Doa Zakaria Dikabulkan: Tafsir Surah Maryam [19]: 6-8

يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا (6) يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا (7) قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا (8)

 

Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya´qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai” (6). Ya Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan beroleh seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia (7). Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang infertilitas dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua” (8). Tuhan berfirman: “Demikianlah”. Tuhan berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan sesunguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali” (9).

Pada ayat ke 4 dan 5 Zakaria telah melantunkan doanya dengan pelan, dan pada ayat ke-6 ini merupakan penutup doa Zakaria tersebut. Sebelumnya Zakaria telah meminta anak keturunan, pada ayat ke-6 berisi tentang tujuan dan harapan atas kehadiran anak: “…yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya´qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai” (6).

Zakaria memohon agar anak itu kelak dapat menjadi hamba yang taat dan mewarisi keluarga Ya’qub yang merupakan orang-orang berilmu dan mendapat wahyu kenabian, bukan yang mewarisi harta dan kekayaan. Ia juga berharap anak itu kelak berakhlak dan berperilaku baik sehingga dicintai dan diridhai Tuhan, dapat membawa risalah serta mampu menyampaikannya sebagai bentuk syiar agama. Permintaan Zakaria ini memiliki kesamaan redaksi dan materi dengan doanya yang disebutkan dalam surah Ali Imran [3]: 38 dan al-Anbiya [21]: 89.

Lalu mengapa Zakaria mengaitkannya dengan Ya’qub? Karena Zakaria merupakan suami dari bibi Maryam binti Imran, keluarga ini memang selalu dinisbahkan kepada Ali Ya’qub (keluarga Ya’qub). Bahkan karena pewaris laki-laki tunggal, maka Zakaria dilarang untuk pergi dan melakukan perjalanan kemanapun, sebab dialah pewaris hikmah, ilmu, dan nubuwah dari keturunan Ya’qub. Demikan lebih kurang disebutkan oleh Wahbah al-Zuhaili (Tafsir al-Wasith, 1422: 2, 1461).

Zakaria telah membawa nama besar keturunan Ibrahim, yang menurunkan Ishak, kemudian Ya’qub, ia takut bila nasab yang mulia itu terhenti pada dirinya. Sedangkan penisbatan yang ada di dalam doanya kepada keluarga Ya’qub, adalah bentuk kesopanan dan adab (Tafsir al-Sya’rawi, 1997: 15/ 9030). Ia seolah-olah berkata, “aku bukan takut jika aku tidak punya keturunan, tetapi aku takut bila Ya’qub tidak memiliki orang yang mewarisi kenabiannya”. Sungguh bahasa yang amat halus disampaikan Zakaria melalui doanya itu.

Akhirnya Allah menjawab doa Zakaria, “Ya Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan beroleh seorang anak yang namanya Yahya, Ini merupakan mukjizat yang besar dianugerahkan kepada keluarga Zakaria, meskipun dirinya adalah orang yang lanjut usia dan istrinya seorang yang infertilitas, berkat doa-doanya itu akhirnya Allah mengabulkannya.

Fakhruddin al-Razi menerangkan maksud bahwa Yahya “yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia (7).” Penjelasan tentang ini terbagi atas dua pendapat: Pertama, bahwa belum ada seorangpun yang bernama Yahya sebelumnya. Kedua, Yahya dalam pengertian karakter, pendapat ini terbagi menjadi berberapa pendapat. 1). Tidak ada seorangpun yang seperti Yahya, karena ia seorang ahli maksiat, ia memiliki ajaran agama sendiri yang berbeda dengan ajaran Adam, Nuh, Ibrahim, dan Musa, kata al-Razi pendapat ini disepakati tentu tidak benar. 2). Nama Yahya telah diberikan sebelum dia lahir, padahal lumrahnya diberi nama setelah lahir, ini bentuk kekhususan yang tidak dimiliki oleh orang lain. 3). Yahya lahir dari ayah yang sudah lanjut usia dan ibunya seorang yang infertilitas. Pendapat yang pertamalah yang paling tepat menurut al-Razi (Tafsir Mafatih al-Ghaib, 1420: 21: 512).

Zakaria merasa amat takjub dengan doanya yang terkabulkan, di tengah suka citanya bahkan ia sempat bertanya-tanya keheranan. Zakaria bertanya: “Ya Tuhanku, bagaimana akan ada anak bagiku, padahal isteriku adalah seorang yang infertilitas dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sangat tua” (8).

Pertanyaan Zakaria yang terlintas dibibir tersebut dilakukan atas dasar keheranan, bukan atas bentuk ketidakpercayaan. Sebab, kenapa ia mesti tidak percaya? Padahal ia telah bersungguh-sungguh meminta. Itu berarti bahwa Zakaria percaya bahwa pengabulan atas doanya bukan sesuatu yang mustahil. Begitu pula mana mungkin pertanyaan itu menunjukkan ketidakpercayaan? Karena Zakaria merupakan seorang nabi yang hubungannya sangat dekat dengan Tuhan. Bila dia sungguh-sungguh tidak percaya dan ragu, maka runtuhlah keyakinannya sehingga menjadi orang yang ingkar.

Sangatlah mudah bagi Allah untuk mengadakan anak bagi Zakaria, bila Dia menghendaki, maka semua akan terjadi. Jangankan itu, adanya Zakaria-pun murni diciptakan dari tiada menjadi ada, tidak memiliki apa-apa, maka untuk mengadakan putranya Yahya menjadi sesuatu yang lebih mudah. Jadi ini merupakan kekuasaan bagi Allah yang tidak tertandingi, meskipun kondisi istrinya adalah seorang infertilitas (Tafsir al-Wasith, 1422: 2/ 1462).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *