatif harus dikawal. Karena tanda-tanda dan sifat toksik maskulin juga ada dalam setiap manusia lelaki maupun perempuan. Karena itu, kesetaraan lelaki dan perempuan harus diwujudkan.

Sudah tentu proses ini bukanlah proses cepat atau ekspress. Memerlukan masa, jangka masa sepanjang hayat. Dan sudah tentu kompleks karena budaya patriarki dan toksik maskulin ini sudah wujud awal manusia lagi. Proses ini penting. Proses untuk mengetahui diri sendiri, emosi dan jasmani serta pikiran. Proses untuk mengawal egoisme dari menjadi liar. Perkara ini penting, lagi-lagi untuk diri lelaki.

Apakah ini bibit feminisme?

Ya.

Tapi apakah kita (lelaki) dan sebagian perempuan paham apakah itu feminisme?

Musuh feminisme bukanlah lelaki, melainkan patriarki, dan patriarki. Patriarki bukanlah bermakna lelaki. Melainkan sistem. Perempuan juga bisa menyokong sistem patriarki sebagaimana lelaki juga bisa menyokong perjuangan untuk menegakkan keadilan gender atau feminisme. Sering kali juga lelaki yang paling ramai menjadi patriarkis dalam keadaan sadar atau tidak maka, untuk menghapuskan sistem patriarki ini adalah bermula dengan lelaki. Lelaki harus self-reflect atau muhasabah diri, mempelajari ilmu feminisme, merendahkan ego dan mengetahui bahawa perempuan bukan objek dan  perempuan adalah subjek atau manusia yang boleh jadi lebih hebat dan bijak daripada lelaki dan mempunyai kapasitas serta kebebasan memilih.

Oleh karana itu, Rabiah Al Adawiyah, ulama perempuan dan sufi perempuan yang agung, tidak mau menjadi hamba kepada lelaki, ibadah dan hidupnya hanya untuk Allah. Baginya semua manusia setara, laki-laki maupun perempuan.

Ini bukan mengajak manusia menjadi jomblo single atau warak tak tentu pasal tetapi tafsirannya adalah bahwa, semua manusia setara, lelaki atau perempuan. Yang superior dan agung hakikatnya Allah.

Maka, antara aku (lelaki) dan perempuan, setara sesama kita. Takwa hanya ditahu oleh Allah yang Maha Tahu.

Comment here